Jumat, 29 Juli 2011

Banyuwangi Etno Carnaval

Oleh A. Choliq Baya

TAK sampai tiga bulan lagi di Bumi Blambangan bakal ada even akbar berskala internasional. Itu kalau sukses dan tak ada kendala. Namanya Banyuwangi Etno Carnaval (BEC). Rencananya akan digelar 22 Oktober 2011. Agenda itu telah beberapa kali diungkap Bupati Abdullah Azwar Anas. Bahkan, ketika berlangsung Jember Fashion Carnaval (JFC) Minggu (24/7) lalu, panitia juga sempat menyinggung rencana BEC saat konferensi pers dengan para wartawan dari dalam dan luar negeri. Sebab, yang akan mendesain BEC adalah orang-orang yang selama ini menangani JFC.

Sayangnya, hingga kini agenda itu belum tersosialisasi kepada masyarakat secara luas. Sehingga, banyak masyarakat yang tidak tahu. Termasuk, para insan pers juga belum ada yang memberitakan agenda ini di media. Terutama menyangkut isi, misi, dan format BEC yang diharapkan bisa dijadikan sarana menarik para wisatawan lokal dan mancanegara berkunjung ke bumi berjuluk The Santet of Java eh salah, maksudnya The Sun Rise of Java he… he...

Meski belum run news di media massa, tapi kasak kusuk tentang penyelenggaraan BEC sudah jadi bola liar di kalangan para seniman dan budayawan. Hal itu saya ketahui dari seorang teman yang beberapa kali mengirim pesan ke saya via BBM. Ada yang keberatan, ada yang khawatir, dan ada pula yang bersikap wait and see. Alasannya pun macam-macam, mulai kurang melibatkan seniman dan budayawan lokal, khawatir merusak seni budaya lokal, hingga kekhawatiran peserta akan didominasi waria.

Tetapi, di balik alasan itu, mungkin juga ada alasan lain yang tidak terungkap, khususnya menyangkut kepentingan atau agenda tersembunyi. Wallahu’alam. Sebab, ketika saya mengikuti pertemuan seniman dan budayawan di Pendopo Kabupaten Banyuwangi membahas rencana pagelaran even internasional ini beberapa waktu lalu, mereka justru tak terlihat kompak. Yang mengemuka justru ego dan ingin dapat pengakuan diri, sedang sumbangan pemikiran yang terkait rencana menggelar even akbar justru tidak muncul.

Mungkin inilah yang membuat BEC tidak banyak melibatkan seniman atau budayawan lokal tapi diserahkan kepada profesional, yakni Dynand Fariz presiden JFC, yang telah sukses menyelenggarakan JFC selama sembilan tahun di Jember. Meski demikian, mereka sudah diajak urun rembug untuk mengangkat potensi seni budaya Banyuwangi supaya bisa go international. Perkara mereka tidak bisa terlibat atau dilibatkan lebih maksimal dalam BEC semoga tidak menjadi kekecewaan mendalam. Sebab, para seniman dan budayawan tetap diberi kesempatan berkreasi dalam Festival Kuwung yang digelar bersamaan dengan puncak peringatan hari jadi Banyuwangi (Harjaba) di bulan Desember.

Terkait even BEC, semua pihak diharapkan ikut memberikan dukungan. Mengingat, agenda ini baru pertama kali digelar dan persiapan waktunya teramat singkat. Apalagi, even ini membawa misi mulia, yaitu mengenalkan dan mengangkat potensi seni budaya di Banyuwangi ke dunia internasional agar daerah ini dikenal dan jadi jujugan wisata para turis. Dengan semakin dikenalnya potensi di Banyuwangi, akan banyak investor yang berminat untuk menanamkan modal di sini. Tentu, itu akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan rakyat Banyuwangi. Semoga.

