Selasa, 22 Maret 2011

Menghapus Citra Daerah Pelacur


Ditayangkan di Radar Banyuwangi 18 Maret 2011

Oleh: A. Choliq Baya

PEKAN lalu, di harian Radar Banyuwangi ada berita 75 pekerja seks komersial (PSK) asal Banyuwangi akan dipulangkan dari Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Pasalnya, pemerintah kota (Pemkot) Balikpapan berencana menutup lokalisasi Km 17 yang merupakan tempat pelacuran terbesar di Provinsi Kaltim. Karena jumlah PSK asal Banyuwangi cukup besar, Pemkot Balikpapan terpaksa harus memberitahu melalui surat resmi kepada instansi terkait di Pemkab Banyuwangi. Yaitu, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, tentang rencana pemulangan wanita tuna susila (WTS) itu.

Melihat jumlahnya yang cukup besar dan berasal dari 22 kecamatan yang ada di Banyuwangi, ini mengindikasikan ‘’kontribusi’’ wanita nakal asal Bumi Blambangan cukup merata. Sebab, dari 24 kecamatan yang ada di Banyuwangi, berarti hanya ada dua kecamatan yang tidak ikut andil ‘’menyumbangkan’’ warganya ke dunia hitam. Tapi, bukan berarti kecamatan yang tidak ‘’menyumbangkan’’ PSK di lokalisasi KM 17 tidak ada di lokasi lain lho.

Beberapa tahun silam, koran Jawa Pos pernah menurunkan laporan tempat-tempat prostitusi besar dan legendaris yang ada di beberapa wilayah di Indonesia. Mulai dari lokalisasi yang ada di Papua, Batam, Maluku, Bali hingga di Semarang, Surabaya dan beberapa tempat lainnya. Di antara data yang dilansir menyebut, penghuni lokaslisasi ternyata banyak yang berasal dari Banyuwangi. Termasuk, sumber berita yang diwawancarai, juga menyebut berasal dari Banyuwangi.

Selain itu, saya juga masih ingat betul ketika tahun 1991 melakukan penelitian untuk penyusunan skripsi dengan mengambil obyek di lokalisasi Bangunsari Surabaya. Dari sekitar 900 lebih penghuni lokalisasi di kawasan Demak Surabaya itu, setelah saya tabulasi asal daerahnya, ternyata yang paling banyak berasal dari Banyuwangi dan Malang. Menariknya lagi, sebagian besar dari mereka cukup menguasai syariat agama dan tak jarang yang mengamalkan kewajiban ajaran agama seperti salat dan puasa.

Meski demikian, saya tidak berani mengambil kesimpulan kalau Kota Gandrung menjadi ‘’penyuplai’’ terbesar PSK di beberapa lokalisasi yang ada di Indonesia. Sebab, saya memang tidak tahu data-data konkret di lokalisasi lain. Namun, kalau saya mengamati fenomena sosial daerah ini, ditambah masukan dari hasil diskusi kecil dengan beberapa elemen masyarakat, indikasi Banyuwangi menjadi salah satu penyuplai PSK terbesar, cukup beralasan.

Beberapa teman yang paham betul kondisi sosiokultural warga Bumi Blambangan tak menampik indikasi itu. Bahkan, mereka juga mengungkap ada sebuah desa di Banyuwangi yang para wanitanya banyak menjadi PSK di luar daerah. Ketika mudik lebaran, mereka selalu jorjoran tampil gemerlap menunjukkan harta dari hasil jerih payahnya sebagai wanita pemuas birahi.

Seorang teman lagi ada yang menimpali, kalau dia juga mendapat informasi bahwa ada beberapa warga di sebuah desa di Banyuwangi yang menjual diri dengan cara tukar diri dengan tetangganya. Modusnya, tamu yang datang ke rumah ingin menyalurkan hasrat birahi, tidak dilayani langsung oleh pemilik rumah, melainkan dia akan memanggil tetangganya untuk menemani. Demikian pula sebaliknya, bila tetangganya yang dapat tamu maka dia yang diminta untuk melayani.

Informasi minor sebagai daerah ‘’menggairahkan’’ untuk urusan syahwat, juga diperkuat oleh kondisi sosiokultural di sini. Misalnya adanya anggapan kuat kalau orang Banyuwangi banyak yang pinter memelet (menaklukkan lawan jenis dengan menggunakan ilmu supranatural). Diantaranya dengan ‘’ajian pelet’’ yang disimbolkan dengan apa yang disebut sabuk mangir maupun tarian jaran goyang.

