Senin, 27 Desember 2010

Blimbingsari, Pengungkit Kemajuan Banyuwangi

TAK lama lagi warga Bumi Blambangan bisa bepergian via udara dengan menggunakan pesawat terbang. Sebab, Lapangan Terbang (Lapter) Blimbingsari Rogojampi yang sudah lama merana karena tidak kunjung digunakan untuk aktivitas penerbangan komersial bakal segera dioperasikan. Sudah ada maskapai penerbangan PT Sky Aviation yang siap mengoperasikan pesawatnya untuk melayani jalur penerbangan Banyuwangi - Surabaya dan Banyuwangi - Denpasar. Rencananya penerbangan perdana bakal dimulai pada 29 Desember mendatang.

Sejarah beroperasinya penerbangan komersial perdana di Bumi Blambangan ini patut kita apresiasi dan kita acungi jempol. Terutama terobosan bupati baru yang bisa mengupayakan dan mendapatkan dengan cepat maskapai penerbangan yang mau mengoperasikan pesawatnya di Banyuwangi. Mungkin karena bupatinya mantan anggota DPR RI yang dulunya membawahi Komisi Perhubungan sehingga memiliki banyak relasi hingga mudah menggaet maskapai penerbangan yang mau diajak bermitra untuk melayani transportasi udara dari Lapter Blimbingsari.

Lapter Blimbingsari ini sendiri baru mendapatkan Sertifikat Bandar Udara (SBU) dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia pada tanggal 20 Agustus 2010. Setelah terbitnya SBU bernomor 028/SBU-DBU/VIII/2010 yang dikeluarkan Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara (Hubud) Kemenhub, secara otomatis lapter Blimbingsari resmi beroperasi sebagai bandar udara dengan status untuk umum dan domestik. Dalam sertifikat yang diteken langsung Dirjen Hubud Herry Bakti, operator bandara diserahkan kepada satuan kerja Bandar Udara Banyuwangi, yakni UPT Ditjen Hubud. SBU itu berlaku sejak tanggal 20 Agustus 2010 hingga 20 Agustus 2015. Prinsipnya Lapter Blimbingsari sudah bisa didarati pesawat jenis ATR 72 atau CN 325.

Kabarnya, segala fasilitas terkait dengan pengoperasian lapter yang pembangunannya sempat menyeret dua bupati ke ranah hukum ini, kini sedang dipersiapkan. Seperti proving flight, pemotongan obstacle sekitar 129 pohon kelapa di sekitar lapter yang dianggap mengganggu, sign board, ambulan, pemadam kebakaran, kantor maskapai penerbangan, tiket agen, dan transportasi darat dari dan ke bandara. Ditambah lagi persiapan menyangkut masalah-masalah teknis lain yang beberapa hari lalu sudah dibahas Pemkab Banyuwangi bersama PT Sky Aviation.

Dalam penerbangan perdana nanti, akan turut serta Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Bambang Susantono, Sekjen Kementerian Perhubungan Iksan Tatang dan Dirjen Perhubungan Udara Harry Bakti Singayuda. Selain jajaran pejabat pusat, Gubernur Jatim Soekarwo dan Wakil Gubernur Saifullah Yusuf juga sudah memastikan hadir dalam penerbangan perdana itu. Para pejabat tinggi pusat dan daerah itu akan take off bersama dari Bandara Internasional Juanda Surabaya menuju lapter Blimbingsari menggunakan pesawat Cessna C208B Grand Caravan.

Yang pasti, pembukaan penerbangan komersial ini merupakan langkah maju yang multiplier effect-nya ke depan kita harapkan bisa mengangkat berbagai macam potensi yang ada di daerah ini. Baik potensi pariwisata, perkebunan, pertanian, perikanan maupun mempercepat gerak roda perekonomian. Endingnya, Banyuwangi makin dikenal luas, banyak investor masuk, pertumbuhan ekonominya meningkat dan rakyatnya sejahtera. Mungkin begitulah harapan idealnya.

Itu semua akan bisa kita capai manakala pemerintah tidak setengah-setengah dalam mendukung, mengelola dan memfasilitasi kelangsungan keberadaan penerbangan komersial dari Lapter Blimbingsari. Jangan sampai sejarah ini hanya menjadi euforia sesaat alias hangat-hangat tai ayam. Ramai gebrakan di awal setelah itu mandeg, bahkan mungkin menghilang ditelan oleh euforia program mercusuar yang lain. Dan, apa yang sedang dirintis untuk kemajuan Banyuwangi di masa mendatang sirna begitu saja.