Meski demikian, panitia BEC harus tetap merangkul, mendengar saran dan masukan para seniman dan budayawan lokal. Sebab, mereka pasti lebih tahu makna dan filosofi yang terkandung dalam seni budaya asli Banyuwangi. Jangan sampai setelah seni budaya lokal itu diimprovisasi dengan kreasi, variasi, dan dikombinasi dengan unsur-unsur lain yang lebih mengglobal justru akan menghilangkan ruh atau jati diri. Semoga kekhawatiran ini tidak terjadi. Termasuk, panitia juga harus kulo nuwun dengan mendatangi beberapa sesepuh pencetus dan pelaku seni budaya untuk menjelaskan maksud, tujuan, dan misi.

Harapan kita semua, even besar ini bisa diwujudkan karena sudah dirancang dan diagendakan meski persiapannya sangat singkat. Apalagi, beberapa wartawan dari luar daerah sudah dapat informasi mengenai akan digelarnya BEC pada 22 Oktober 2011. Bupati Banyuwangi juga sudah sering woro-woro kepada khalayak tentang rencana penyelenggaraan even ini. Tentu kalau sampai batal atau tertunda akan menurunkan kredibilitas pemerintah daerah, termasuk reputasi presiden direktur JFC yang akan menangani even ini.

Dalam limit waktu yang pendek ini, Pemkab Banyuwangi dan panitia yang ditunjuk harus secepatnya melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas. Tidak hanya informasi masalah waktu penyelenggaraan, tapi yang lebih penting adalah apa isi dan format yang akan disuguhkan dalam BEC nanti. Termasuk, bagaimana caranya untuk bisa ikut menjadi peserta BEC dan tahapan-tahapan apa saja yang akan dilalui. Inilah yang banyak tidak diketahui masyarakat. Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa BEC tak beda jauh dengan Festival Kuwung yang pesertanya dikoordinasi sanggar seni, gugus sekolah, atau kecamatan.

Secara sekilas, saya baru tahu gambaran isi BEC saat diundang Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi untuk dimintai masukan seputar persiapan acara ini dua hari lalu. Prosedurnya hampir tak jauh berbeda dengan JFC. Misalnya, perekrutan peserta dilakukan dengan cara seleksi dengan membuka pendaftaran pada 1–6 Agustus. Selanjutnya, seluruh calon peserta harus mengikuti audisi pada 8-13 Agustus. Peserta yang lolos akan diikutkan work shop setiap Sabtu dan Minggu selama tiga pekan hingga akhir Agustus. Dalam work shop tersebut, peserta mendapat pelajaran tentang cara tampil di cat walk, di hadapan khalayak, menyuguhkan karya seni, dan lain sebaginya.

Selanjutnya, pada minggu kedua di bulan September, akan dilakukan presentasi kostum oleh tim JFC kepada para peserta. Selanjutnya, peserta diharapkan bisa membuat variasi kostum dan bisa memanfaatkan desainer lokal dan menyeleraskan dengan koreografer supaya bisa tampil sempurna. Untuk pengadaan kostum, peserta harus merogoh kocek sendiri karena panitia tidak menganggarkan. Ada rencana bantuan anggaran dari pemkab tapi nilainya sangat kecil. Inilah yang mungkin agak membuat berat. Diharapkan ada instansi atau pihak sponsor yang membantu mendanai, terutama dari instansi pemerintah, perbankan, dan perusahaan-perusahaan swasta.

Mengingat, biaya untuk variasi kostum cukup besar, perekrutan peserta kemungkinan bisa dikoordinasikan dengan instansi yang bersedia mendanai. Sebagai gambaran, anggaran untuk kostum setiap peserta JFC rata-rata sekitar Rp 2,5 juta. Bayangkan kalau pesertanya 500 orang, nilai anggaran yang harus disediakan untuk kostum saja sudah miliaran rupiah. Namun, ini semua masih asumsi, siapa tahu para kreator dari Banyuwangi bisa menyajikan kostum yang lebih heboh dengan biaya murah.