Fenomena yang mengarah kepada citra buruk sebagai daerah penyuplai pelacur juga bisa dilihat dari banyaknya berita-berita penyimpangan seksual maupun kasus trafficking asal daerah yang mendapat julukan Sun Rise of Java ini. Rasanya, berita-berita penyimpangan seksual di daerah ini cukup mendominasi media massa dibanding di daerah lain. Ada bapak menghamili anak tirinya, seorang guru menodai muridnya sendiri, seorang siswi SMP digilir beberapa temannya, anak pelajar bermesum ria di pantai, polisi menggrebek tempat kos yang berisi bukan pasangan suami istri, dan masih banyak lagi. Realita ini pada akhirnya bisa membuat para korbannya frustasi dan akhirnya melacurkan diri.

Indikasi kuat lainnya, angka kasus perceraian di daerah ini sangat tinggi. Bahkan, menduduki peringkat teratas di Provinsi Jawa Timur. Menariknya lagi, ada informasi yang masuk bahwa para ibu muda yang sedang mengurus kasus perceraian di pengadilan agama (PA), sudah ’’diincar’’ oleh beberapa ‘’makelar tenaga kerja’’. Para makelar itu melakukan pendekatan kepada para wanita yang masih dalam proses maupun sudah diputus cerai oleh PA. Mereka dijanjikan pekerjaan di luar daerah dengan gaji yang cukup menggiurkan. Dalam kondisi mental yang rapuh, ditambah dengan ketakutan tak bisa menghidupi diri sendiri, anak maupun keluarganya pasca diputus cerai suami, tentu mereka akan mudah menerima tawaran menggiurkan itu. Padahal, tawaran itu belum tentu seenak yang dijanjikan, yang terjadi justru lebih banyak mengarah pada jebakan yang akan menjerumuskan para wanita itu ke lembah hitam.

Apa yang saya paparkan di atas, tentu bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan daerah kita Banyuwangi. Apalagi sampai bermaksud menyakiti dan mengganggu ketentraman warga Bumi Blambangan. Saya justru menginginkan, bagaimana citra buruk soal daerah asal pelacur ini bisa dibersihkan. Termasuk, kasus penyimpangan-penyimpangan seksual bisa berkurang, dekadensi moral juga bisa dikendalikan, dan Banyuwangi bisa menjadi daerah yang lebih agamis dan bermoral. Kultur inilah yang bisa dijadikan kekuatan untuk membangun citra Banyuwangi ke depan menjadi lebih baik.

Untuk menghapus citra kelam itu tentu butuh kepedulian dan uluran tangan semua pihak. Termasuk, yang punya peran utama adalah para orang tua, guru, ulama, tokoh masyarakat dan pemerintah. Peran mereka lebih banyak menyangkut pada pendidikan, pembinaan mental spiritual dan pemberian suri tauladan yang baik kepada generasi penerus. Sedang peran pemerintah harus lebih konkret pada pemenuhan kebutuhan hidup yang mendasar, yaitu pendidikan dan kebutuhan ekonomi (pangan, sandang dan papan). Sebab, mereka yang terjerumus pada lembah nista itu lebih banyak dikarenakan kebutuhan hidup paling mendasar tidak terpenuhi.

Ya, faktor kemiskinan lebih banyak menjadi biangnya. Karena itu, pemerintah harus menciptakan peluang usaha atau memberinya kail kepada warga miskin yang tak memiliki pekerjaan atau penghasilan. Di samping harus bisa mendatangkan investor untuk mengurangi pengangguran, pemerintah juga harus bisa memberi pinjaman modal dan pelatihan ketrampilan agar mereka bisa membuka usaha secara mandiri. Termasuk kepada para PSK asal Banyuwangi yang tak lama lagi akan dipulangkan dari Balikpapan.

Untuk pemilik usaha kecil, pemerintah memang sudah memberi solusi lewat kredit usaha rakyat (KUR) tanpa agunan plus subsidi bunga bekerjasama dengan BRI. Ini juga merupakan solusi untuk meningkatkan perekonomian rakyat kecil. Tapi, yang juga harus dipikirkan, masih banyak warga miskin yang tidak memiliki usaha dan tak punya ketrampilan. Solusinya bisa dilakukan seperti yang saya sebutkan di atas.