Tentu kita semua tidak ingin Lapter Blimbingsari akan mengalami nasib seperti lapter Notohadinegoro Jember, hanya dipakai uji coba penerbangan perdana ketika zamannya Bupati Syamsul Hadi Siswoyo. Begitu pula saat kekuasaan berganti ke tangan Bupati Djalal, lapter itu juga hanya dipakai untuk uji coba penerbangan dengan mengajak beberapa wartawan. Tapi, hingga kini belum pernah ada penerbangan komersial. Bahkan, mungkin juga belum memiliki sertifikat bandara udara (SBU) yang dikeluarkan oleh Kemenhub.

Beruntung Banyuwangi mendapatkan kepercayaan lebih dulu untuk bisa mengoperasikan lapter yang memiliki runway (landasan pacu) sepanjang 1.450 meter. Bahkan, Pemprov Jatim juga berniat merevitalisasi berupa perpanjangan landasan pacu hingga 2.250 meter. Termasuk revitalisasi dan pengembangan sarana dan prasarana terhadap lima bandara lain di Jatim. Kelima bandara tersebut adalah Bandara Internasional Juanda (Surabaya), Bandara Abdulrachman Saleh (Malang), Bandara Bawean (Gresik), Bandara Notohadinegoro (Jember) dan Bandara Trunojoyo (Sumenep).

Dengan rencana pengembangan seperti itu, tentu prospek ke depannya akan semakin cerah. Jarak tempuh perjalanan ke Surabaya dan ke Denpasar pun terasa dekat. Para pelaku bisnis yang biasanya melakukan perjalanan ke Surabaya menggunakan jalur darat menempuhnya dalam waktu enam hingga delapan jam, kini cukup 50 sampai 60 menit. Begitu pula yang sering melakukan perjalanan ke Denpasar, biasanya tiga sampai empat jam, dengan pesawat cukup 30 menit.

Harga tiket yang dipatok untuk jurusan Banyuwangi - Surabaya semula Rp 900 ribu, sedang jurusan Banyuwangi – Denpasar Rp 700 ribu. Bagi kalangan menengah ke bawah, harga tiket itu tentu sangat mahal. Dibandingkan dengan tiket travel dengan jurusan yang sama harganya mencapai 10 kali lipat atau sembilan kali lipat harga tiket kereta api kelas eksekutif. Wow, pasti hanya masyarakat kelas tertentu yang bisa menjangkaunya. Kalau tidak mendesak dan tidak diburu waktu, saya yakin mereka yang berduit pun pasti lebih memilih naik kereta api ataupun travel. Akhirnya menjelang launching penerbangan awal harga tiket diturunkan menjadi Rp 700 ribu untuk rute Banyuwangi - Surabaya dan Rp 400 ribu untuk rute Banyuwangi - Denpasar.

Apalagi, untuk sementara pesawat pengangkut penumpang ini masih menggunakan pesawat kecil jenis Cessna berkapasitas sembilan penumpang yang kenyamanan dan keamanannya tidak seoptimal pesawat besar. Namun pihak operator penerbangan berjanji, bila tren pasarnya positif maka harga tiket bisa lebih murah. Bahkan, pihaknya juga menyiapkan pesawat lebih besar jenis Foker yang bisa mengangkut 40 hingga 50 penumpang dalam satu kali penerbangan.

Saya yakin, pemerintah daerah tentu tidak tinggal diam dengan situasi yang bisa mengancam mandegnya pengoperasian bandara ini karena ditinggal operator penerbangan dengan alasan rugi karena kurang penumpang. Beberapa tawaran agar jalur penerbangan di Bumi Blambangan ini bisa tetap eksis sudah dicarikan jalan tengah. Di antaranya model full charter dan block seat 50 persen yang ditanggung bersama antara Pemkab Banyuwangi dan operator penerbangan. Tapi, hingga kini saya belum tahu model mana yang disepakati.

