Kamis, 28 Juni 2012

Pengelola Car Free Day Makin Memble


Oleh: A. Choliq Baya

SUDAH hampir setahun ini program car free day (CFD) di Bumi Blambangan berjalan. Tepatnya, yang dipusatkan di sepanjang Jl Ahmad Yani, mulai dari simpang lima hingga simpang tiga kantor DPRD Banyuwangi. Setiap hari Minggu, sepanjang jalan protokol itu ditutup untuk kendaraan bermotor mulai pukul 05.00 hingga 09.00. Harapannya, di hari minggu itu tidak ada asap beterbangan maupun bunyi bising kendaraan bermotor yang sepanjang hari biasanya kita rasakan. Itulah misi dari digelarnya program CFD.

Dengan demikian, warga kota Banyuwangi dan sekitarnya bisa memanfaatkan sepanjang jalan itu untuk aktvitas santai. Apakah ikut olah raga senam yang digelar secara rutin di depan kantor Pemkab Banyuwangi, jalan-jalan santai bersama keluarga, bersepeda, main sepak bola, skateboard, sepatu roda ataupun main badminton. Bisa juga menikmati buku bacaan di perpustakaan keliling yang mangkal di situ, melihat penampilan seni budaya yang kadang-kadang tampil, hunting kuliner, ataupun mengikuti beberapa agenda acara yang digelar di sana.

Meski sudah berjalan hampir setahun, ternyata suasana dan ‘’warna’’ yang muncul di CFD hanya begitu-begitu saja. Belum bisa menjadi daya tarik khusus, apalagi sampai menjadi ikon yang bisa dibanggakan. Karena itu, Pemkab Banyuwangi pun pernah membahasnya secara khusus bersama instansi-instansi terkait untuk meramaikan program CFD. Sampai-sampai setiap minggu harus dijadwal, instansi mana saja yang harus berpartisipasi meramaikan CFD. Alhasil, arena CFD banyak dipenuhi pelajar, khususnya dari sekolah-sekolah terdekat yang kebagian meramaikan aktivitas di jalan bebas polusi asap dan suara bising mesin kendaraan.

Tak hanya itu, pasca adanya rapat koordinasi, setiap minggu biasanya ada instansi, khususnya dari perbankan, yang menggelar program di arena CFD. Seiring perjalanan waktu, kondisinya terus meredup kecuali kalau secara kebetulan ada instansi yang menggelar acara di sana. Seperti saat ada even Endog-endogan dan Gerakan Membaca Menuju Banyuwangi Cerdas yang digelar Radar Banyuwangi, serta Lomba Mewarnai Batik yang digelar Disperindag.

Meredupnya pamor CFD salah satunya karena di arena itu tak ada sesuatu terbaru yang bisa menarik perhatian warga untuk datang ke situ. Seperti minimnya even, minimnya penjual makanan maupun barang-barang khas yang lain. Di satu sisi, instansi pengelola atau yang ditunjuk sebagai leading sector tidak pernah melakukan terobosan ataupun gebrakan apa-apa alias jalan di tempat. Bahkan, untuk koordinasi dengan instansi terkait, khususnya SKPD, seringkali tidak dihiraukan.

Beberapa waktu lalu, Bupati Banyuwangi sempat meminta Radar Banyuwangi untuk ikut berpartisipasi secara langsung meramaikan CFD. Setelah berkoordinasi dengan beberapa pihak, termasuk juga mengajak mitra yang lain seperti dari Radio Vis FM dan JTV Banyuwangi, akhirnya sepakat bergabung dengan menggelar even setiap minggu. Meski belum ada sponsor, Radar Banyuwangi, berusaha untuk komit untuk membantu menyemarakkan agenda CFD walaupun dengan pesiapan agak mendadak.

Selain membuka stan di lokasi, juga menggelar beberapa even seperti lomba menggambar dan lomba foto. Termasuk juga meramaikan dengan permainan lucu berhadiah merchandise untuk menyegarkan suasana yang dipandu beberapa penyiar dari radio Vis FM. Meski belum ada sponsor, ditambah harus menyediakan halaman khusus untuk beritanya, program membantu menyemarakkan CFD itu tetap dijalankan Radar Banyuwangi yang rencana berlangsung selama Sembilan minggu.