Semoga dengan upaya seperti ini, warga Banyuwangi yang terjun ke lembah hitam menjadi banyak berkurang. Dan, predikat sebagai daerah penyuplai PSK terbesar tidak lagi mengemuka dan menghantui warga Banyuwangi. (cho@jawapos.co.id)

Jumat, 04 Maret 2011

Menjual Ekowisata Mangrove Blok Bedul


Ditayangkan di Radar Banyuwangi 4 Maret 2011

Oleh: A. Choliq Baya

SETELAH memendam keinginan yang cukup lama untuk bisa melihat hamparan mangrove yang sangat panjang di Blok Bedul yang masih berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), akhirnya terkabul juga bisa sampai di Blok Bedul, kawasan alam yang elok menawan. Ya, dua minggu lalu setelah melihat keindahan alam Pantai Plengkung, saya punya kesempatan meneruskan perjalanan ke lokasi Ekowisata Mangrove Bedul yang ada di Desa Sumbersari, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Saya datang ke sana bersama rombongan peserta Fam Trip yang terdiri dari para pelaku bisnis pariwisata dari kalangan travel agent, pemandu wisata, pengurus PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) dan pengurus ASITA (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies) dari Jatim dan Bali.

Kenapa saya sangat berminat sekali ke sana? Beberapa teman yang suka berpetualang menyusuri rimba alam maupun para aktivis lingkungan, seringkali ‘’memprovokasi’’ saya. Ada yang mengatakan, rugi besar kalau sudah tinggal di Banyuwangi tidak melihat keindahan mangrove beserta satwa langkanya di Bedul. Ada pula yang menanyakan kondisi mangrove beserta biotanya di sana, apa masih terpelihara dengan baik atau sudah banyak perubahan? Juga, ada yang menanyakan lewat jalan mana kalau ingin berwisata ke Bedul? Apa saja yang bisa dilihat atau dinikmati di sana? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang lain.

Semua pertanyaan yang disampaikan teman-teman itu cukup menggelitik hati saya untuk berupaya datang ke sana. Mengingat jaraknya yang begitu jauh dari kota Banyuwangi, adanya kabar jalan menuju ke sana kondisinya banyak yang rusak, serta adanya kesibukan lain, menyebabkan beberapa kali kesempatan itu tertunda. Baru setelah diajak teman-teman dari Dinas Pariwisata Banyuwangi ke sana saya putuskan untuk ikut serta, meski harus berangkat pagi-pagi seusai salat subuh. Pikir saya, mumpung ada yang mengajak, lumayan dapat gratisan he... he...

Karena jadwal perjalanan ke Blok Bedul setelah rombongan mengunjungi Pantai Plengkung, maka rute perjalanan melewati kawasan TNAP yang jalannya benar-benar sangat mengocok perut alias amburadul. Dari Plengkung ke Pos Pancur, kami menggunakan mobil khusus double gardan atau four-wheel drive (4wd). Baru dari Pos Pancur menuju Pos Resort Bedul jalannya lumayan bagus dan bisa ditempuh dengan mobil non 4wd.

Di Pos Resort Bedul di kawasan TNAP yang menjadi lokasi tempat pemberhentian penyebrangan perahu dari arah Bedul di Desa Sumbersari, kita bisa menikmati sejuknya semilir angin sambil makan bersama keluarga di bawah rindangnya pepohonan yang cukup besar. Saat rombongan kami datang di sini, kami disambut hangat oleh pengelola wisata dari Pemerintah Desa Sumbersari dan TNAP. Sambutan makan siang dengan menu sayur asem, pepes ikan, ikan bakar dan aneka lalapan cukup ‘’menentramkan’’ isi perut setelah dikocok-kocok di perjalanan. Tak hanya, itu suguhan buah naga merah dengan daging warna putih dan warna merah hasil panen petani setempat juga semakin menambah nikmatnya suasana makan siang.

Di lokasi ini, kita juga bisa bercanda dengan kera jinak yang banyak berkeliaran. Termasuk bisa menikmati beberapa satwa langka yang ada di dalam kawasan ini seperti biawak, burung elang (elang jawa dan elang laut), burung dara laut, belibis, bangau, ancel bumi, king fisher, kecuk, kirik-kirik, burung migrant dan lain sebagainya.

Keindahan ekowisata mangrove semakin nyaman dinikmati manakala kita berwisata naik perahu tradisional gondang-gandung yang memang disediakan untuk para wisatawan. Ada 10 perahu mesin yang setiap hari melayani para wisatawan yang ingin menyebrang dan melihat keindahan mangrove di segoro anakan (anak laut) Samudera Hindia. Sekali naik perahu setiap orang dikenakan biaya resmi Rp 7 ribu. Selain itu, kita bisa menyewa untuk kegiatan khusus seperti mancing maupun menyusuri mangrove secara detail hingga masuk ke lorong-lorong hutan untuk mengamati biota laut yang ada di sana.