Yang pasti, kalau kapasitas kursi yang terisi terus menerus tidak sampai di atas 50 persen, berarti pemkab dan operator penerbangan gagal dalam memobilisasi ataupun meyakinkan para penumpang untuk memanfaatkan jasanya. Dan, itu berarti kerugian yang akan diderita. Apalagi, pemkab juga tidak bisa serta merta menyupali bantuan untuk memenuhi kursi penumpang yang kosong dari dana APBD. Sebab, APBD tidak boleh dipakai untuk menyubsidi tiket penumpang pesawat yang rata-rata dari kalangan masyarakat kelas menengah atas. Kalau dipaksakan, pasti kepala daerahnya akan berurusan dengan aparat penegak hukum.

Kita semua berharap para pelaku ekonomi di Banyuwangi beserta para relasinya yang banyak berurusan keluar kota, khususnya ke ibu kota Provinsi Jatim dan Bali, bisa memanfaatkan fasilitas penerbangan ini. Demikian pula para travel agent yang sering melayani para turis ke Bali, harapan kita juga banyak memanfaatkan penerbangan via Banyuwangi. Dan, akan lebih baik kalau pihak-pihak terkait mulai sekarang juga sudah menyiapkan paket-paket wisata di Banyuwangi.

Karena itu, Pemkab Banyuwangi juga harus all-out dalam menyiapkan program pendukung yang diperkirakan akan terkena multiplier effect dari beroperasinya Lapter Blimbingsari ini. Diantaranya yang perlu disiapkan adalah menjalin kerjasama dengan travel agent untuk memetakan beberapa paket wisata. Juga menyiapkan infrastruktur jalan yang memadai menuju bandara, termasuk jalan menuju tempat-tempat wisata andalan maupun infrastruktur yang ada di lokasi wisata itu sendiri.

Yang tak kalah penting, mengubah mind set para birokrat dalam melayani masyarakat yang hingga kini masih banyak menghamba kepada uang. Ada uang pelicin pelayanan diperhatikan dan dipercepat, tak ada uang ya santai saja. Selain itu, kita harapkan pula para birokrat lebih proaktif jemput bola bila melihat peluang yang bisa disinergikan untuk kepentingan dan kemajuan daerah ini. Semoga, Banyuwangi ke depan bisa berkembang jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. (cho@jawapos.co.id)

Selasa, 21 Desember 2010

Renungan Hari Ibu

Di saat ibu tidur lelap,
coba kita pandangi dalam-dalam
Bayangkan matanya tak akan terbuka selamanya
tangannya tak mampu tuk menghapus AIR MATA kita
tak lagi ada nasihat yang selama ini sering kita abaikan

Bayangkan apabila ibu sudah tiada,
Apakah kita sudah membuat beliau BAHAGIA?
Padahal, beliau selalu membahagiakan kita,
memenuhi kehendak kita
Apakah kita pernah berpikir,
betapa besar PENGORBANAN beliau?

Bagi sahabat yang masih punya ibu
jangan sia-siakan kesempatan untuk memuliakan beliau
hormatilah, bahagiakanlah dan angkat tinggi-tinggi derajatnya
karena beliaulah yang bisa mengantarkan kita kelak ke surga

Bagi sahabat yang sudah ditinggal ibunda
Jangan pernah lelah berdoa untuknya
Jangan lupa pula mengunjungi makamnya
Meski jasad beliau sudah hancur menyatu dengan tanah
tapi beliau masih bisa tersenyum
bila melihat anaknya bahagia
karena doa anak soleh kepada kedua orang tuanya
tak akan pernah terputus

SELAMAT HARI IBU....

Rabu, 15 Desember 2010

Keutamaan Hari Asyuro (1 Muharram)

Bakda maghrib sdh masuk hari Asyuro (10 Muharram) atau Kamis 16 Desember 2010. Barang siapa:
1. Puasa pd hr Asyuro, spt puasa seth penuh.
2. memprbnyk ibadah pd malam Asyuro, pahalanya = ibadahnya pddk 7 langit.
3. Melaksanakan salat sunat mutlaq 4 rakaat (2x salam) kmudian mmbaca: hasbiyallahu wani'mal waqil ni'mal maula wani'mal nashiir 70x, dosanya diampuni slama 50 th & dijauhkan kesulitan slama seth.
4. Bersedekah, rizkinya tak akan terputus.
5. Mandi & mensucikn badan, tdk akan mengalami sakit seth.
6. Mengusap kpl anak yatim & menyantuninya = menyantuni anak yatim keturunan nabi Adam.
7. menjenguk org sakit, se-akan2 menjenguk sluruh org skt kturunan nabi adam.
8. Memberi seteguk air kpd org yg brpuasa, akan diganti seteguk air oleh Allah di padang mahsyar & tak akan mrasa haus selamanya.
9. Menambah jatah nafkah klg, mk akan dibr rizki yg luas slama seth. (Kitab I'anatut Tholibin). Smg kita bs mengamalkannya, amien.

