Sabtu, 31 Desember 2011

SELAMAT TINGGAL TAHUN 2011
SELAMAT DATANG TAHUN 2012


SEMOGA KESUKSESAN, KEBAHAGIAAN, 
KEDAMAIAN & KESEJAHTERAAN
SENANTIASA MENYERTAI LANGKAH KITA BERSAMA
DAN SELALU DALAM LINDUNGAN ALLAH SWT

A. CHOLIQ BAYA & FAMILY



Jumat, 23 Desember 2011

Drama Ego Partisan Wakil Rakyat


Oleh: A. Choliq Baya

RAKYAT Situbondo beberapa hari terakhir ini disuguhi tontonan ‘’drama’’ memuakkan yang di-perankan oleh para wakilnya di legislatif. Hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, para anggota dewan yang terhormat itu ‘’terlalu serius’’ dalam menyele-saikan tugasnya membahas APBD 2012. Karena terlalu se-riusnya, kinerja mereka yang dituntut untuk bisa menuntaskan pengesahan APBD 2012 tepat waktu, akhirnya tak pernah bisa direalisasikan. Salah satu faktor molornya pembahasan APBD tak lepas dari adanya ego partisan.

Tontonan ketidakkompakan yang disuguhkan para wakil rakyat itu diawali dengan aksi sejumlah anggota Fraksi Kebangkitan Nasional Ulama (FKNU) bermalam di ruang paripurna gedung DPRD Situbondo. Dengan beralas dan berselimut sarung mereka melewatkan malam di ruangan yang berada di lantai dua kantor DPRD. Mereka melakukan itu semua sebagai bentuk protes dan keprihatinan terhadap sejumlah rekan mereka yang dianggap tidak memiliki komitmen terhadap pengesahan APBD tepat waktu.

Perseteruan terkait pengesahan APBD 2012 terus bergulir. Anggota FKNU dan Fraksi Karya Nurani (FKN) juga memilih memboikot acara work shop yang digelar DPRD Situbondo di Malang lantaran kecewa digelar mendadak. Termasuk, alasan tiga hari menunggu jawaban eksekutif dianggap mengada-ada. Mereka menuding pelaksanaan work shop sama sekali tak mencerminkan nilai-nilai yang memperjuangkan kepentingan masyarakat umum. Sebab, pembahasan APBD 2012 dianggap lebih urgen untuk dituntaskan lebih dulu.

Sebagai bentuk kekecewaannya, anggota FKNU dan FKN yang tidak ikut work shop memilih duduk lesehan di depan pintu masuk gedung DPRD. Mereka berdalih, hal itu dilakukan sebagai simbol jika kepentingan masyarakat kecil seringkali diabaikan sehingga posisinya selalu berada di bawah.

Tontonan tidak lucu yang disuguhkan wakil rakyat Situbondo, tidak berhenti sampai di sini. Aksi saling balas karena ego partisan dan faktor kepentingan politis terus berlanjut seolah ingin menunjukkan kedigdayaannya. Ketika para wakil rakyat dari kubu ‘’oposisi’’ (bukan penyokong bupati terpilih) menunjukkan niat baiknya untuk melanjutkan persidangan, giliran anggota FKNU di Badan Anggaran (Banggar) tak pernah hadir utuh. Puncaknya Sabtu malam (18/12) lalu, hanya ada seorang anggota FKNU yang hadir.

Padahal, tahapan pembahasan KUA PPAS menjadi pertaruhan bagi fraksi-fraksi yang partainya mengusung pemerintah untuk benar-benar memperjuangkan kepentingannya. Kelompok ‘’oposisi’’ (FPP, FKB, FPDIP dan FPD) menuding, kalau PPAS dikritisi lagi, mereka tidak tahu karena tidak hadir. Buntutnya, kelompoknya yang akan dinilai menghambat. Padahal, yang tidak serius adalah mereka.