Langkah awal yang dimulai pada Minggu, 17 Juni 2012 itu cukup menarik banyak pihak. Selain dihadiri bupati dan wakil bupati, hampir seluruh kepala SKPD juga hadir. Bahkan, setelah mengikuti senam, para birokrat Pemkab Banyuwangi masih sempat tanding sepak bola melawan karyawan Radar Banyuwangi. Selain itu, di arena CFD juga ada empat tenda yang diisi oleh wakil tiga kelurahan di bawah koordinasi Camat Banyuwangi. Mereka berjualan makanan, kue dan minuman untuk memenuhi selera pengunjung yang ingin mendapatkan asupan makanan setelah berolah raga atau refreshing.

Beberapa pejabat Pemkab Banyuwangi dan jajaran SKPD berjanji ikut meramaikan CFD minggu depannya. Termasuk, akan memanfaatkan CFD sebagai sarana sosialisasi program yang ada di instansinya. Juga, akan mengerahkan patnernya untuk promosi maupun menjual produknya di CFD. Apakah itu jualan tanaman hias, aneka satwa piaraan, kain batik, souvenir, menampilkan seni budaya, dan lain sebaginya. Sayangnya, ‘’angin surga’’ itu hanya omong kosong. Mungkin karena saat itu ada bupati, sehingga dengan mudahnya keluar ‘’janji manis’’ dengan tujuan asal bapak senang (ABS) alias cari muka.

Faktanya, dalam arena CFD hari Minggu kemarin, peran instansi pendukung makin merosot. Tenda putih baru milik Pemkab Banyuwangi yang sebelumnya ikut mewarnai dan dijanjikan jumlahnya lebih banyak pada minggu kemarin, justru tak tampak lagi. Akibatnya, tiga kelurahan yang berjualan dan dagangannya habis lebih pagi dari minggu sebelumnya itu tanpa tenda. Begitu pula stan Radar Banyuwangi, yang kemarin tanpa membawa tenda sendiri karena sudah dijanjikan memakai tendanya pemkab, juga tampil seadanya.

Tak hanya itu, bukti-bukti semakin melemahnya peran instansi yang ditugasi mengelola CFD juga makin terlihat ketidakkonsistenannya. Pada Minggu sebelumnya, pasca bupati dan para kepala SKPD meninggalkan arena CFD, Jl Ahmad Yani sudah langsung dibuka untuk kendaraan bermotor. Padahal, saat itu baru menunjukkan pukul 08.25 WIB alias belum waktunya dibuka. Kemarin lebih parah lagi, kendaraan bermotor yang berseliweran di arena CFD jauh lebih banyak. Tidak hanya sepeda motor, tapi juga ada beberapa mobil pribadi yang dibiarkan lewat di jalan bebas asap itu.

Para petugas Dishub sepertinya sengaja membiarkannya. Mereka tidak menunjukkan sikap yang tegas sama sekali. Seharusnya, aturan mainnya semua kendaraan bermotor dilarang masuk ke lokasi CFD. Apalagi, di sekitar Jl Ahmad Yani banyak jalan alternatif yang bisa dimanfaatkan para pengendara. Artinya, penutupan Jl Ahmad Yani sebagai arena CFD tidak terlalu mengganggu, sehingga tidak ada alasan bagi petugas Dishub untuk membiarkannya lolos.  

Kalau aparat penegak aturannya saja sudah kendur, tak punya ketegasan, bahkan beberapa dari mereka sudah meninggalkan tugas sebelum waktunya, bagaimana sebuah program bisa jalan. Rasanya dukungan dari elemen masyarakat akan menjadi percuma manakala instansi pengelola tak berbenah diri. Termasuk, bila di jajaran instansi pemerintah sendiri tidak ada kekompakan untuk menyemarakkan CFD. Sebab, yang diperlukan bukan lips service tapi komitmen dan karya nyata. (cho@jawapos.co.id)

Senin, 11 Juni 2012

Selamat Datang Industrialisasi

Oleh: A. Choliq Baya

BUMI Blambangan Banyuwangi semakin jadi prhmadona bagi para investor. Meski letaknya berada di ujung timur Pulau Jawa dan jauh dari ibu kota provinsi, tapi tak mengurangi minat investor untuk menanamkan modalnya di daerah ini. Terutama sejak bumi berjuluk The Sunrise of Java ini berhasil mendatangkan operator penerbangan untuk beroperasi di Bandara Blimbingsari pada Desember 2010 lalu. Di samping itu juga ditunjang oleh kondisi alam yang cukup strategis dan menguntungkan. Seperti adanya pelabuhan laut yang memiliki kedalaman hingga 15 meter sehingga bisa disandari kapal-kapal dengan bobot tonase cukup besar.