Jumat, 10 Desember 2010

Potensi Dibalik Pesona Gunung Ijen

SENIN (6/12) lalu, saya mengikuti agenda Konsultasi Publik Pembentukan Taman Wisata Nasional Ijen di Hotel Ijen View Bondowoso mewakili Radar Banyuwangi. Saya tertarik mengikuti agenda itu karena ingin mengetahui lebih detail eksistensi dan potensi Gunung Ijen. Selain kawahnya yang terkenal sangat indah, Ijen juga menjadi salah satu kawasan wisata segi tiga emas kebanggaan Banyuwangi, di samping Pantai Sukamade dan Pantai Plengkung. Yang terbaru, di Ijen juga ditemukan tambang energi panas bumi. Bahkan, kini sudah ada investor yang sudah memenangkan tender untuk mengolah energi panas bumi ini menjadi pembangkit tenaga listrik.

Selain itu, secara geografis, Gunung Ijen berada di tiga wilayah kabupaten, yaitu Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso yang juga masuk wilayah edar Radar Banyuwangi. Tentu, kami juga ingin tahu kepedulian dan upaya ketiga daerah ini dalam merespon dan mengembangkan potensi yang ada di Ijen. Termasuk, mengantisipasi kemungkinan munculnya konflik kepentingan ataupun klaim-klaim tidak produktif yang bisa merusak reputasi cagar alam (CA) ataupun taman wisata alam (TWA) Ijen yang namanya sudah sangat dikenal di dunia pariwisata mancanegara.

Dengan mengikuti agenda ini, saya berharap ada pengetahuan, masukan ataupun inspirasi baru bagi Radar Banyuwangi untuk ikut mendorong terciptanya lingkungan alam yang sehat, tumbuhnya sektor pariwisata dan bergairahnya iklim investasi. Sebab, Kami sudah berkomitmen, apapun yang bisa membawa kemajuan dan kemaslahatan bagi masyarakat luas, tidak ada alasan bagi kita untuk menghambatnya. Sebagai bagian dari stake holder, Radar Banyuwangi akan senantiasa ‘’mengawal’’ daerah ini supaya berkembang lebih maju. Tak lupa juga mengkritisi sikap, kinerja, budaya maupun sistem yang kurang bisa bekerja ataupun bergerak cepat mengikuti perkembangan zaman.

Memang, yang namanya konsultasi publik, tentu yang diharapkan adalah masukan dari para stake holder, setelah terlebih dahulu dilakukan berbagai kajian terkait dengan rencana perubahan CA dan TWA menjadi taman nasional (TN). Namun, bisa pula kajian-kajian yang diungkap dalam agenda itu, termasuk masukan-masukannya, juga menjadi ilmu pengetahuan yang cukup berharga. Apalagi, proses pembahasan perubahan fungsi kawasan Ijen yang sekarang berstatus CA dan TWA akan diubah menjadi TN sudah berlangsung cukup lama, yaitu sejak tahun 2000. Kebetulan, saya juga tidak mengikutinya mulai awal terhadap gagasan menjadikan kawasan Ijen sebagai TN.

Saat ekspos hasil kajian dari berbagai aspek itu, banyak penanggap yang memberi masukan. Rekomendasi yang dihasilkan, semua peserta sepakat mendukung kawasan pegunungan Ijen menjadi TN. Sebab, dengan berubah status menjadi TN, maka ekosistem yang ada di kawasan Ijen akan semakin terlindungi dan dilestarikan. Mengingat, ekosistem di sana saat ini sebagian telah mengalami degradasi habitat tumbuhan dan satwa liar. Selain itu, dengan pengelolaan kawasan sistem zonasi bisa dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budi daya, pariwisata dan rekreasi.