Episode saling membalas yang menyebabkan pembahasan APBD 2012 tak kunjung tuntas terus dimainkan oleh para wakil rakyat Situbondo. Ketika mereka bersidang Senin malam (19/12), sejumlah anggota fraksi dari kubu ‘’oposisi’’ yang duduk di Badan Anggaran (Banggar) mengancam akan walk out. Penyebabnya sepele. Mereka mengaku sangat kecewa dengan tidak hadirnya Sekda, Hadi Wijono yang juga ketua Tim Anggaran Ekskutif. Kehadiran Wakil Bupati (Wabup) Rachmad tidak cukup mengobati kekecewaan para wakil rakyat. Mereka tetap ngotot agar pembahasan ditunda hingga Sekda bisa hadir.

Rasa kecewa terhadap Hadi Wijono tampaknya bukan hanya karena tidak hadir. Dari sejumlah pendapat yang terlontar di depan forum, mereka juga sangat sakit hati dengan pernyataan Sekda pada awal pembahasan penjelasan PPAS, Jumat (16/12), lalu. Saat itu, Hadi mengajak berhati-hati dalam penggunaan anggaran. Sebab, kegiatan jaring aspirasi masyarakat (jasmas) mendapat perhatian khusus dari kejaksaan. 
 
Keinginan anggota banggar dari FKB, FPDIP, FPP dan FPD untuk memending pembahasan PPAS sebenarnya sudah mendapat perlawanan sengit dari anggota FKN dan FKNU. Termasuk dari Hadi Priono, wakil Ketua DPRD dari FPD. Mereka juga ngotot pembahasan penjelasan PPAS dilanjutkan agar cepat selesai. Persoalan ketidakhadiran Sekda bukan masalah substansial yang harus dibesar-besarkan. Sebab, pembahasan PPAS tidak mensyaratkan kehadiran ketua Tim Anggaran. Namun, Ketua DPRD Zainiye tetap memutuskan menunda rapat lanjutan pembahasan PPAS. Sejumlah pihak yang melakukan interupsi, termasuk wabup tak dihiraukannya.

Drama yang diperankan para anggota dewan dan eksekutif dengan karakter ego kelompok lebih menonjol ini sepertinya masih terus berlanjut. Saya kurang bisa mengerti hati nurani para pemain drama yang jadi wakilnya rakyat itu. Tidakkah mereka menyadari kalau rakyat yang telah memilihnya itu sangat berharap banyak kepentingannya bisa diakomodasi. Salah satunya berharap agar pembangunan di daerah yang dibiayai APBD ini bisa berjalan dengan cepat dan optimal.

Beberapa program pembangunan yang dianggarkan dalam APBD 2012 antara lain pembangunan pasar Asembagus Rp 19 miliar dan pembangunan ruko jalan Jawa yang terbakar Rp 7,5 miliar. Juga program peemberdayaan rakyat miskin seperti jamkeskin sebesar Rp 6 miliar. Termasuk proyek untuk memacu pembangunan di desa melalui program alokasi dana desa (ADD) Rp 14,2 miliar dan tunjangan untuk aparatur desa Rp 13 miliar.

Dengan selalu tertundanya pengesahan APBD di Situbondo yang disebabkan ego partisan wakil rakyat ini, secara otomatis akan memengaruhi jalannya pembangunan. Mengingat, proyek pembangunan juga dibatasi oleh aturan dan waktu. Kalau waktu yang tersedia sangat dekat dengan berakhirnya tahun anggaran, secara otomatis tidak ada rekanan yang berani mengerjakan karena takut kena denda. Akibatnya, anggaran yang sudah diposting di APBD tidak terserap dan harus dikembalikan lagi ke kas daerah. Proyek pembangunan yang sudah disusun pun menjadi sia-sia. Pada akhirnya, masyarakat yang dirugikan.

Padahal, sumber APBD itu salah satunya berasal dari pajak dan retribusi yang dibayar rakyat. Kalau rakyat sudah merasa memenuhi kewajibannya lantas pengelola negeri ini belum merealisasikan program pembangunan, jangan salahkan kalau kemudian rakyat marah dan memboikot bayar pajak. Bahkan, yang lebih ekstrem lagi, kalau melihat perilaku wakilnya di legislatif yang ‘’terlalu serius’’ bermain drama, bisa jadi rakyat apatis. Salah satunya dilampiaskan dengan tidak mau menyalurkan aspirasi politiknya saat pemilu legislatif nanti.

