Kamis, 12 April 2012

Menjual Banyuwangi di Pulau Dewata


Oleh: A. Choliq Baya

BERBAGAI upaya untuk mengenalkan sekaligus menjual aneka potensi yang dimiliki bumi berjuluk The Sunrise of Java terus dipacu. Kalau biasanya dilakukan melalui pameran, mengirim delegasi seni budaya, menggelar even, menyebar brosur, pasang iklan di media cetak, elektronik, internet serta dari mulut ke mulut, kini mulai berani tampil agak beda. Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) berani jemput bola dengan menggelar Banyuwangi Gathering Night in Bali.

Even yang digelar pada Senin, 26 Maret 2012 lalu di Paradise Plaza Hotel Sanur, Bali itu benar-benar cukup meriah dan tergolong sukes. Pasalnya, dilihat dari antusias tamu undangan yang datang hampir tidak menyisakan kursi kosong. Jumlahnyapun jauh lebih besar dari undangan serupa yang biasanya digelar daerah lain di Bali. Dan itu diakui sendiri oleh pengurus Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali. Misalnya dari 154 anggota ASITA Bali yang diundang, 150 diantaranya hadir.

Selain itu juga datang para pengusaha dan anggota Ikawangi Dewata, perwakilan duta besar Inggris, Walikota Denpasar, Wakil Bupati Badung, Kepala Disbudpar Provinsi Jatim dan anggota Forum Pimpinan Daerah Banyuwangi. Trobosan model seperti ini baru pertama kali dilakukan dalam sejarah Pemkab Banyuwangi. Meski, beberapa daerah lain sudah biasa bahkan rutin menggelar even seperti ini di beberapa kota yang dianggap potensial untuk dijadikan ‘’pasar dagangan’’. Tapi, Banyuwangi baru pertama kali melakukannya.

Berbagai potensi yang dimiliki Banyuwangi dikenalkan dan dipasarkan kepada para undangan yang sebagian besar didominasi oleh para pelaku wisata dan pengusaha. Yang bertindak selaku sales promotion Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sendiri. Mantan anggota DPR RI ini terlihat cukup lugas dan menguasai dalam mempromosikan daerahnya agar para travel agent ikut menjual Banyuwangi ke para wisatawan domestik maupun mancanegara. Termasuk memancing agar para investor juga tertarik berinvestasi di Banyuwangi.

Aneka upaya dan keberhasilan yang telah dilakukan Pemkab Banyuwangi pun ditebar dengan penuh semangat. Mulai dari keamanan berinvestasi dan realisasi investasi yang pada triwulan pertama tahun ini menyodok ke urutan 3 dari urutan ke 31 pada tahun sebelumnya sebagai daerah di Jatim yang paling diminati investor. Juga memaparkan indeks pembangunan manusia dimana daya beli masyarakat semakin tinggi, dan pertumbuhan ekonomi Banyuwangi yang terus meningkat.

Beberapa investor yang sudah masuk maupun yang siap menanamkan modalnya juga disebut satu persatu. Mulai dari pabrik pengepakan semen Gresik yang sudah jadi, pabrik semen Bosowa di Ketapang, serta pembangunan kawasan industri di Wongsorejo seluas hampir 600 hektare. Ada pula tiga investor yang akan membangun sekolah penerbangan, satu diantaranya kini sudah memulai membangun konstruksinya di Rogojampi. Termasuk, rencana masuknya investor yang akan membangun hotel berbintang, pabrik perakitan mobil dan kilang minyak dari investor Arab Saudi.

Mendengar harga tanah untuk kawasan industri yang cukup murah, yakni Rp 9.500 per meter, beberapa pengusaha berminat investasi di Banyuwangi. Ada yang disampaikan langsung di forum Tanya jawab, ada juga yang disampaikan sesusai acara. Salah satunya wakil Bupati Badung yang tertarik untuk membangun hotel di Banyuwangi. Ia butuh tanah sekitar 10 hektare, ia pun berharap dapat harga tanah murah.

Selain itu, tak lupa Anas juga mempromosikan tempat-tempat wisata andalan yang ada di Banyuwangi, termasuk seni budayanya dengan didukung foto-foto nan cantik. Berdasarkan rencana pengembangan pariwisata Banyuwangi, obyek wisata dikelompokkan menjadi tiga, dimana masing-masing wilayah ada obyek wisata andalannya. Obyek wisata andalan di masing-masing wilayah selama ini sudah sangat dikenal dengan sebutan The Diamond Triangle (segitiga berlian).