Di samping itu, pengelolaan TN juga memperhatikan konservasi kawasan, penyidikan dan perlindungan hutan, pengembangan konservasi spesies dan genetik, pengendalian kebakaran hutan, serta pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam. Kita semua tentu menginginkan potensi flora seperti eidelweis, cemara gunung, fasinium (sentigi gunung/delima montak) dan potensi fauna seperti lutung, elang jawa dan ayam hutan tetap terjaga dan tidak punah. Termasuk fenomena alam di puncak Ijen seperti kawah berupa danau seluas 5.466 ha di ketinggian 2.368 meter di atas permukaan laut yang terlihat indah dan menakjubkan, tetap terjaga kelestariannya.

Masih terngiang dalam ingatan saya saat melihat langsung keelokan kawah Ijen pada Agustus 2010 lalu bersama rombongan teman-teman Radar Banyuwangi. Subhanallah, di pagi menjelang siang itu, kita semua terkesima oleh eksotiknya air kawah yang volumenya sekitar 200 juta meter kubik memancarkan kemilau hijau keemasan dan berubah menjadi kebiru-biruan saat sinar mentari menerpa dari balik awan. Pemandangan indah lain, para penambang belerang yang sedang memikul hasil tambangnya juga menjadi obyek bidikan kamera para turis. Saat itu, memang banyak turis mancanegara yang datang ke sana. Jumlahnya jauh lebih banyak dari pada turis lokal.

Terlepas dari pesona di atas, harapan menjadikan Ijen sebagai TN bukan berarti tanpa kendala. Kekhawatiran yang muncul diantaranya pengelola TN tidak mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat di sekitar kawasan yang hidupnya tergantung dari sumber daya alam yang ada di dalamnya. Dan, yang lebih dianggap merepotkan lagi adalah rencana kegiatan ekplorasi dan eksploitasi tambang panas bumi. Sebab, kawasan CA dan TWA yang diusulkan menjadi TN dengan luas area minimal 7.560 hektare itu sebagian berada di wilayah kerja pertambangan (WKP) panas bumi.

Penetapan WKP panas bumi seluas 62.620 hektare di daerah Blawan – Ijen Kabupaten Situbondo, Banyuwangi dan Situbondo itu berdasarkan SK Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2472K/30/MEM/2008 tanggal 22 Oktober 2008. Dinas Kehutanan Provinsi Jatim juga sudah memberi masukan Gubernur Jatim agar tidak merekomendasi usulan Ijen - Raung menjadi TN dengan areal seluas 37.560 ha karena akan tumpang tindih dengan WKP. Apalagi, kini sudah ada perusahaan pemenang lelang yang akan mengelola WKP, yakni PT Cahaya Ijen Energi. Yang bisa direkomendasi untuk dijadikan TN hanya seluas 2.560 ha karena berada di luar WKP. Padahal, peserta konsultasi publik kemarin merekomendasikan kawasan Ijen yang diajukan sebagai TN seluas 7.560 ha.

Ada kekhawatiran pula, bila penambangan panas bumi nantinya beroperasi, maka akan mengganggu ekosistem yang ada di kawasan Ijen. Apalagi beberapa fauna di Ijen belakangan ini sudah mulai ada yang turun gunung, mungkin karena sudah tidak merasa aman lagi tinggal di atas. Diantaranya burung merak, yang sudah mulai masuk ke beberapa areal perkebunan di lereng gunung. Fenomena adanya hewan langka yang mulai keluar dari habitatnya itu diungkapkan H Syafik Udin, adm Perkebunan Lijen yang juga ketua Asosiasi Perkebunan Jatim Wilayah III. Bukan tidak mungkin, kalau ada suara-suara berisik dalam proses penambangan panas bumi, binatang-binatang langka di sana akan semakin banyak yang hengkang.

Menurut hemat saya, adanya dua kepentingan yang sama-sama membawa misi untuk kepentingan orang banyak ini harus diakomodir. Apalagi, kedua pihak sama-sama sudah melangkah lebih jauh. Tim teknis perubahan fungsi pegunungan Ijen menjadi TN sudah bekerja dan melakukan kajian cukup lama. Misinya juga cukup mulia, yaitu pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli. Di lain pihak, pemerintah juga sudah menentukan kawasan dan pemenang lelang yang bakal mengeksplorasi energi panas bumi untuk pembangkit listrik. Jangan sampai masalah ini mematikan niat baik investor.