Karena itu, kita berharap kepada anggota dewan yang terhormat untuk menanggalkan ego partisan ataupun kelompok, selanjutnya berpikir untuk membela kepentingan rakyat dan kemajuan daerah. Termasuk, membuang jauh-jauh kebiasaan melakukan kongkalikong bernuansa KKN ataupun deal-deal politik yang lain. Baik itu dengan sesama anggota dewan, eksekutif maupun dengan pihak lain. Semoga kali ini hati nurani anggota dewan benar-benar tersentuh dan mau berpihak pada kepentingan rakyat. (cho@jawapos.co.id)

Selasa, 20 Desember 2011

Promosi di Media Berkelas


Oleh: A. Choliq Baya

BEBERAPA hari terakhir ini, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas terlihat sering me-mamerkan beberapa majalah dan buku yang memuat tentang seni budaya, tempat wisata dan be-berapa even khas yang digelar di Banyuwangi. Terutama kepada para tamu, kolega, teman maupun para undangan saat ia meng-hadiri sebuah acara. Beberapa media cetak yang dipamerkan itu sebagian besar milik operator maskapai penerbangan seperti majalah Merpati, Garuda dan Lionmag. Tak ketinggalan buku Pelangi Budaya Banyuwangi terbitan JP Books yang berisi berbagai tradisi budaya masyarakat Banyuwangi juga ikut dikenalkan dan diberikan kepada para koleganya.

Anas merasa bangga beberapa potensi wisata dan seni budaya Banyuwangi bisa diliput dan ditampilkan di media berkelas. Di antaranya liputan wisata kawah gunung Ijen yang konon view-nya paling eksotik di dunia dan pantai Plengkung yang juga menjadi surganya para peselancar dunia. Ada pula liputan tari Jejer Gandrung dengan disertai foto-foto cantik para penarinya. Juga ada liputan khusus sosok Setiawan Subekti, ahli kopi internasional yang juga pemilik Sanggar Genjah Arum di Desa Wisata Kemiren Kecamatan Glagah.

Satu lagi yang paling mencolok dan mendapat porsi liputan cukup panjang adalah even Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang digelar pada 22 Oktober 2011 lalu. Bahkan, majalah Merpati dan Lionmag menjadikan foto-foto terbagus dari even BEC itu sebagai cover halaman depan. Di dalamnya juga ada liputan khusus sampai tiga halaman dengan foto-foto full colour, cukup menggugah selera pembaca. Apalagi, penampilan peserta berikut kemasan even BEC yang baru pertama kali digelar itu jelasnya tak kalah dengan even serupa yang digelar di beberapa daerah, termasuk di luar negeri.

Selain itu, majalah Garuda yang terbit dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, selama lima edisi juga menyajikan liputan potensi wisata alam dan budaya Banyuwangi. Hal ini tentu sangat menguntungkan, sebab majalah yang selalu tersedia di balik kursi pesawat Garuda dan beberapa hotel berbintang ini bisa menjaring para turis untuk datang ke bumi Blambangan. Apalagi, maskapai penerbangan plat merah ini cukup banyak melayani rute penerbangan ke luar negeri. Ini berarti, potensi wisata Banyuwangi yang dimuat di majalah itu juga akan dibaca oleh para penumpang Garuda dari berbagai bangsa. 
 
Bupati Anas di beberapa kesempatan mengakui, kalau dia memang punya keinginan besar untuk mengangkat potensi Banyuwangi agar bisa segera go international alias cepat dikenal ke seluruh jagat. Dengan begitu, harapannya akan banyak investor dan wisatawan dalam negeri maupun luar negeri yang datang untuk membelanjakan maupun menanamkan uangnya ke bumi berjuluk the sun rise of Java. Hal ini juga diharapkan bisa mendongkrak pendapatan daerah maupun kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, tak heran kalau bupati yang baru menjabat satu tahun dua bulan ini sangat peduli dengan yang namanya promosi potensi daerah maupun program-program kerjanya melalui media massa. Tentu tidak hanya media cetak dan elektronik saja yang dijadikan sasaran untuk menyosialisasikan segala sesuatu yang bisa mendongkrak kemajuan Banyuwangi, tapi juga media online. Ia menjadi sangat rewel, bahkan marah besar manakala melihat website milik Pemkab Banyuwangi atau SKPD yang berada dalam naungannya terlihat tidak menarik.