Rencananya seni budaya yang bakal ditampilkan dalam BEC perdana ini adalah gandrung, janger, dan Kuntulan. Ketiga ikon seni budaya Banyuwangi itu bakal ditampilkan dengan corak, warna, dan nuansa yang berbeda. Akan banyak kreasi-kreasi tambahan dari hasil improvisasi para desainer dan koreografer agar peserta yang membawakan seni budaya bisa tampil elegan dan berkelas dunia. Diperkirakan, setiap karya seni akan diikuti 100 orang atau 300 orang untuk tiga ikon seni budaya Banyuwangi yang bakal ditampilkan. Ditambah lagi dengan dari tim JFC sebagai bintang tamu yang akan tampil menjadi pembuka acara.

Sekilas kita bisa membayangkan, Banyuwangi yang pada peak season seperti saat ini banyak dikunjungi wisman, nanti bakal lebih ramai lagi. Apalagi, bila penyelenggaraan BEC di tahun-tahun mendatang waktunya bisa disesuaikan peak season wisman, yakni pada bulan Juli–Agustus, pasti akan lebih menguntungkan. Harapan kita, BEC akan berlangsung sukses dan bisa menjadi penyedot wisman ke Banyuwangi. Segala kekurangan harus dijadikan pelajaran, jangan dijadikan pertentangan yang bisa menghambat dan merusak semangat persatuan dalam memajukan daerah yang kita cintai. (cho@jawapos.co.id)

Rabu, 27 Juli 2011

Menembus Pelosok, Angkat Potensi Desa


Oleh: A. Choliq Baya


TAK terasa harian pagi Radar Banyuwangi yang selalu kita nikmati sebagai ‘’menu sarapan pagi’’, hari ini usianya genap 12 tahun. Seperti biasa, kami banyak menerima ucapan selamat dari para kolega, baik melalui sms, email, jejaring sosial, iklan, ucapan selamat, dan jabat tangan, bahkan datang langsung ke kantor membawa kue tart, tumpeng, atau jajan pasar. Beberapa di antaranya juga menyertakan ucapan doa, harapan, dan kritik membangun agar Radar Banyuwangi bisa tampil lebih baik dan membawa kemaslahatan umat. Tentu semua harapan dan kritik itu menjadi masukan berharga bagi kami untuk berbenah dan melangkah lebih baik di masa mendatang.

Sebagai koran lokal yang beredar di wilayah Banyuwangi dan Situbondo, sudah barang tentu kehadiran Radar Banyuwangi kami harapkan bisa membantu memberikan pencerahan, membuka wawasan, dan mencerdaskan masyarakat. Termasuk, menjalankan fungsi utama media sesuai UU No. 40/1999 tentang pers, yakni sebagai sarana informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Lebih dari itu, kami juga ingin kehadiran Radar Banyuwangi bisa memberikan ‘’kontribusi lebih’’ terhadap daerah tempat kami berpijak. Apa itu?

Jawaban itu ada pada motto Radar Banyuwangi yang telah dicanangkan sejak setahun lalu bertepatan dengan hari ulang tahun ke-11, yakni ‘’pendorong perubahan dan pembaruan’’. Realisasi ‘’misi’’ itu mungkin masih sangat jauh dari harapan masyarakat. Tetapi, itu selalu menjadi penyemangat kami dalam berpartisipasi memajukan Banyuwangi dan Situbondo sesuai peran dan kemampuan yang dimiliki.

Salah satu upaya yang sudah lama kami programkan adalah meningkatkan minat baca warga hingga ke pelosok daerah. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa penerbitan media massa, tentu kami sangat ingin produk kami bisa dibaca banyak warga, termasuk warga di pelosok desa. Mereka sangat layak mendapat informasi aktual tentang perkembangan dunia luar terkini agar mereka juga termotivasi membangun desanya. Melalui media, mereka bisa membandingkan dan mengambil hal-hal positif yang bisa dijadikan bahan atau dicontoh untuk berbenah diri, memacu inovasi, kreativitas, dan dinamika para perangkat desa dan warga untuk melakukan pembenahan wilayah.