Agar kedua kepentingan ini bisa berjalan seiring dan tidak saling bertentangan, diperlukan langkah kompromi. Misalnya terkait dengan luas areal yang bakal dijadikan WKP dan titik-titik eksplorasi maupun eksploitasi penambangan energi panas bumi. Termasuk, meminimalisasi dampak dari kegiatan penambangan agar tidak sampai mengganggu potensi ekosistem, flora maupun fauna yang ada di sana.

Karena itu, perwakilan pemerintah yang menangani areal TWA dalam hal ini Kementerian Kehutanan dan pertambangan yang berada di bawah Kementerian ESDM harus secepatnya melakukan koordinasi. Khususnya melakukan langkah-langkah kompromistis yang bisa mengakomodir misi bersama dengan mengedepankan kepentingan yang lebih besar dan bermanfaat bagi orang banyak.

Yang juga perlu dipertimbangkan dan disosialisasikan ke masyarakat, benarkah penambangan itu aman dan tidak merusak ekosistem di sana? Termasuk juga, bisakah penambangan itu menghidupi warga yang menggantungkan hidupnya di kawasan itu atau mempekerjakannya? Selain itu, adakah kontribusi untuk penataan pelestarian lingkungan dan kontribusi untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD) setempat?

Meski kemungkinan sudah ada hitungan sharing yang sudah dibuat dengan pemerintah pusat, bagaimanapun daerah juga harus tetap mendapat jatah pemasukan. Sebab, kalau tidak dibuat transparan sejak awal, biasanya akan bermasalah di kemudian hari seperti kasus penambangan minyak oleh Petro China di Bojonegoro. Apalagi, jalan menuju lokasi penambangan di Ijen bukan jalan nasional melainkan jalan daerah yang pembangunannya dibiayai dari APBD. Ada rencana, tahun depan akses jalan dari Banyuwangi menuju Ijen akan dibangun dengan biaya patungan dari APBD Banyuwangi dan APBD Jatim sebesar Rp 25 miliar.

Akhirnya, kita semua berharap, kawasan Ijen bisa tetap menjadi sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan dan terjaga kelestariannya serta menjadi primadona pariwisata alam dunia, meski banyak pihak yang ingin memanfaatkan potensinya. (cho@jawapos.co.id)

Jumat, 03 Desember 2010

Terasa Asing di Daerah Sendiri

KEKAGUMAN saya terhadap potensi alam dan seni budaya Bumi Blambangan Banyuwangi seolah tiada pernah berhenti. Dari hari ke hari sejak saya bertugas di Banyuwangi, mulai sebelas bulan lalu, makin banyak kekayaan alam dan seni budaya yang bisa menambah khazanah pengetahuan saya. Kenyataan dan kekaguman itu ternyata tidak hanya muncul dari benak diri saya saja, orang dari luar Banyuwangi yang kebetulan bertugas di sini juga banyak yang mengakui bahwa daerah ini benar-benar ‘’kaya raya’’. Para anggota muspida yang berasal dari luar Banyuwangi dalam beberapa kesempatan juga menyampaikan seperti itu.

Seperti yang pernah saya singgung dalam tulisan sebelumnya di kolom ini, kota Gandrung punya potensi sumber daya alam cukup besar, baik sektor pariwisata, pertanian, perkebunan, kehutanan, maupun kelautan. Bisa saya sebut, Banyuwangi ini adalah daerah gemah ripah lohji nawi. Subur makmur. Kekayaan dari sumber alam ini seharusnya bisa menyejahterakan rakyat. Terbukti, pendapatan Kabupaten Banyuwangi dari sektor pertanian saja mencapai 47,63 persen. Sumbangan sumber alam lain, seperti sektor kelautan, kehutanan, dan peternakan, mencapai 10,44 persen.

Belum lagi dari sektor pariwisata alam. Meski belum ada data konkret, tapi sektor lain yang juga jadi penyokong pariwisata, yakni hotel, restoran dan perdagangan, sumbangsihnya, ke daerah ini mencapai 26,62 persen. Padahal, diketahui bersama, di sektor wisata alam, Banyuwangi mempunyai banyak objek yang cukup indah nan eksotik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berkelas internasional, meski pengelolaannya selama ini masih belum optimal. Dari sektor ini masih bisa diharapkan hasilnya lebih besar lagi, termasuk side effect-nya di sektor lain bila dikelola lebih serius.

