Jumat, 27 Mei 2011

Blambangan International Carnival


Oleh A. Choliq Baya

BERBAGAI upaya untuk memperkenalkan potensi Bumi Blambangan ke dunia internasional terus dicoba dan dilakukan. Sebab, daerah ini memang sangat kaya potensi alam, aneka kuliner, seni, dan budaya. Semua potensi yang ada itu, kalau kita pandai mengemas, pasti bisa dijual kepada para wisatawan, baik lokal maupun internasional. Imbasnya, nama Banyuwangi beserta potensi yang dimiliki akan semakin dikenal. Di samping itu, akan ada tambahan pemasukan dari sektor pariwisata yang bisa digunakan untuk membangun daerah ini agar lebih maju dan berkembang.

Apalagi, saat ini Banyuwangi sudah memiliki bandara udara dengan armada pesawat yang bisa mengangkut 48 penumpang. Sehingga, bisa diandalkan untuk menarik para wisatawan dan investor yang berminat datang untuk menanam dan membelanjakan uangnya di bumi berjuluk The Sun Rise of Java ini. Tinggal sekarang potensi apa yang diharapkan bisa dikemas dan dijual untuk dijadikan pengungkit agar para wisatawan itu secara kontinu datang ke Banyuwangi.

Inilah yang sekarang sedang digodok Pemkab Banyuwangi bersama para stake holder, khususnya kalangan seniman dan budayawan. Salah satu upaya yang kini sedang disiapkan adalah membuat even berskala internasional. Even besar itu diharapkan bisa digelar secara berkesinambungan setiap tahun dan menjadi kalender wisata andalan. Even itu diharapkan pula bisa menjadi ikon Banyuwangi sebagaimana yang dilakukan daerah lain. Seperti tetangga kita punya even spektakuler Jember Fashion Carnival (JFC), Solo Batik Carnival (SBC), Tomohon Flower Festival (TFF), Jogja Java Carnival (JVC), dan lain sebagainya. Nanti juga bisa menandingi even spektakuler di luar negeri, seperti Pasadena Chalk Festival (PCF) di AS atau Modern Brazilian Carnival (MBC) di Brazil.

Untuk merintis even berkelas internasional, pekan kemarin Bupati Banyuwangi mengumpulkan para seniman dan budayawan di pendapa kabupaten untuk dimintai masukan. Dalam forum itu juga dihadirkan Presiden Direktur JFC, Dynand Mirza, untuk memberi wawasan dan kiat-kiat jitu bagaimana cara mengeksplor seni budaya lokal menjadi tontonan menarik yang bisa memikat wisatawan untuk datang. Visualisasi even JFC yang sudah go international juga ditampilkan dengan harapan bisa memotivasi dan menginspirasi para seniman dan budayawan Banyuwangi menciptakan even menarik berskala internasional.

Sayangnya, tanggapan dan masukan dari para seniman dan budayawan di forum itu banyak yang kurang nyambung. Harapan untuk memperoleh masukan yang bisa mewujudkan even berskala internasional tampaknya tidak bisa fokus. Yang lebih banyak muncul justru ego sektoral, merasa diri maupun kelompoknya paling mampu dan sudah berbuat banyak. Bahkan, forum itu juga dijadikan ajang untuk menghujat, merendahkan, dan meremehkan, kelompok lain yang sama-sama berkiprah untuk memajukan seni budaya di negeri ini. Termasuk, juga kurang bisa menghargai karya spektakuler para seniman lain.

Kalau situasinya seperti ini terus berlanjut, saya tidak yakin mereka mampu diamanahi mengelola event besar berskala internasional. Yang muncul justru saling sikut dan lebih mengedepankan ego. Oleh karena itu, sudah saatnya para seniman dan budayawan yang biasanya dikenal sangat santun, saling bersatu dan tidak memelihara perpecahan dan perseteruan. Mari kita tunjukkan karya nyata kita untuk negeri ini.

Selanjutnya, terkait persiapan even berskala internasional yang diharapkan bisa dimulai tahun ini, akan lebih efektif ditangani tim kecil dengan dipandu pentolan JFC yang sudah berpengalaman. Misalnya, memilah seni budaya apa saja yang bisa dikemas dan dijual untuk pasar internasional. Bagaimana cara mengemas dan menjualnya? Apa nama even yang bakal dijadikan ikon agenda wisata spektakuler Banyuwangi? Kapan waktu yang tepat menggelar even itu? Bagaimana cara mengorganisirnya?