Jadi, dengan kehadiran media massa hingga ke pelosok desa, harapan kami bisa mengubah paradigma dan meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus menjadi pendorong perubahan dan pembaruan di segala sektor. Inilah ‘’misi’’ yang sangat kami harapkan bisa menjadi sumbangsih dalam berpartisipasi membangun daerah tempat koran ini beredar.

Sebab, ada pesan khusus dari Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos yang kini menjadi dirut PLN, saat kami diberi amanah mendirikan koran Radar di daerah, ‘’Gunakan Radar untuk mengubah desa menjadi kota.’’ Pesan itu mengandung makna harus ada perubahan dan pembaruan, sesuai motto yang kami canangkan. Terutama, perubahan wawasan, cara pandang, pemikiran, dan kebiasaan-kebiasaan warga ke arah yang lebih dinamis dan kompetitif sebagaimana banyak terjadi di daerah perkotaan.

Harapan mewujudkan itu semua ke arah yang lebih intensif bakal terealisasi mulai bulan depan bersamaan dengan awal bulan suci Ramadan. Ya, kami akan memulai program koran masuk desa mulai dari Banyuwangi dan bekerjasama dengan Askab (Asosiasi Kepala Desa Banyuwangi). Meski secara geografis wilayah Banyuwangi paling luas di Jatim dan karakter alamnya perkebunan, hutan, gunung dan pesisir, yang sulit dijangkau loper koran, kami bertekad warga di pelosok desa harus tetap terlayani. Semoga program ini juga bisa diterapkan di Situbondo.

Untuk memacu dinamisasi dan kompetisi antardesa, kami akan menyiapkan rubrik khusus untuk desa. Rubrik tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengangkat potensi-potensi unggulan di desa. Termasuk, mengangkat program-program inovatif dan prestasi-prestasi membanggakan yang diraih desa. Sehingga, perangkat dan warga desa akan saling terpacu untuk menonjolkan apa yang terbaik di desanya.

***

Pada moment hari jadi ke-12 ini, kami juga berbagi kebahagian, kebersamaan, kepedulian dan solidaritas dengan berbagai kalangan lewat beberapa event, baik event yang bersifat sosial, hiburan, religi, seni, pendidikan, maupun olah raga. Beberapa event yang sudah kami gelar di Banyuwangi, antara lain Pengobatan dan KB Implant Gratis, Sunatan Masal, Donor Darah, Senam Aerobic Competition, Kejurkab Bulu Tangkis, dan Mlaku Bareng Gubernur dan Wakil Gubernur. Selain itu, juga ada kegiatan bersifat fun yang melibatkan karyawan dan agen koran untuk menciptakan keguyuban dan kebersamaan, seperti senam aerobik, lomba ngempit balon, makan kerupuk, memasukkan paku dalam botol, nyisip koran, balap kelereng dalam sendok, dan lain-lain.

Biro Situbondo yang memiliki lima karyawan juga tak mau ketinggalan menggelar event untuk meramaikan hari jadi Radar Banyuwangi. Berkolaborasi dengan beberapa pihak, kantor perwakilan yang dikomandani Edy Supriyono tersebut juga menggelar berbagai macam event, seperti Photography Exhibition, Semarak Damai Sejuta Aksi, Festival Rock, Body Painting, Fashion News Paper Competition, Pameran Lukisan, Wayang Kerteh, Islamic Dance, dan Pameran Produk Unggulan UKM.