Di samping itu, untuk mengenalkan potensi Banyuwangi ke luar daerah, bupati beserta jajarannya juga seringkali menggelar beberapa even besar dan agak unik. Seperti menggelar fam trip dengan para pelaku wisata dan wartawan, menggelar BEC, nyapu bareng dengan areal terpanjang (107 km), menyangrai kopi dengan peserta terbanyak (240 orang), keduanya tercatat dalam Museum rekor Indonesia (MURI), dan masih banyak lagi. Semua itu dimaksudkan untuk mengangkat nama Banyuwangi agar semakin dikenal di luar.

Dengan menggelar kegiatan-kegiatan besar dan unik, biasanya media massa tertarik untuk meliputnya. Kalau sudah diberitakan di media massa, tentu dampaknya cukup besar. Apalagi, bila beritanya muncul di media online, orang dari seluruh penjuru dunia pun akan bisa membacanya. Bahkan, kalau mereka masih penasaran dengan potensi yang dimiliki Banyuwangi, mereka bisa browsing di internet untuk mendapatkan informasi seperti yang diharapkan. Dampak seperti inilah yang diharapkan oleh bupati.

Meski apa yang dilakukan sudah mulai membuahkan hasil, masih ada masalah yang perlu mendapat solusi secepatnya. Terutama terkait dengan sarana maupun infrastruktur penunjang agar tamu yang datang ke Banyuwangi tidak kecewa. Sebab, ada kasus menarik yang diceritakan seorang teman terkait dengan kekecewaan yang dialami turis. Turis itu datang ke Banyuwangi dengan tujuan ingin mendaki ke kawah Ijen. Dengan berbekal informasi dari internet dan buku panduan wisata, ternyata ia tidak mendapatkan kendaraan angkutan dari terminal menuju ke Licin ataupun Paltuding (pintu masuk ke Gunung Ijen) sebagaimana tertera dalam buku panduan. Ini berarti info di dalam buku panduan wisata tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini sangat menyesatkan para turis dan bisa merusak reputasi Banyuwangi yang sudah dibangun dengan susah payah.

Belum lagi masalah lain yang juga bisa menjadi penghambat para turis maupun investor datang ke sini. Di antaranya jadwal penerbangan dari dan ke Banyuwangi yang belum bisa terlayani setiap hari, bahkan jam keberangkatan dan kedatangan pesawat masih sering berubah-ubah. Infrastruktur jalan menuju ke beberapa lokasi wisata masih banyak yang rusak. Belum terlihat kemajuan yang signifikan adanya paket wisata ke Banyuwangi yang dibuat oleh travel agent. Termasuk, belum ada kesatuan pandang di antara travel agent untuk mempromosikan tempat wisata di Banyuwangi. Sehingga, promosi yang telah dibangun melalui media massa maupun beberapa even unik kurang mendapatkan hasil optimal.

Karena itu, segala upaya yang telah dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi hendaknya ditindaklanjuti dengan sungguh-sungguh dan tidak berhenti sampai di sini saja. Misalnya, kalau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dulu pernah mengajak fam trip beberapa travel agent yang ada di Surabaya, Malang dan Bali mengunjungi obyek wisata di Banyuwangi, hendaknya terus diajak komunikasi. Terutama terkait dengan pembuatan paket wisata ke Banyuwangi. Segala kebutuhan yang bisa mendukung terwujudnya paket perjalanan wisata ke Banyuwang perlu mendapat perhatian serius.

Salah satu agenda yang dulu pernah dijanjikan bupati agar wisata di Banyuwangi bisa bersinergi dengan pariwisata Bali, menggelar even Banyuwangi Night di Bali. Di even itu Pemkab Banyuwangi bisa mengundang sekitar 325 travel agent wisata yang memiliki jaringan ke seluruh dunia. Tujuannya, terjadi connecting di antara travel agent maupun pelaku wisata lain untuk membuat paket wisata sekaligus mempromosikan tempat-tempat wisata di Banyuwangi. Sayangnya, sudah hampir setahun janji itu belum direalisir.