Mengenai nama dan waktu, sudah ada beberapa usulan yang masuk, di antaranya nama event harus mudah dikenal dan ngetren. Artinya, sedang banyak digunakan untuk nama even sejenis di beberapa negara. Akhirnya muncul nama Banyuwangi International Carnival dan Blambangan International Carnival. Waktunya antara bulan September dan Oktober. Alasannya, menyangkut persiapan penyelenggaraan, waktu peak season wisman, dan lain-lain.

Mengenai seni budaya lokal apa yang dieksplor dalam even tersebut, saat ini sedang didalami dan digodok tim kecil. Yang jelas, tidak semua kekayaan seni Budaya Banyuwangi bisa dieksplor dan dijual di even besar. Sebab, ada yang harus dikolaborasi dengan unsur lain agar layak jual. Seni budaya yang tidak masuk even ini tetap diakomodasi agar bisa tampil seperti biasa di ajang Festival Kuwung.

Kita semua berharap agenda even berskala internasional bernuansa seni budaya asli Banyuwangi itu terwujud mulai tahun ini. Tujuannya, bisa menarik para wisatawan dari dalam dan luar negeri untuk datang ke Banyuwangi menyaksikan even besar tersebut. Multiplier effect lain yang diharapkan, para wisatawan bisa melihat potensi Banyuwangi yang lain, di antaranya aneka wisata alam yang cukup eksotik; seperti Gunung Ijen, Pantai Plengkung, Pantai Sukamade, aneka satwa langka di Alas Purwo, Baluran, Meru Betiri, dan tempat-tempat wisata lain.

Bila mereka terkesan dengan aneka suguhan yang ditampilkan di even besar maupun tempat-tempat wisata yang dikunjungi, berarti misi mengenalkan sekaligus mengangkat potensi daerah ini ke dunia luar berhasil. Sebab, dari sini mereka pasti akan bercerita kepada para kerabatnya di luar negeri tentang kepuasaan yang didapat saat mengunjungi Bumi Blambangan. Tentu itu sebuah promosi gratis yang cukup membantu mengenalkan Banyuwangi kepada dunia luar. Di samping itu, para stake holder juga tak lupa tetap mempromosikan aneka potensi Banyuwangi lewat berbagai cara dan berbagai media.

Lantaran even ini baru kali pertama digelar dengan persiapan waktu yang sangat pendek, tentu kita harus menyadari manakala nanti masih banyak kekurangan. Termasuk, masih belum bisa mendatangkan wisatawan secara maksimal mengingat even ini baru diperkenalkan. Tetapi, seiring perjalanan waktu pasti akan banyak penyempurnaan, baik dari sisi pengorganisasian even maupun kreasi seni budaya yang ditampilkan.

Oleh karena itu, pihak-pihak terkait yang peduli kemajuan Banyuwangi hendaknya tidak tinggal diam. Terlebih lagi leading sector penggerak even yang ada di Pemkab Banyuwangi, yakni Dinas Pariwisata, harus lebih pro-aktif melakukan terobosan dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Apakah itu dengan praktisi pariwisata, seperti pemandu wisata, biro perjalanan, pemilik rumah makan, hotel, seniman, budayawan, media massa, dan lain sebagainya. Semua diharapkan bisa memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan yang akan berkunjung ke Banyuwangi.

Semoga beberapa upaya yang telah dirintis untuk mengangkat potensi daerah ini ke level internasional terwujud dan membawa manfaat bagi kemajuan Banyuwangi di masa depan. (cho@jawapos.co.id)

Jumat, 20 Mei 2011

Memaksimalkan Peran Humas


Oleh A. Choliq Baya

TINGKAT kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan jajaran pemerintahannya terus merosot. Bahkan, tingkat kemerosotannya kali ini tergolong paling parah karena sudah turun menembus batas ‘’aman’’, yakni di bawah 50 persen. Data survei Indo Barometer sebagaimana dilansir Jawa Pos (16/5) mengungkapkan, kepuasan publik terhadap kinerja SBY pada Agustus 2009 masih 90,4 persen. Selanjutnya, terjun bebas menjadi 74,5 persen pada Januari 2010 dan 50,9 persen pada Agustus 2010. Kini, pada Mei 2011, tingkat kepuasan rakyat terhadap kinerja pemerintahan SBY merosot menjadi 48,9 persen.