Masing-masing wilayah I, dengan wisata andalan Kawah Ijen yang cukup eksotik. Tempat wisata lainnya dalam kawasan ini diantaranya: Pantai Banyuwangi, Pulau Santen, Pantai Cacalan dan Bulusan, Pantai Kampe,  Pulau Tabuhan, Pantai Blimbingsari, Air Terjun Selogiri, Air Terjun Antogan, Air Terjun Kalongan, Air Terjun Lider, Wana Wisata Watudodol, Wana Wisata Rowobayu, Agro Kaliklatak, Pemandian Taman Suruh, Desa Wisata Using Kemirien dan sekitarnya.

Kemudian wilayah II, tempat wisata andalannya Pantai Plengkung dengan ombaknya yang sangat tinggi dan panjang, cukup bagus untuk surfing. Tempat wisata lain yang masuk wilayah ini masing-masing Pantai Trianggulasi, Pantai Pancur, Pantai Muncar, Pantai Sembulungan, Pantai Segoro Anakan, Grajagan, Pantai Bedul, Pantai Ngagelan (Penangkaran Penyu), dan Taman Nasional Alas Purwo.

Sedang wilayah III, tempat wisata yang diandalkan adalah Pantai Sukamade yang memiliki penangkaran penyu. Tempat wisata lain yang diharapkan bisa mendukung di wilayah ini, masing-masing Pantai Lampon, Pantai Pulau Merah, Pantai Pancer, Pantai Rajegwesi, Teluk Hijau, wisata Agro Kalibaru, wisata Agro Glenmore, dan Taman Nasional Meru Betiri.

Meski begitu banyak obyek wisata yang diharapkan bisa mendongkrak pariwisata Banyuwangi, dalam waktu dekat saya tidak terlalu yakin bisa meningkatkan kunjungan wisata secara signifikan. Salah satu penghambatnya adalah masalah infrastruktur yang amburadul meski beberapa diantaranya dijamin akan diperbaiki tahun ini. Misalnya jalan menuju ke Kawah Ijen tahun ini sudah dianggarkan pembangunannya satu paket dengan toilet berstandar internasional di Paltuding senilai Rp 5 miliar.

Sementara akses menuju Pantai Plengkung dan Pantai Sukamade baru sebagian aksesnya yang diperbaiki. Itupun masih jauh dari lokasi obyek wisatanya yang berada di kawasan Taman Nasional. Padahal, untuk memperbaiki jalan di sana harus ada izin dari Taman Nasional Alas Purwo dan Meru Betiri. Meski sudah beberapa kali disinggung harus ada koordinasi dengan pengelola Taman Nasional, tapi tampaknya hingga kini tak ada kemajuan signifikan. Saya tidak melihat adanya perhatian serius dari Pemkab Banyuwangi maupun Kementerian Kehutanan yang membawahi Taman Nasional dalam memecahkan masalah ini.

Tentu hal ini bisa menjadi bumerang kalau tidak secepatnya dituntaskan. Apalagi, dalam forum gathering itu ada anggota ASITA yang mempertanyakan masalah rusaknya infrastruktur menuju ke lokasi wisata segitiga berlian. Sebab, setahun lalu mereka pernah ikut Family Trip yang digelar Dipbudpar Banyuwangi mengunjungi beberapa lokasi wisata andalan itu. Termasuk, koordinasi antarinstansi atau SKPD terkait di lingkungan Pemkab Banyuwangi sendiri juga perlu ditingkatkan agar saling mendukung demi terwujudnya peningkatan program pariwisata. Terutama SKPD terkait seperti Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Perhubungan, DPU Bina Marga, DPU Cipta Karya, Dinas Pendapatan Daerah, Disbudpar dan lain sebagainya. Saya kira pekerjaan berat yang harus dituntaskan menyangkut infrastruktur masih cukup banyak.

Terkait dengan acara gathering-nya sendiri, meski cukup meriah namun masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Diantaranya nuansanya masih kurang terkesan Banyuwangi minded. Terutama terkait dengan pertunjukan kesenian, jajanan dan makanan khas asal Banyuwangi yang masih minim. Termasuk visualisasi seni budaya dan segala yang khas tentang Banyuwangi dengan tayangan yang lebih hidup juga tidak ada. Seharusnya obyek seperti ini harus ditampilkan sesering mungkin. Justru, visualisasi promosi hotel dengan tayangan ‘’apa adanya’’ dan monoton, tidak menunjukkan sesuatu yang berkelas, sangat disayangkan. Apalagi durasinya lumayan lama.

Semoga, tahun depan agenda seperti ini bisa berlangsung lebih baik lagi. Apalagi kalau sarana dan prasarana pendukung menuju atau di lokasi wisata sudah memadai, saya yakin para travel agency akan ikut menjual obyek wisata di Banyuwangi. Dengan begitu Banyuwangi semakin dikenal dunia internasional dan banyak uang wisatawan yang dibelanjakan di sini. (cho@jawapos.co.id)

*) Ditayangkan di Radar Banyuwangi Jawa Pos Group tanggal 28 Maret 2012