Aneka event memeriahkan hari jadi ke-12 itu masih akan berlangsung hingga akhir bulan ini. Hari ini, misalnya, ada serangkaian kegiatan yang akan digelar. Bakda Subuh, misalnya, digelar khotmil Quran di kantor dan ditutup dengan tumpengan pada siang hari. Pagi ini, para “srikandi” Radar Banyuwangi akan turun jalan berjualan koran di beberapa simpang jalan di kota Banyuwangi. Menariknya, setiap pembeli koran akan mendapatkan amplop berisi hadiah. Paling tidak berhadiah ballpoint dan cutting stiker Radar Banyuwangi. Bila beruntung, di dalam amplop itu juga ada kupon berhadiah buku ‘’Ganti Hati’’ atau ‘’Mission Ini Impossible’’. Hadiah buku bisa langsung diambil di kantor Radar Banyuwangi. Sorenya, kami juga akan berbagi bantuan dan bingkisan ke panti asuhan.

Rangkaian agenda hari ulang tahun akan ditutup dengan Malam Tembang Kenangan pada Jumat 29 Juli pukul 19.00 WIB di RM Pondok Wina, Banyuwangi. Dalam resepsi ini, kami mengundang para klien, mitra, pejabat, dan beberapa tokoh masyarakat. Sebagai ungkapan terima kasih, kami juga memberikan penghargaan kepada pelanggan setia, agen koran terbaik, karyawan teladan, dan mitra pemasang iklan terbaik. Semoga, hal itu bisa memacu motivasi dan kinerja segenap pihak demi kemajuan bersama.

***

Tak lupa, kami juga menghaturkan untaian terima kasih yang tak terhingga kepada segenap pihak yang telah berpartisipasi, bekerjasama, dan membantu secara moral dan material. Termasuk, secara pribadi saya yang diamanati mengomandani manajemen Radar Banyuwangi sejak Januari 2010, tak lupa menyampaikan terima kasih kepada seluruh karyawan atas kekompakan dan kerja kerasnya dalam meningkatkan performa perusahaan. Termasuk, dalam memberdayakan kantor perwakilan Situbondo dan Genteng yang kini lebih proaktif dengan kantor baru yang lebih representatif.

Berkat kekompakan dan semangat kerja yang kondusif para karyawan, alhamdulillah Radar Banyuwangi pada tahun kemarin berhasil meraih dua penghargaan dalam rapat evaluasi tahunan antar Radar Jawa Pos Group di bawah naungan PT. Radar Media Nusantara. Kami sebagai juara pertama untuk Penghargaan Istimewa 2010 kategori efisiensi tertinggi dan juara kedua untuk penghargaan khusus 2010 kategori pertumbuhan oplah terbesar. Semoga penghargaan ini semakin memacu kami untuk memberikan yang terbaik kepada pembaca.

Melalui catatan ini, saya juga menyiapkan diri untuk mohon pamit kepada para pembaca dan keluarga besar Radar Banyuwangi. Sebab, tak lama lagi saya harus bergeser tugas ke arah barat, yakni Radar Bromo yang membawahi wilayah Kabupaten/Kota Probolinggo dan Kabupaten/Kota Pasuruan. Mohon maaf manakala ada sikap, ucap, dan tulisan, yang menyinggung atau tidak berkenan di hati para pembaca, termasuk kepada seluruh karyawan Radar Banyuwangi yang telah kompak menunjukkan kinerjanya.

Meski hingga saat ini sudah satu tahun tujuh bulan bertugas di Banyuwangi dan Situbondo, saya tetap tak bisa melupakan daerah ini. Terutama, Banyuwangi yang memiliki berbagai macam potensi cukup besar dan prospektif dengan kondisi alam yang sangat eksotik. Kalau dikelola secara benar, maka tidak akan lama lagi Banyuwangi bisa menyalip kemajuan dan pertumbuhan ekonomi daerah tetangga, Jember. Semoga! (cho@jawapos.co.id)

Senin, 25 Juli 2011

Mendorong Swasta Memacu Daerah


Oleh: A. Choliq Baya

PEMBANGUNAN di daerah tidak akan bisa bergerak dengan cepat manakala pihak swasta tidak dilibatkan. Apalagi, dalam beberapa hal pemerintah menemui banyak kendala dalam merealisir program pembangunan yang telah dicanangkan. Mulai dari masalah administrasi, birokrasi, regulasi, lambannya realisasi pencairan APBD, persoalan sumber daya manusia, dan lain sebagainya. Sehingga, kalau kepala daerah tidak kreatif, inovatif dan tidak tanggap dengan kondisi yang ada maka pembangunan di daerah akan jalan di tempat.