Mengetahui kondisi itu, salah seorang petinggi Partai Demokrat selaku pendukung utama pemerintah meradang. Mereka menuding sejumlah kementerian kurang aktif mengomunikasikan program-program yang sudah dikerjakan pemerintah kepada publik. Peran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang seharusnya menjadi motor penggerak utama dalam menjalankan fungsi komunikasi dinilai belum maksimal. Akibatnya, banyak program yang sudah dilakukan pemerintah tidak diketahui publik.

Sejatinya, peran Kementerian Kominfo dalam membangun citra maupun mengomunikasikan program pemerintahan sangat vital. Peran itu di perusahaan atau di institusi pemerintah daerah tak jauh berbeda dengan yang dilakukan bagian humas. Mereka inilah yang bertugas menyosialisasikan program-program pembangunan pemerintah yang telah maupun akan dilakukan kepada publik. Termasuk, menyosialisasikan produk yang telah dihasilkan atau kebijakan baru pemerintah.

Dalam era Orde Baru (Orba), peran kehumasan pemerintahan ditangani Menteri Penerangan yang aktivitasnya cukup mendominasi. Bahkan, institusi ini bisa memberangus media massa yang dianggap tidak sejalan dengan pemerintah. Selain itu, di tingkat daerah juga masih ditunjang oleh yang namanya juru penerang (jupen). Mereka inilah yang bertugas menyosialisasikan dan mengomunikasikan program-program pemerintah kepada masyarakat secara langsung. Bahkan, mereka juga dibekali peralatan yang cukup memadai, seperti mobil penerangan lengkap audio dan proyektor untuk pemutaran film.

Mengingat perannya cukup dominan, maka menteri yang paling dikenal pada era Orba adalah Menteri Penerangan. Khususnya saat kementerian itu dipimpin Harmoko, yang mantan wartawan. Lantaran sering muncul di media massa dan selalu menyosialisasikan program dan kebijakan pemerintah dengan menyebut ‘’sesuai petunjuk Bapak Presiden’’, banyak rakyat yang muak. Bahkan, beberapa pihak berani memelesetkan nama Harmoko yang banyak omong demi memenuhi tugasnya itu menjadi ‘’hari-hari omong kosong’’.

Sekarang eranya sudah berbeda, yakni era informasi dan keterbukaan. Meski struktur lembaga dan bentuk komunikasi yang bisa dilakukan saat ini berbeda dengan Orba, tapi kita bisa mengambil hikmah dan semangat tak kenal lelah yang ditunjukkan Harmoko. Bila personel humas tidak gesit, tidak memiliki motivasi dan inovasi dalam mengimplementasikan program-program pemerintah tentu itu bisa melemahkan kepercayaan publik.

Keberadaan humas memang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan dan opini publik. Termasuk, harus sejalan dengan tuntutan transparansi oleh masyarakat luas terhadap pelayanan pemerintah. Selama ini peran dan fungsi humas di lingkungan pemerintahan masih sangat terbatas dan belum optimal. Alasannya, karena keterbatasan kemampuan SDM para pejabat humas dalam penguasaan substansi tugas dan peran. Di samping itu, kurangnya pejabat yang berkualifikasi kehumasan dari sisi pendidikan formal, dan masih terbatasnya pemahaman tentang arti dan fungsi humas itu sendiri.

Peran dan fungsi humas pemerintah selama ini masih kalah kelas bila dibandingkan dengan public relations organisasi bisnis atau dunia usaha. Oleh karena itu, aparatur kehumasan pemerintah sebisa mungkin lebih memperluas wawasan. Termasuk, pemahaman dan pengetahuan seputar dunia kehumasan agar kinerja dan profesionalisme tugas pemerintahan dapat terlaksana dengan baik.

Dalam sebuah organisasi, khususnya di lingkup pemerintahan, humas memegang peranan yang sangat penting dan strategis. Selain itu, sebagai sebuah kegiatan komunikasi, humas juga berfungsi sebagai jembatan untuk membangun suasana yang kondusif dalam kerangka win-win solutions, antar stakeholders organisasi, baik internal maupun eksternal, dalam rangka membangun citra institusi pemerintah itu sendiri.