Harapan kita, segala bentuk promosi yang telah dicanangkan untuk mendongkrak potensi yang ada di Banyuwangi hendaknya juga diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan perangkat penunjang yang memadai. Jangan sampai promosinya sudah tancap gas, tapi potensi yang ditawarkan malah belum sempat dibenahi atau belum siap menyambut para tamunya dengan servis memuaskan. Semoga hal ini tidak terjadi lagi. (cho@jawapos.co.id)

Jumat, 09 Desember 2011

Nyapu Bareng



Oleh A. Choliq Baya

HARI ini (9/12/11) jalan poros nasional yang melintasi Kabupaten Banyuwangi mulai Wongsorejo sampai Kalibaru bakal dipenuhi puluhan ribu warga. Mereka ikut menyukseskan program ‘’nyapu bareng’’ yang akan dicatatkan dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Warga yang dikerahkan turun ke jalan dengan membawa sapu tersebut berasal dari berbagai elemen masyarakat, mulai pelajar, mahasiswa, guru, perangkat desa, polisi, tentara, buruh perkebunan, karyawan swasta, hingga pegawai negeri sipil. Para relawan yang menjadi tukang sapu itu akan membersihkan jalan selama satu jam, mulai pukul 06.00 sampai 07.00.

Hasil rapat koordinasi panitia yang dikoordinatori Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) bersama para camat Rabu kemarin (7/12), jumlah peserta ‘’nyapu bareng’’ terus bertambah. Semula yang didaftarkan oleh camat ke panitia tercatat 93.599 peserta. Tetapi, dalam rapat koordinasi terakhir di Pemkab Banyuwangi dua hari lalu, jumlah peserta meningkat menjadi 100.000 lebih. Panitia belum bisa memastikan angka riil-nya karena beberapa kecamatan ada yang belum bisa menentukan jumlah peserta secara pasti alias masih perkiraan. Bahkan, beberapa camat mengatakan, jumlah para peserta masih bisa bertambah lagi.

Apa yang disampaikan para camat itu semoga tidak sekadar lips service, apalagi hanya laporan asal bapak senang (ABS). Tentu manusia sebanyak itu harus ‘’mempersenjatai’’ diri dengan sapu. Sepertinya itu yang kurang dipertimbangkan. Sebab, para camat lebih terfokus mengkoordinasi para peserta sebanyak mungkin, sedangkan peralatan yang diperlukan lebih banyak dibebankan kepada masing-masing peserta. Hanya satu camat yang melaporkan telah menyiapkan sapu untuk peserta, meski tidak semua.
 
Lantaran yang akan dicatatkan dalam MURI ini merupakan ‘’nyapu bareng’’ dengan rekor peserta terbanyak dan terpanjang, seharusnya juga ada aturan main lebih detail yang harus disampaikan kepada para peserta. Saya sendiri kurang tahu secara detail aturan main yang disyaratkan MURI untuk pemecahan rekor ‘’nyapu bareng’’ dengan peserta terbanyak dan areal terpanjang. Misalnya, apakah rangkaian peserta ‘’nyapu bareng’’ di sepanjang jalan yang telah ditentukan itu tidak boleh terputus? Berapa jarak penyapu satu dan penyapu yang lain? Apakah juga diperbolehkan peserta membawa alat kebersihan selain sapu? Dan lain sebagainya.

Informasi yang kami peroleh di website MURI, ada dua even menyapu massal terkait pemecahan rekor yang pernah dicatatkan MURI. Pertama, menyapu jalan sepanjang 11 km secara serentak yang diikuti 1.000 peserta di Kota Jambi. Kedua, menyapu serentak dengan peserta terbanyak, yaitu 22.926 orang di Kota Metro, Lampung. Kedua rekor menyapu jalan terpanjang dan menyapu dengan peserta terbanyak itu berlangsung pada tahun 2006 dan 2008. 