Beruntung beberapa kepala daerah cukup tanggap dan menyadari dengan kondisi yang membelit institusi yang dipimpinnya. Diantaranya kepala daerah Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo yang terus mencari terobosan dengan menggandeng pihak swasta. Beberapa kali kepala daerah ini mengajak pihak swasta yang dianggap bisa membantu menggarap dan mengembangkan berbagai potensi yang ada di daerah. Termasuk mendatangkan investor dari luar daerah untuk membangun daerah.

Bupati Situbondo Dadang Wigiarto misalnya, beberapa waktu lalu sempat mengumpulkan pengusaha atau orang-orang berduit asal Situbondo yang ada di luar daerah. Dalam pertemuan di hotel San Sui Pasir Putih itu, bupati minta kepada para pengusaha agar lebih peduli untuk ikut membangun daerah asalnya. Sebab, tanpa bantuan orang-orang berduit, potensi yang ada di daerah miskin ini tentu akan sulit terangkat. Namun, saya kurang tahu persis tindak lanjut yang lebih riil dari pertemuan itu. Saya hanya bisa berharap, para pemilik modal yang merupakan putra daerah ini juga punya kepedulian tinggi untuk ikut membangun daerahnya. Di samping itu, kepala daerah juga terus mendorong dan memberi peluang yang menjanjikan bagi investor.

Apalagi, beberapa investor besar dari luar daerah sudah berancang-ancang menanamkam modalnya di kota santri. Seperti rencana membangun galangan kapal di Mangaran oleh investor dari luar negeri sekarang kita semua masih menunggu kelanjutan dari rencana itu. Selain itu, sebuah perusahaan pengeboran minyak sekarang sedang melakukan survei untuk mengetahui kandungan minyak yang ada di Laut Jawa yang berlokasi di utara Situbondo.

Demikian pula dengan yang dilakukan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Beberapa kali pihak swasta diajak bertemu untuk membahas pengembangan berbagai potensi yang ada di Banyuwangi. Mulai dari seniman, budayawan, LSM, aktivis ormas, tokoh agama, akademisi, para pengusaha dan elemen masyarakat yang lain. Untuk menggerakkan sektor-sektor riil terutama terkait dengan percepatan ekonomi ataupun laju dunia usaha di Banyuwangi, beberapa pengusaha juga diajak urun rembuk mencari jalan terbaik untuk memajukan daerah. Terutama para pengusaha dari kalangan perbankan, perhotelan, transportasi, pariwisata, perkebunan dan industri.

Beberapa langkah sudah terlihat hasilnya, seperti beroperasinya penerbangan Banyuwangi – Surabaya yang dilayani Sky Aviation. Juga kredit usaha kecil dengan bunga ringan untuk menggerakkan perekonomian di tingkat bawah. Meski demikian, kedua program yang sudah jalan itu masih butuh perbaikan dan pengawasan agar bisa bertahan dan berjalan sebagaimana mestinya.

Di sektor pariwisata yang diharapkan sudah bisa mulai memberikan sumbangan pemasukan terhadap kas daerah, ternyata belum bisa menghasilkan seperti yang diharapkan. Padahal, anggaran untuk dinas pariwisata ini sudah diperbesar dan beberapa event seperti fam trip sudah digelar, tapi pada musim liburan wisatawan mancanegara (wisman) seperti saat ini masih belum terlihat geliatnya. Upaya untuk menarik wisman belum terlihat, karena Disparta belum bisa menggerakkan jaringan pengelola wisata. Karena itu, bupati mengambil inisitif mempertemukan para pengelola wisata dari perhotelan, travel dan pihak terkait untuk mencari solusi agar sektor pariswisata ini bisa cepat jalan dan menghasilkan.