Selaku ‘’corong’’ pemerintah, bagian humas hendaknya tidak hanya bertugas mengkliping berita atau mengkoordinasi para jurnalis agar ikut kunjungan rombongan presiden atau kepala daerah ke lapangan. Tetapi, bagaimana caranya mereka juga bisa mengarahkan sekaligus menyiapkan materi berita yang layak untuk konsumsi publik. Sebab, tidak semua agenda kegiatan dan program pemerintah memiliki nilai jual bagi media.

Tetapi, kalau program atau kegiatan pemerintahan itu dianggap memiliki momen dan nilai penting menurut kacamata pemerintah, tentu bisa dilakukan dengan cara memasang advertorial (iklan berita) di media. Hal itu juga bisa dilakukan oleh institusi lain di internal pemerintahan, seperti kantor kementerian, biro, dinas, bagian, dan lain sebagainya. Salah satu tujuannya, agar masyarakat tahu apa saja program yang telah direalisasikan pemerintah untuk rakyat. Mengingat, banyak masyarakat yang tidak tahu realisasi dari janji presiden atau kepala daerah seperti yang dilontarkan saat kampanye pemilihan presiden, gubernur, bupati, dan walikota.

Begitu pula dengan realisasi program-program yang telah dicanangkan atau disusun pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) maupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Kalau ini tidak disosialisasikan, tentu rakyat tidak tahu seperti apa arah dan langkah pemerintah dalam mengelola negara ini. Akibatnya, rakyat menilai pemerintah tidak melakukan terobosan apa pun dalam membangun negeri ini. Dampaknya, citra pemerintah merosot, tingkat kepercayaan publik kepada pemerintah juga menurun.

Yang juga tak kalah penting, para staf humas juga harus dibekali kemampuan menulis dan berkomunikasi. Tujuannya, supaya bisa menyusun press release atau membuat materi advertorial yang press clear untuk media massa agar bisa sejalan dengan misi pemerintah. Terutama, untuk media yang wartawannya tidak bisa mengikuti kegiatan pemerintah karena lokasinya sangat jauh atau karena faktor lain. Perkara press release yang dikirim ke media massa itu nanti dimuat ataukah tidak, itu urusan lain. Yang penting, tugas kehumasan telah dilaksanakan dengan baik.

Terkait materi advertorial, memang harus digarap dengan tidak grusa-grusu dan tidak asal-asalan. Materinya juga harus yang benar-benar berkualitas, padat, ‘’berisi’’, dan tidak sekadar menampilkan agenda kegiatan seremonial disertai foto-foto salon para petinggi pemerintahan. Hilangkan kesan formal dan ABS (asal bos senang). Sehingga, pembaca atau pemirsa tidak merasa jenuh dengan materi yang ditampilkan.

Salah satu contoh materi untuk kepentingan pencitraan pemerintah Banyuwangi yang bisa diangkat dan disebar ke publik adalah program perbaikan jalan. Hal itu untuk mengobati kekecewaan masyarakat akibat banyaknya jalan amburadul di daerahnya. Apalagi, berita jalan rusak ini beberapa kali dikeluhkan warga di media massa. Kalau dalam APBD tahun ini ada anggaran untuk perbaikan jalan-jalan rusak, maka bagian humas harus bisa mengomunikasikan program perbaikan jalan itu.

Misalnya, berapa panjang jalan di Banyuwangi yang tergolong rusak berat dan rusak ringan? Di mana saja lokasi jalan rusak itu? Kemudian, pada tahun ini dengan kemampuan APBD yang sangat terbatas, jalan-jalan rusak di daerah mana saja yang mendapat prioritas perbaikan lebih dulu? Kenapa harus daerah itu yang perbaikannya didahulukan? Berapa anggaran yang dikucurkan untuk membangun jalan rusak itu? Humas harus bisa membuat rangkaian tulisan yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas agar terlihat transparan dan bisa diapresiasi semua pihak.

Untuk mengetahui jawaban-jawaban di atas, tentu humas bisa melakukan koordinasi dengan instansi terkait yang menjadi leading sector dari program perbaikan jalan. Termasuk, mengakomodasi pendapat para tokoh masyarakat, anggota DPRD, kepala DPU, dan bupati, untuk mempertegas dan memperjelas komitmen pemerintah dalam merealisasikan program pembangunan. Dengan mengomunikasikan pelaksanaan program pemerintah yang sedang maupun sudah dikerjakan disertai bukti nyata berupa foto, masyarakat akan menilai bahwa pemerintah atau kepala daerah benar-benar telah merealisasikan janjinya.