Sejatinya, dalam rangka menyambut hari jadi ke-240 ini, Kabupaten Banyuwangi ingin memecahkan kedua rekor yang sudah ada tersebut. Saat ini sudah terdaftar sebanyak 100.000 peserta lebih, dengan jalan yang bakal disapu sepanjang 291,8 km. Hanya saja, saya belum dapat informasi detail apakah panjang jalan atau jumlah peserta sebanyak itu semua bakal dicatatkan dalam MURI? 

Sebab, jumlah peserta yang dilaporkan para camat tersebut merupakan akumulasi peserta “nyapu bareng” dan ‘’rijig-rijig kampung’’. Sementara itu, yang bakal dicatatkan di MURI, konon hanya peserta yang ikut menyapu di jalan poros nasional. Mengenai berapa jumlah peserta dan panjang jalan yang valid, sepertinya pihak MURI harus mengerahkan banyak tenaga untuk meninjau lapangan mulai Wongsorejo hingga Kalibaru. Kalau tak ingin bersusah payah alias pilih enaknya, cukup mengandalkan laporan panitia saja, meskipun hasilnya bisa jadi lebih banyak klaim sepihak. (Hasil akhir yang dicatatkan di MURI ternyata hanya rekor ‘’nyapu bareng’’ dengan areal terpanjang, yakni 107 km)

Secara teknis, panitia akan memulai kampanye nyapu bareng pada pukul 06.00 dipimpin Bupati Azwar Anas bersama Forum Pimpinan Daerah (Formida) Banyuwngi di depan kantor pemkab dan diikuti seluruh peserta yang tersebar di 24 kecamatan. Acara dimulai dengan pemukulan kentongan oleh bupati yang disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun radio. Saat “nyapu bareng berlangsung, warga dan panitia lokal diminta memutar musik untuk menyemangati para peserta.

Gerakan ‘’nyapu bareng’’ ini patut diapresiasi bersama meski realisasinya bisa jadi banyak pihak yang merasa terganggu dan dirugikan. Para pengguna jalan raya yang sedang melintas pasti tidak bisa sampai tujuan dengan cepat. Demikian pula dengan peserta ‘’nyapu bareng’’ yang berasal dari kalangan pelajar yang hari ini sedang mengikuti ujian semester, bisa jadi konsentrasinya terpecah. Sebab, dia harus berangkat lebih pagi sekaligus harus menyiapkan dan membawa sapu ke sekolah. Belum lagi kalau lokasi ‘’nyapu bareng’’-nya agak jauh dari sekolah.

Meski demikian, harapan kita semua, kampanye ‘’nyapu bareng’’ ini bisa menggugah kepedulian seluruh elemen masyarakat untuk menyukseskan program Banyuwangi Green and Clean sekaligus mendukung Gerakan Nasional Indonesia Bersih yang dicanangkan presiden RI. Kita tidak ingin Kota Banyuwangi menjadi lautan sampah lagi seperti tahun 2010 kemarin hingga mendapat predikat sebagai kota terkotor di Jawa Timur. Apalagi, beberapa waktu lalu, Banyuwangi mendapat penghargaan dari Pemprov Jatim sebagai juara kedua program Menuju Indonesia Hijau.

Tentu untuk mewujudkan dan mempertahankan prestasi yang sudah ada itu, pemerintah dan masyarakat Banyuwangi tidak boleh puas sampai di sini. Apalagi, beberapa program kebersihan lingkungan dalam rangka mewujudkan Banyuwangi green and clean banyak yang belum terealisasi. Terutama, terkait sistem manajemen dan tempat pengolahan sampah yang belum dimiliki kota ini. Selain itu, Banyuwangi juga belum memiliki kader-kader lingkungan hingga tingkat RT/RW. Padahal, merekalah yang diharapkan menjadi penggerak warga agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. 

Kita berharap, ‘’nyapu bareng’’ ini tidak hanya membersihkan lingkungan Banyuwangi secara fisik, tapi juga bisa membersihkan mental-spiritual warga dan aparat pemerintah. Khususnya dalam membersihkan praktik-praktik kotor di birokrasi dan instansi pelayanan publik, seperti maraknya pungutan liar (pungli) yang kini semakin membudaya. Tanpa komitmen perilaku bersih dari kita semua, jangan harap pembangunan daerah ini akan diberkahi Allah. Pasti, akan ada saja masalah, cobaan, dan bencana, yang diberikan oleh-Nya. 