Pasalnya, beberapa pengelola hotel dan biro perjalanan wisata yang ada di daerah banyak yang pasif dan berjalan sendiri. Padahal, seandainya jaringan di antara pelaku wisata seperti hotel, biro perjalanan, pengelola obyek wisata, pemandu wisata dan Disparta ini connect, termasuk dengan pelaku wisata di daerah lain, pasti akan banyak wisatawan yang datang ke Banyuwangi. Disinlah perlunya pihak swasta dirangkul, dimintai masukan dan disambungkan dengan berbagai elemen terkait.

Di sektor industri juga demikian. Meski beberapa pabrik pengolahan dan pengalengan ikan di Muncar ada yang gulung tikar, beberapa investor sudah ada yang menanamkan uangnya di Banyuwangi. Misalnya Semen Gresik yang sudah mulai membangun pabrik pengantongan semen di Ketapang. Beberapa investor juga berancang-ancang masuk, seperti Bosowa yang akan membangun pabrik semen, juga beberapa investor lain dari Belanda, Swedia, New Zealand, Australia, Amerika, Thailand, Korea dan Maladewa. Mereka ingin menggarap usaha resort, lapangan golf, wisata bunga, perkebunan kopi, industri baja, industri perikanan, bahan peledak dan pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Termasuk menghidupkan kembali Pabrik Kertas Basuki Rahmat dengan skala produksi yang lebih besar. Pabrik kertas legendaris itu tak lama lagi bakal dapat kucuran dana dari BNI. Mesin baru berkapasitas besar yang didatangkan dari swedia pada tahun 1997 sudah siap dioperasikan. Tak lama lagi rekrutmen karyawan akan dilakukan. Bila pabrik ini sudah berproduksi, sektor lain juga akan bergerak. Diantaranya pelabuhan peti kemas Tanjungwangi yang kini mati suri, akan berfungsi sebagai sarana untuk mengirim hasil produksi dan menerima bahan baku untuk produksi kertas.

Meski daerah butuh investor untuk menggerakkan roda perekonomian dan memacu kemajuan daerah, bukan berarti setiap investor diberi keleluasaan bergerak. Ada imbauan menarik yang patut diapresiasi dari bupati Sumbawa Barat Dr KH Zulkifli Muhadli saat menyampaikan paparan soal pertambangan di gedung DPRD Banyuwangi, Rabu lalu. Menurutnya, untuk investor yang jenis usahanya mengambil mineral dari alam, maka pemerintah harus mempersulitnya. Mengingat, sumber daya alam itu merupakan titipan Tuhan yang harus dijaga untuk anak cucu kita kelak.

Artinya, pemerintah harus lebih hati-hati dan waspada terhadap setiap pemberian izin kepada investor yang mengeruk kekayaan dari alam. Jangan sampai dampaknya di kemudian hari menimbulkan permasalahan yang cukup pelik bagi warga maupun makhluk lain. Tetapi, pemerintah juga tidak perlu takut yang berlebihan, sebab kekayaan alam pemberian Tuhan ini juga harus dimanfaatkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Prinsip utama yang harus dikedepankan untuk kalangan swasta atau investor yang ingin melakukan usaha di daerah ada tiga. Yaitu, taat asas (tidak melanggar aturan), menguntungkan rakyat dan tidak merugikan investor. Semoga dengan mengedepankan ketiga prinsip ini, pihak swasta yang ingin memacu dan membangkitkan dunia usaha bisa mendapatkan keuntungan sekaligus menyejahterkan warga masyarakat. Semoga. (cho@jawapos.co.id)