Selain itu, masih banyak program pembangunan lain yang bisa diangkat ke permukaan, termasuk berinovasi melakukan terobosan-terobosan baru dalam bentuk lain untuk meningkatkan citra dan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Itu menjadi bidang garapan bagian humas untuk menyosialisasikan kepada publik. Wallahu a’lam bissawab. (cho@jawapos.co.id)

Rabu, 18 Mei 2011

Booming Buah Durian


Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Oleh A. Choliq Baya

BAGI penggemar buah durian, kini saat yang tepat untuk memanjakan diri menikmati buah beraroma menyengat itu sepuas-puasnya. Selain banyak pilihan dan mudah didapatkan, harganya juga sangat murah meriah, terutama di Banyuwangi. Ya, pada bulan April dan Mei seperti sekarang ini, Banyuwangi benar-benar sedang booming durian. Di daerah lain, umumnya panen durian terjadi pada bulan November-Desember atau Januari-Februari.

Melimpah ruahnya hasil panen buah dengan kulit berduri tajam itu menyebabkan banyak pedagang durian dadakan yang menggelar dagangan di pingir jalan hingga ke pasar. Bahkan, banyak pula yang didistribusikan ke luar kota. Sebab, durian asal Banyuwangi sudah cukup dikenal. Salah satu daerah yang sering disebut-sebut sebagai asal durian paling enak adalah Songgon.

Ya, nama kecamatan di Banyuwangi itu memang sangat dikenal sebagai daerah penghasil buah bernama latin Durio zibethinus. Padahal, daerah penghasil durian di Banyuwangi tidak hanya Songgon. Ada banyak desa di beberapa kecamatan yang punya andil besar sebagai penyuplai buah unggulan daerah ini. Terutama, yang tersentral di Kecamatan Licin, Kalipuro, Kabat, dan Kalibaru.

Diperkirakan, luas lahan tanaman durian di Banyuwangi mencapai 16 ribu hektare. Hebatnya lagi, setiap pohon durian bisa menghasilkan sekitar 400-500 buah. Bisa dibayangkan kalau tanaman durian di Banyuwangi berbuah semua, kalau tidak dipasarkan ke luar kota, pasti bakal terjadi banjir durian he.. he.. he..

Apalagi, durian asal Bumi Blambangan cukup banyak varietasnya. Ada durian mentega, durian kasur, petruk, susu, montong, jenewer, kepondang, dan masih banyak lagi. Termasuk, varietas yang agak langka, yaitu durian merah (Durio graveolens) yang pohonnya hanya ada dua di Banyuwangi. Satu pohon dimiliki warga Desa Balak, Kecamatan Songgon, satu lagi milik warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.

Selain itu, durian asal Banyuwangi juga mempunyai cita rasa ‘’maknyus’’ dengan aroma yang cukup ‘’menggoda’’. Konon, cita rasa khas itu akibat pengaruh terpaan asap belerang kawah Gunung Ijen dan Gunung Raung. Terutama, durian yang dihasilkan dari tanaman di areal sekitar lereng kedua gunung itu.

Durian merah yang jadi komoditas unggulan Banyuwangi juga memiliki rasa manis legit dan warna yang eksotik. Durian merah yang juga dikenal dengan nama siwayut itu banyak diburu penggemar durian hingga dari luar kota. Terutama, dari kalangan pejabat dan pihak-pihak yang sudah tahu khasiat duren merah.

Bahkan, sebelum dipanen alias masih di atas pohon, siwayut sudah banyak diinden para penggemarnya. Sebab, durian ini sangat langka karena di Banyuwangi hanya ada dua pohon. Masing-masing pohon hanya menghasilkan sekitar 150 buah setiap panen dalam kurun waktu satu tahun. Selain itu, durian siwayut diyakini memiliki khasiat bisa menambah vitalitas kejantanan lelaki. Selain di Banyuwangi, durian merah juga tumbuh di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Melihat potensi komoditas durian yang demikian besar di Banyuwangi, seharusnya ada penanganan dan perlakuan lebih spesifik dari pemerintah. Khususnya dalam menjadikan komoditas ini menjadi produk unggulan daerah yang lebih ekonomis. Tidak hanya sekadar dijadikan kebanggaan dengan cara dipamerkan, dikonteskan, atau dijual lewat event pasar murah. Sebab, hal itu tidak bisa meningkatkan pendapatan petani durian secara signifikan.