Semoga para pimpinan di negeri ini juga memiliki komitmen tinggi dalam membersihkan mental-spiritual para aparat yang bobrok. Lebih bersyukur lagi manakala direalisasikan dengan menggelar program kampanye ‘’sikat bersih’’ pungli untuk meningkatkan kewibawaan aparat negara. (cho@jawapos.co.id)

Jumat, 02 Desember 2011

Kopi sebagai Ikon Banyuwangi


Oleh: A. Choliq Baya

HARI Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-240 bakal dijadikan pengungkit untuk ‘’mendeklarasikan’’ Bumi Blambangan sebagai kota kopi. Salah satunya dengan menggelar festival sangrai kopi tradisional. Gelar sangrai kopi tradisional bertema ”Sekali Seduh, Kita Bersaudara” ini akan melibatkan 240 peserta. Agar gebyarnya lebih menasional dan bersejarah, panitia akan mengundang Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk mencatat pemecahan rekor sangrai kopi dengan peserta terbanyak.

Pengajuan pencatatan rekor sangrai kopi itu sudah diajukan panitia Harjaba ke MURI. Bahkan, pihak Muri sudah mengirim surat balasan. Isinya, dewan pertimbangan MURI sudah menggelar rapat. Hasilnya, MURI menerima usul pemecahan rekor sangrai kopi dengan peserta terbanyak yang akan dilakukan di bumi berjuluk the Sunrise of Java pada Sabtu 10 Desember 2012 mendatang, tepatnya di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Area yang digunakan adalah sepanjang 500 meter.

Jumlah penyangrai direncanakan menyesuaikan usia Banyuwangi, yakni 240 orang. Mereka adalah utusan dari 24 kecamatan dengan melibatkan anggota PKK, Dharma Wanita, pemilik warung kopi, dan masyarakat umum. Agar tampil lebih meyakinkan, calon peserta diikutkan diklat singkat menyangrai kopi dan olahan jajan berbahan dasar kopi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Rabu lalu (30/11). Mereka diajari teori dan praktik sangrai kopi yang benar guna menghasilkan cita rasa yang optimal.

Itu adalah sekelumit persiapan festival sangrai kopi tradisional dalam rangka memperkenalkan Banyuwangi sebagai kota kopi kepada masyarakat luas. Upaya menjadikan Banyuwangi sebagai kota kopi memang cukup beralasan. Sebab, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini adalah penghasil kopi yang  sangat besar, tapi belum banyak dikenal masyarakat. Padahal, dengan mendapat julukan sebagai kota kopi, bisa memotivasi masyarakat untuk bangkit dan mandiri menggapai kesejahteraan melalui potensi yang dimiliki.

Selama ini, hasil kopi beberapa perkebunan di Banyuwangi lebih banyak dijual dalam bentuk biji mentah ke beberapa pabrik kopi di Tanah Air. Sebagian lagi diekspor ke mancanegara, baik jenis robusta, arabika, maupun kopi luwak yang harga per kilogramnya bisa mencapai Rp 2 juta. Lantaran dijual tanpa merek dagang, popularitas nama Banyuwangi tidak banyak terangkat.

Apalagi, daerah di Jatim yang merupakan salah satu penghasil kopi di Indonesia tidak hanya Banyuwangi. Masih banyak daerah lain yang juga penghasil kopi andalan, seperti Malang, Jember, Bondowoso, Lumajang, dan Pasuruan. Oleh karena itu, harus ada produk berbeda yang memiliki kekhasan tersendiri agar bisa mendongkrak Banyuwangi sebagai kota kopi.

Meski demikian, saya tetap optimistis bahwa kopi bisa dijadikan ikon Banyuwangi. Selain menjadi komoditas hasil perkebunan yang bisa diandalkan, beberapa pihak mengakui kopi Banyuwangi memiliki kualitas, cita rasa, dan aroma khas. Itu bisa saya ketahui dari beberapa pengusaha cafe asal Jepang dan Korea yang sering datang ke perkebunan Selogiri untuk melihat secara langsung panen kopi dan proses pengolahannya hingga siap jual. Di situ mereka mencoba dan menikmati secara langsung kopi murni hasil perkebunan Selogiri.