Dari atas perahu kita bisa melihat hamparan hutan mangrove yang berada di kanan kiri segoro anakan yang panjangnya mencapai 18 km dengan ketebalan rata-rata dari bibir pantai sekitar 300-350 meter. Sedang luas hutan mangrovenya sekitar 1.200 hektar yang berada dalam kawasan TNAP dan Perhutani. Adapun jenis tumbuhan mangrovenya ada 26 jenis.

Untuk mengetahui lebih dekat tentang obyek wisata ekosistem ini, Pemerintah Desa Sumbersari selaku pengelola wisata juga menyediakan pemandu wisata yang sudah terlatih untuk memberi penjelasan kepada wisatawan. Mereka dengan bangga bisa bercerita tentang aneka satwa yang biasa berkeliaran di sepanjang segoro anakan maupun biota laut yang berseliweran dalam rongga-rongga akar mangrove. Juga bercerita burung-burung migrant antar benua yang terbang jauh dari Australia untuk meneruskan perjalanan ke negara lain. Termasuk, bisa mengungkapkan indahnya sun set di pagi hari yang muncul dari semak belukar mangrove dari arah timur.

Tak hanya itu, para wisatawan yang menyukai berpetualang di hutan, juga bisa ditawari tracking di hutan hujan tropis yang berbatasan dengan hutan mangrove. Di sana, mereka bisa menikmati sejuknya udara dan melihat satwa liar yang dilindungi seperti merak, kijang, babi hutan dan masih banyak lagi. Di ujung perjalanan menyusuri hujan tropis, kita bisa melihat penangkaran penyu milik TNAP yang berada di tepi Samudera Indonesia.

Menariknya lagi, para wisatawan yang betah untuk tinggal beberapa hari di sini, pengelola wisata juga siap menyediakan penginapan. Mereka akan diinapkan di rumah penduduk yang ada di sekitar hutan yang memang sudah dipersiapkan oleh pengelola wisata. Sehingga, akan terkesan lebih guyub. Sebab, ada beberapa turis yang memang lebih suka tinggal di tempat-tempat bernuansa tradisional atau alami.

Melihat kondisi ekowisata mangrove yang selama ini ‘’dijual’’ ke turis lokal maupun asing, memang masih perlu beberapa pembenahan. Dari sisi akses jalan menuju Bedul, kondisinya relatif jauh lebih dibandingkan bila diakses melalui TNAP. Meski ada beberapa jalan di wilayah Purwoharjo yang masih amburadul dan perlu perbaikan. Sementara di kawasan wisatanya sendiri, terutama di tempat parkir kendaraan yang kini sudah ada penjual makanan perlu diperbanyak penjual souvenir dan ditata lebih rapi. Termasuk juga harus dilengkapi dengan toilet yang layak.

Bila pengelola wisata ingin menarik wisatawan mancanegara, tentu toilet yang disediakan harus berstandar internasional. Jangan sampai terkesan kumuh, kotor ataupun jorok, termasuk tempat-tempat kuliner yang ada di situ. Tempat parkir juga harus ditata lebih rapi, termasuk rambu-rambu dan garis pembatas juga harus jelas. Juga dipasang beberapa papan penunjuk ataupun peta yang bisa mendukung keberadaan dan kelebihan tempat wisata Blok Bedul.

Demikian pula dengan perahu tradisional untuk pengangkut wisatawan, perlu dimodifikasi. Yang ada sekarang lebih cocok untuk kebutuhan wisatawan lokal. Kalau untuk wisatawan asing harus diperhatikan standar keamanan, kenyamanan dan keselamatannya. Alangkah indahnya kalau perahu itu bisa seragam bentuk dan warnanya. Kita bisa mengaca dari perahu-perahu pengangkut turis asing di negara Cina, Thailand, Vietnam yang kondisinya hampir sama dengan wisata air di negeri kita. Atau kalau ingin lebih mentereng lagi bisa meniru transportasi wisata air di negara Perancis dan Italia.

Untuk pembenahan ke arah yang lebih baik memang butuh waktu, biaya dan komitmen dari pihak terkait. Termasuk memberikan edukasi kepada para petugas atau pemandu wisata beserta warga masyarakat yang ada di sekitar lokasi wisata. Khususnya menyangkut budaya hidup bersih, disiplin dan perlakuan standar kepada para turis yang datang. Seperti tidak melakukan aji mumpung dengan menarik ongkos sewa kendaraan maupun harga makanan yang tinggi. Semoga kita bisa menjadi tuan rumah yang baik bagi para tamu terhormat yang akan membelanjakan uangnya di sini. (cho@jawapos.co.id)