Apalagi, dalam masa-masa booming seperti saat ini, harga durian terjun bebas. Sama dengan hasil tanaman agro lain, seperti tomat, cabe, bawang, jeruk, dan lain-lain yang harganya juga anjlok saat musim panen. Bahkan, terkadang petani terpaksa membiarkan begitu saja tanamannya yang siap panen karena biaya operasional lebih tinggi daripada hasil panen. Itu semua dikarenakan tidak ada penanganan dan regulasi yang jelas dan tegas dari pemerintah. Sehingga, harga hasil komoditas agro kita sering diombang-ambing para tengkulak yang cenderung merugikan petani.

Sebenarnya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk melindungi sekaligus memberdayakan para petani, mulai pembenihan, pembibitan, pemupukan, perawatan, hingga pemanenan, agar bisa menghasilkan produk berkualitas. Selain itu, pemerintah seharusnya juga bisa memfasilitasi pendistribusian hasil panen dan proteksi harga agar tidak jatuh. Apakah itu dengan cara membuat regulasi mengenai tata niaga distribusi, membuat pasar khusus agro dan hortikultura, mempertemukan langsung dengan para pengusaha besar seperti pengelola supermarket, pabrik, dan eksporter yang bisa membeli produk petani.

Yang juga tak kalah penting adalah pemerintah harus bisa menciptakan diversifikasi usaha hasil agro dan hortikultura. Misalnya saat panen durian, semua durian tidak dijual dalam bentuk mentah. Tetapi, bagaimana caranya durian itu juga bisa disulap menjadi aneka macam produk makanan olahan yang bisa tahan lama, misalnya dibuat dodol, selai, manisan, roti, permen, keripik, bakpia, eskrim, minuman, dan lain-lain, dengan bahan utama buah durian. Kemudian dikemas yang baik dan diberi label dengan tetap mengedepankan produk unggulan Banyuwangi.

Ada pelajaran yang bisa dicontoh dari negeri tetangga kita, Thailand, yang cukup dikenal dengan hasil agronya. Kebetulan tahun 2004 saya mendapat kesempatan mengikuti rombongan Pemkab Jombang berguru pertanian ke Thailand, di antaranya mengunjungi kebun buah Supatra Land di Provinsi Rayong dan pasar induk agro bisnis terbesar di Asia, Talaad Thai di Bangkok.

Di Supatra Land, kami bisa melihat budidaya aneka macam buah yang sebagian besar bisa panen meski tidak pada musimnya, mulai dari pembibitan hingga pendistribusian hasil panen. Di kebun buah milik pemerintah yang dikelola swasta itu, kami juga diperlihatkan cara pembuatan pupuk dari kotoran ayam yang diramu dengan beberapa bahan lain. Pupuk produk sendiri itu digunakan untuk memupuk tanaman dan budidaya ikan di kompleks perkebunan itu juga.

Selain itu, kami juga diajak keliling kebun menggunakan kereta kelinci untuk melihat aneka buah yang bergelantungan dan cukup menyegarkan dipandang mata. Ada buah naga, durian, anggur, manggis, rambutan, kecapi, jeruk, belimbing, jambu, alpukat, sawo, pepaya, markisa, dan lain-lain. Beberapa pegawai kebun juga terlihat tengah memanen buah. Selain dikirim ke pasar agro, supermarket, dan pabrik pengolahan, aneka buah itu juga dihidangkan kepada para wisatawan. Di situ kami bisa memilih buah dan bisa memakan sepuasnya, termasuk makanan dan minuman olahan dari sari buah.

Berkaca dari situ, ada proses keterpaduan mulai pembibitan tanaman hingga pendistribusian hasil panen. Model ini saya kira bisa dicontoh pemerintah terkait mengelola produk unggulan Banyuwangi. Selain durian, ada produk agro dan hortikultura unggulan lain yang bisa dikembangkan, seperti manggis, pisang, jeruk, cabe, kedelai, kopi, dan kakao. Tinggal kita menunggu adanya kemauan, keseriusan, dan upaya konkret pemerintah melalui dinas terkait untuk menyejahterakan kehidupan petani. (cho@jawapos.co.id)