Beberapa potensi wisata alam yang banyak menjadi jujugan para turis mancanegara, antara lain Gunung Ijen, Pantai Plengkung, Pantai Sukamade, Alas Purwo, perkebunan-perkebunan peninggalan Belanda, hutan mangrove di Pantai Bedul, dan lain-lain. Orang Banyuwangi dan para wisatawan lokal hanya sebagian kecil yang sering datang ke sana. Bahkan, ada juga yang sama sekali tidak mengenal beberapa objek wisata andalan itu. Padahal, di luar negeri sudah sangat tersohor.

Hal itu disebabkan medan menuju objek wisata alam yang saya sebut di atas sebagian besar amburadul. Selain itu, jaraknya juga sangat jauh dari perkotaan. Kondisi infrastruktur kurang mendukung inilah yang mungkin membuat orang Banyuwangi dan turis lokal kurang tertarik datang ke sana. Sebaliknya, orang asing yang sudah tahu cerita dan gambar-gambar tentang keelokan objek wisata di Banyuwangi dari internet dan dari temannya, pasti berupaya kuat untuk datang meski jalan ke tempat wisata itu rusak. Kalau infrastrukturnya diperbaiki, pasti turis lokal dan asing yang datang akan lebih banyak.

Minimnya pengetahuan dan pudarnya kebanggaan terhadap potensi alam yang dimiliki daerah ini, menurut saya lebih banyak disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah. Hal itu tidak hanya menyangkut perbaikan dan pemeliharaan prasarana terkait objek fisik wisata saja, tapi juga kepedulian untuk menanamkan cinta ‘’tanah air’’ dan mempromosikan pariwisata daerah ini masih sangat kurang.

Simak saja baliho, bilboard, banner, dan spanduk yang menghiasi penjuru wilayah Banyuwangi, hampir tidak tampak penonjolan potensi daerah yang bisa dibanggakan. Yang tumbuh subur justru gambar-gambar produk rokok, elektronik, operator telepon seluler, dan gambar kepala daerah mejeng tanpa membawa identitas daerah yang bisa dibanggakan kepada khalayak. Kalau toh ada identitas daerah, paling hanya gambar penari gandrung, itupun adanya di beberapa titik dan tidak mendominasi.

Gambar-gambar seperti indahnya kawah Gunung Ijen, eksotiknya ombak yang sedang menggulung peselancar di Pantai Pelengkung, uniknya penyu yang dilindungi di Pantai Sukamade, asrinya hutan mangrove di Pantai Bedul, dan liarnya banteng di Alas Purwo, hampir tidak dijumpai. Begitu juga hasil pertanian dan perkebunan, seperti padi, cabe, kopi, durian, pisang dan manggis, yang menjadi hasil bumi andalan daerah ini, hampir tak ada yang terpampang di sudut-sudut wilayah Banyuwangi. Padahal, semua itu bisa menjadi identitas, kebanggaan, penyemangat, sekaligus promosi atas potensi besar yang dimiliki daerah ini.

Jadi, sangatlah wajar kalau warga Banyuwangi banyak yang kurang tahu secara detail potensi daerahnya. Mengingat, pemerintahnya selama ini tidak banyak melakukan edukasi dan promosi sumber daya alam terhadap rakyatnya sendiri, apalagi promosi ke luar Banyuwangi melalui internet dan brosur di tempat-tenmpat strategis. Sehingga, rakyat Banyuwangi banyak yang merasa asing dengan potensi alam yang dimiliki daerahnya atau hanya tahu sekilas saja. Justru, sebagian turis asing yang lebih tahu secara detail beberapa potensi alam di Banyuwangi. Sebab, dia memang pernah datang langsung ke lokasi.

Hal yang sama juga menimpa keragaman potensi seni budaya. Kekayaan khazanah seni budaya Banyuwangi yang banyak diakui orang dari luar daerah, ternyata juga kurang mendapat apresiasi yang layak dari pemerintah. Selain kurang promosi untuk menarik wisatawan datang ke daerah ini, reklame berisi gambar seni budaya Banyuwangi juga sangat minim. Termasuk, buku-buku tentang seni budaya yang bisa dijadikan referensi dan kebanggaan warga Banyuwangi, juga masih jauh dari harapan. Padahal, even-even seni budaya yang digelar warga Banyuwangi cukup banyak dan variatif.