Bandara dan pelabuhan merupakan elemen terpenting bagi dunia usaha, sebab dengan adanya bandara, letak Banyuwangi yang cukup jauh dari ibu kota provinsi maupun ibu kota negara bisa disinggahi lebih cepat. Mengingat, waktu yang dimiliki pengusaha atau investor tentu sangat berarti. Begitu pula dengan pelabuhan, menjadi sarana sangat penting untuk menunjang distribusi hasil produksi menuju ke beberapa tempat. Terutama untuk menunjang aneka kebutuhan masyarakat maupun pembangunan di wilayah Indonesia bagian timur yang selama ini masih sangat kurang.

Melihat besarnya potensi ekonomi di Indonesia timur yang belum tergarap secara maksimal, rasanya tak salah kalau para investor kemudian mengembangkan usahanya di Banyuwangi. Mengingat, beberapa infrastruktur penunjang di daerah ini mulai bisa diandalkan meski kondisinya saat ini belum maksimal. Tapi seiring dengan perjalanan waktu ditunjang dengan adanya komitmen kuat dari pemerintah daerah dan pusat untuk membenahi infrastruktur yang ada, prospek Banyuwangi menjadi daerah industri di masa mendatang akan lebih moncer.

Apalagi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang memiliki banyak kolega di Jakarta juga cukup aktif menjadi salesman dengan menawarkan potensi yang ada di daerahnya ke para investor. Tak hanya itu, Anas juga cukup piawai dalam merayu pemerintah pusat agar menyokong pembangunan infrastruktur yang ada di Banyuwangi. Sehingga, beberapa kali daerah ini mendapat kucuran anggaran dari pemerintah pusat dan provinsi. Ini cukup posithf bagi daerah, sebab tak semua kepala daerah bisa atau memiliki kepedulian dan kemampuan untuk menjadi salesman, termasuk bernegosiasi.

Hasilnya, daerah ini mendapat banyak bantuan anggaran cukup besar, diantaranya untuk perbaikan pelabuhan, jalan di depan Pelabuhan Ketapang dan perpanjangan landasan pacu Bandara Blimbingsari. Juga, kucuran anggaran untuk melanjutkan proyek-proyek besar yang sempat mandek seperti Waduk Bajulmati dan Pelabuhan Pantai Boom. Termasuk, gagasan membuat terminal terpadu untuk angkutan darat (bus dan kereta api) serta pelabuhan laut di Ketapang yang juga mendapat respon positif dari pemerintah pusat. Kalau ini terealisir kemajuan Banyuwangi bakal semakin berkembang pesat.

Tak h`nya itu, saat ini para investor juga mulai merealisasikan harapannya dengan membuka usaha di Banyuwangi.  Setelah PT Semen Gresik rampung membangun pabrik pengepakan di kawasan Pelabuhan Ketapang beberapa waktu lalu, Senin (7/5) lalu giliran PT Semen Bosowa memulai membangun pabrik penggilingan semen di Bulusan, Kalipuro. Anggaran yang diinvestasikan untuk pembangunan pabrik semen ini mencapai Rp 800 miliar. Diharapkan akhir tahu depan, pabrik yang pembangunannya mampu menyerap tenaga kerja seribu orang ini sudah bisa berproduksi.

Selain pabrik semen, Bosowa juga sudah bersiap-siap membangun terminal LNG di lokasi yang berdekatan dengan pabrik semen bekerjasama dengan Pertamina. Dana yang dianggarkan untuk pembangunan terminal LNG ini sebesar Rp 700 juta. Terminal ini dimaksudkan untuk menyuplai kebutuhan gas bagi masyarakat dan industri di Jawa Timur.  Untuk realisasi pembangunannya, saat ini Bosow` masih menunggu kepastian sumber pasokan gas dari Pertamina.