Beberapa perkebunan kopi di Banyuwangi, baik milik pemerintah maupun swasta, sebagian memiliki mesin pengolah kopi. Mesin itu akan mengupas kulit kopi yang baru saja dipanen hingga dikeringkan menjadi biji kopi yang siap disangrai. Di situ biasanya juga ada laboratorium untuk mengetes cita rasa kopi yang siap dijual ke pabrik, supermarket, dan pengusaha cafe. Saya pernah disuruh mencoba merasakan beberapa jenis kopi murni di perkebunan Selogiri. Sayangnya, karena saya bukan penggemar kopi, saya tidak bisa membedakan rasanya. Tetapi, aromanya sangat terasa dan cukup membangkitkan ‘’gairah’’.

Sayangnya, tidak ada pengusaha besar yang memproduksi dan menjual kopi setengah matang dan siap seduh produk khas Banyuwangi. Toh pun ada, seperti kopi Rollass produksi PT. Perkebunan XII, kopinya tidak hanya dari Banyuwangi tapi dari beberapa daerah penghasil kopi di wilayahnya. Kalau ada pabrik kopi yang bisa memproduksi hasil perkebunan kopi di sini dengan cita rasa khas, pasti akan bisa mengangkat daerah ini sebagai kota kopi.

Bandingkan saja dengan beberapa negara yang bukan penghasil kopi tapi cukup dikenal karena memiliki teknologi pengolah kopi, termasuk strategi pemasaran kopi ke mancanegara. Misalnya, Amerika Serikat dengan kopi Starbuck-nya yang sudah ‘’menjajah’’ seluruh dunia, termasuk Indonesia. Padahal, negara adikuasa itu bukan penghasil kopi. Mereka justru mengimpor kopi dari beberapa negara lain penghasil kopi, seperti Brazil, Vietnam, Meksiko, dan Indonesia.

Demikian pula dengan Swiss yang memiliki produk kopi berkelas dengan cita rasa tinggi bernama Nespresso. Nespresso yang pabriknya hanya mempunyai 400 karyawan, setiap tahun menghasilkan devisa untuk Swiss hampir USD 9.5 miliar. Nespresso sebenarnya hasil riset dan kejelian mempelajari kualitas kopi. Mereka belajar dari proses kopi luwak di Indonesia, yakni hanya memilih biji kopi yang benar-benar masak di pohon sebagaimana luwak (musang) memilih kopi untuk dimakan. Mereka mengimpor biji kopi pilihan itu dari Indonesia, terutama dari daerah sekitar Danau Toba, Sumatera Utara.

Konon, harga secangkir Nespresso hanya sepersepuluh kopi Starbuck dengan rasa yang tidak kalah nikmatnya. Kabarnya, di Swiss dan beberapa negara banyak yang antre untuk bisa membuka kedai kopi Nespresso. Untuk bisa menikmati kopi itu, orang Indonesia harus membeli ke Singapura karena di sini belum ada. Mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumen karena suplai kopi berkualitas itu masih kurang dibanding permintaan pasar.

Coba di daerah Banyuwangi yang merupakan penghasil kopi bisa menghasilkan produk andalan yang sudah diolah seperti Sturbuck atau Nespresso, paling tidak mendongkrak popularitas Banyuwangi sebagai kota kopi. Tentu tidak hanya faktor itu penentunya. Seharusnya perlu upaya lain untuk mendorong daerah ini sebagai kota kopi, seperti membuat monumen buah atau bunga kopi di tempat-tempat strategis untuk melambangkan sebagai daerah penghasil kopi. Juga harus banyak menciptakan diversifikasi usaha dalam bentuk produk makanan atau minuman olahan berbahan dasar kopi.

Semoga upaya menjadikan kopi sebagai ikon Banyuwangi tidak hanya melalui festival sangrai kopi, tapi harus ditindaklanjuti dengan upaya lain. Terutama, yang membawa misi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui potensi kopi yang dimiliki Banyuwangi. (cho@jawapos.co.id)