Seandainya, aneka seni budaya, sejarah, dan dongeng asli Banyuwangi itu banyak dibukukan, lebih-lebih bila dijadikan sebagai materi ajar anak didik di sekolah untuk materi muatan lokal (mulok), pasti lebih membanggakan. Selain itu, buku-buku itu tentu juga bisa dijadikan referensi dan bahan penelitian oleh siapa pun yang membutuhkan, baik para turis, peneliti, maupun warga masyarakat yang ingin tahu lebih detail makna yang terkandung dalam seni budaya asli Banyuwangi.

Jangan sampai aneka seni budaya yang biasa dipertontonkan kepada masyarakat luas pada waktu-waktu tertentu itu hanya bisa dinikmati atraksinya saja, tanpa tahu makna sakral yang terkandung di dalamnya. Termasuk, latar belakang dan sejarahnya. Sehingga, misi, visi maupun pesan luhur yang ada dalam seni budaya itu tidak tersampaikan ke khalayak alias warga merasa asing dengan substansinya. Padahal, tidak sedikit dari pelaku seni budaya atau sesepuh di daerah setempat yang paham alur cerita dan makna yang terkandung di dalamnya.

Agar keterasingan kita terhadap makna seni budaya yang kita miliki ini tidak terus-menerus berlangsung, bahkan ada kemungkinan pudar, paling tidak latar belakang, sejarah, dan makna filosofi, yang terkandung di dalamnya harus dibukukan. Misalnya seputar tari grandrung, padang bulan, seblang, kuntulan, kebo-keboan, jaranan, dan lain-lain. Demikian pula dengan tradisi adat yang digelar secara rutin, seperti barong ider bumi, ndog-dogan, petik laut, gelar pitu di Dusun Kampung Baru, Desa Glagah, puter kayun dari Boyolangu ke Watudodol, dan lain-lain, harus secepatnya digali dan dibukukan.

Langkah-langkah untuk mengeksplor potensi Banyuwangi agar tidak menjadi asing di daerah sendiri, dikenal di luar daerah, dan dilirik banyak investor, kini sudah mulai dilakukan secara bertahap oleh pemerintah baru. Misalnya, menyambut Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) yang akan berlangsung bulan ini, dinas terkait diminta untuk mengisi baliho-baliho milik pemkab dengan gambar-gambar potensi daerah. Tentu juga disertai pesan yang bisa memotivasi kebanggaan warga terhadap daerahnya sekaligus sebagai alat promosi.

Selain itu, Bupati Banyuwangi juga sudah memesan fotografer berkelas internasional untuk mengabadikan segenap potensi yang ada di daerah ini. Hasil foto-foto itu nanti juga akan dijadikan bahan promosi wisata dan untuk menarik investor agar datang ke Banyuwangi menanamkan modalnya. Foto-foto berkelas itu juga bisa dijadikan inspirasi untuk menentukan ikon yang tepat dalam mengangkat potensi Bumi Blambangan.

Terkait dokumen tertulis, pemerintah baru juga harus banyak mendorong dan memfasilitasi terbitnya buku-buku yang mengangkat potensi Banyuwangi. Terutama, yang terkait seni budaya dan sejarah daerah ini. Termasuk, juga mengupayakan menjadi bahan ajar anak didik di sekolah sebagai mulok agar generasi penerus kita juga tahu seni budaya daerah ini beserta makna yang terkandung di dalamnya. Tanpa itu, ada kekhawatiran seni budaya kita akan terkikis oleh budaya dari luar.

Oleh karena itu, para seniman, budayawan, pendidik, akademisi, peneliti, dan elemen masyarakat lain yang merasa mampu menulis keberagaman seni budaya asli Banyuwangi dalam sebuah buku, patut diapresiasi dan difasilitasi. Semoga, segala potensi yang ada di Banyuwangi ini bisa terangkat ke permukaan dan menjadi kekuatan yang bisa menjadikan daerah ini lebih dikenal di mana-mana, baik menyangkut potensi alam, keragaman seni budaya, maupun karakter yang lain. Jangan sampai warga Banyuwangi justru merasa asing dengan kekayaan alam dan seni budayanya sendiri. (cho@jawapos.co.id)