Maraknya industrialisasi baru di Banyuwangi masih akan terus berlanjut seiring dengan perbaikan infrastruktur penunjang yang terus dibenahi. Para investor sudah antri untuk masuk mengembangkan bisnisnya di Bumi Blambangan. Misalnya, saat ini dua sekolah penerbangan berstandar internasional yang bakal mencetak para pilot juga sudah mulai beroperasi di Banyuwangi, yaitu BIFA (Bali International Flight Academy) milik pengusaha Robby Djohan. Satunya lagi sekolah penerbangan Curug milik pemerintah yang tak lama lagi juga akan beroperasi di sini.


Investasi lain yang sudah masuk melakukan penjajakan dan proses pengajuan izin di daerah ini juga cukup lumayan banyak. Seperti pembangunan kawasan industri berikat yang didalamnya akan diisi beberapa pabrik. Ada pula yang mengajukan pembangunan kilang minyak dengan investor asing berbeda, masing-masing dari Korea dan timur tengah. Termasuk, rencana membangun hotel berbintang untuk mengantisipasi perkembangan Banyuwangi yang kian hari menunjukkan harapan cukup menjanjikan bagi perkembangan dunia usaha. Sehingga, tak salah kalau Banyuwangi saat ini menduduki urutan ketiga untuk daerah di Provinsi Jawa Timur yang paling diminati investor setelah Gresik dan Surabaya.

Pesatnya investasi dan industrialisasi di Banyuwangi juga diapresiasi oleh Gubernur Jatim Soekarwo dan Menperin MS Hidayat saat meresmikan pembangunan pabrik semen Bosowa beberapa hari lalu. Ini semua tak lepas dari faktor kondusifnya keamanan di daerah, termasuk kondisi sosial politik yang tenang tapi tetap dinamis. Kondisi ini pula yang membuat Provinsi Jatim meraih penghargaan sebagai daerah pelaksanaan pembangunan terbaik di Indonesia.

Sukarwo meminta masyarakat untuk ikut serta menciptakan suasana yang kondusif agar semakin banyak investor yang menanamkan modalnya di sini. Diperkirakan pada tahun 2012 ini, investasi yang masuk di Jatim diperkirakan mencapai Rp 143 triliun hingga Rp 145 triliun. Dengan semakin banyak investasi yang masuk, maka kesejahteraan masyarakat juga akan ikut terdongkrak. Di samping itu, pengangguran dan kemiskinan juga akan berkurang.

Kita semua pasti akan ikut senang dengan harapan yang cukup menjanjikan itu. Termasuk, punya kewajiban moral untuk ikut menjaga kondusivitas keamanan daerah. Juga ikut menumbuhkan semangat optimisme dan positifisme kepada masyarakat luas dengan harapan yang mencerahkan. Mari kita tunjukkan kepedulian dan partisipasi kita semua dalam memajukan dan menyejahterakan masyarakat sesuai kapasitas yang kita miliki.

Tapi, ini bukan berarti kita membiarkan proses pembangunan yang dilakukan secara menyimpang atau keluar dari koridor hukum. Justru, hal-hal seperti ini juga harus kita cermati agar uang rakyat yang dipakai untuk membangun daerah ini tidak disalahgunakan. Demikian pula dengan investor yang punya modal, tidak serta merta bisa membeli segalanya untuk melegalkan usahanya dengan cara nekad walau melanggar hukum. Tentu kalau ada masalah seperti ini tidak bisa kita biarkan, apalagi sampai dilindungi dan dibela mati-matian.

Karena itu, setiap proses pembangunan yang bisa berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat harus disikapi dengan arif. Jangan sampai hal ini bisa menimbulkan masalah baru yang justru akan merugikan banyak pihak. Kalau memang pembangunan industrialisasi itu berdampak pada kemaslahatan masyarakat yang cukup besar, mari kita dukung bersama. Dan, manakala pembangunan itu banyak merugikan masyarakat dan prosesnya melanggar hukum, maka harus dilawan.

Sikap arif itu juga harus ditunjukkan oleh pemerintah maupun aparat keamanan. Jangan sampai ada kesan membela pengusaha nakal, apalagi yang terang-terangan melanggar hukum dengan dalih demi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tapi, juga tidak boleh mempersulit pengusaha yang ingin mengembangkan usahanya di sini bila prosedur yang ditempuh sudah benar. Intinya semua pihak harus saling mendukung selama prosesnya benar dan membawa banyak manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. (cho@jawapos.co.id)