Rabu, 23 April 2008

Nilai Kepatutan

RAPAT di hotel sepertinya menjadi kebiasaan yang mengasyikkan bagi anggota dewan. Sudah beberapa kali anggota dewan kita, khususnya dari Kabupaten dan Kota Mojokerto menggelar rapat di hotel. Hotel yang dipilih pun kebanyakan berada di kawasan yang bernuansa sejuk seperti di Batu, Malang, Trawas dan Pandaan. Mereka rupanya ingin meneruskan ’’tradisi’’ lama yang sekarang sudah mulai ’’membudaya’’ atau mulai menjadi ’’tren’’. Sebab, tahun 2007 lalu, para wakil rakyat itu sudah beberapa kali menikmati nyamannya rapat di hotel. Selain sejuk dan banyak ’’pemandangan’’, mereka juga akan mendapatkan tambahan uang saku.
Tahun lalu, lewat rubrik ini, saya sudah mengkritisi ’’tradisi’’ yang tidak populis dan cenderung melukai perasaan rakyat. Khususnya rakyat yang sedang terhimpit ekonomi karena semakin mahalnya harga kebutuhan pokok. Ditambah lagi, perjuangan tak kenal lelah untuk antre mendapatkan minyak tanah ataupun elpiji. Namun, problematika dan jeritan rakyat kecil itu seolah hanya dianggap angin lalu.
Kepekaan dan kepedulian para anggota dewan terhadap nasib rakyatnya ini sepertinya sudah tak ada lagi. Terbukti, mereka tetap saja nekat menggelar rapat di hotel. Seharusnya, dewan bisa menghemat anggaran. Kalau perlu, anggaran untuk rapat di hotel itu bisa dialihkan untuk membantu meringankan beban rakyat dari himpitan ekonomi yang semakin mencekik.
Dewan jangan hanya bisa berteriak seolah-olah membela nasib rakyat kecil yang kesulitan mendapatkan minyak tanah, elpiji atau kebutuhan pokok yang harganya terus melambung. Namun, dia sendiri tidak bisa memberi contoh efisiensi dalam penggunaan anggaran yang bersumber dari uang rakyat. Justru, apa yang dilakukan dengan menggelar rapat di hotel, bisa jadi malah menyakiti perasaan rakyatnya.
Bahkan, ketika tradisi buruk rapat di hotel itu dikritik oleh salah satu aktivis LSM, wakil rakyat kita itu justru kebakaran jenggot. Mereka malah balik mempertanyakan komitmen yang mengritik. Anggota dewan itu mengaku tidak yakin kalau pengritik tidak akan melakukan rapat di hotel bila duduk menjadi anggota dewan.
Beberapa alasan pembenar kemudian dikemukakan oleh beberapa anggota dewan tentang digelarnya rapat membahas Laporan Keterangan dan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Mojokerto di Hotel Regent Park Malang. Di antaranya agar pembahasan LKPj itu bisa lebih maksimal. Sebab, udara di hotel itu cukup sejuk dan segar. Terlebih bila dilihat dari materi LKPj yang dibahas, diperlukan pencermatan serius. Apalagi, agenda rapat itu memang sudah dianggarkan dan itu juga tidak melanggar aturan.
Masih kata anggota dewan, kalau rapat itu digelar di kantor dewan, waktunya sangat terbatas. Misalnya pukul 09.00 sampai 14.00, selebihnya sudah tidak kuat lagi dilanjutkan. Dan, kebanyakan setelah lewat jam itu anggota dewan banyak yang pulang. Tapi, kalau rapat di hotel, bila tidak kuat, anggota dewan bisa masuk kamar untuk istirahat.
Menurut hemat saya, adalah kepongahan bila dewan mempersoalkan kritik konstruktif yang dilontarkan kepadanya. Apalagi peran LSM, termasuk media massa, memang salah satunya sebagai alat kontrol sosial. Wajar bila peran ataupun fungsi kontrol sosial itu dijalankan sepanjang sesuai dengan fakta. Jangan sampai ketidakterimaan kritik itu nantinya berimbas pada ketidaksimpatian rakyat yang lebih besar terhadap lembaga dewan. Ingat kasus lagu Gosip Jalanan dari Slank yang akan digugat DPR tapi dibatalkan sendiri.
Selain itu, yang juga harus disadari oleh dewan, tidak semuanya yang menurut aturan tidak dilarang bisa dengan seenaknya dilakukan. Ada hal-hal lain yang perlu juga dijadikan pertimbangan. Salah satunya adalah nilai kepatutan. Misalnya, apakah patut bila kondisi ekonomi rakyat terombang-ambing oleh persoalan melonjaknya harga kebutuhan bahan pokok, kesulitan mendapatkan minyak tanah dan elpiji, kemudian dewan rapat di hotel? Apalagi, rapat di hotel itu tidak digelar kali ini saja, tapi sudah beberapa kali. Bahkan, ada kesan hal itu akan menjadi tradisi.
Di satu sisi, masih ada tempat yang representatif untuk rapat. Apalagi, gedung dewan itu memang dirancang untuk tempat rapat anggota dewan. Kalau ada alasan rapat tidak bisa maksimal karena seringkali anggota dewan pulang sebelum pembahasan selesai, maka hal itu jangan salahkan tempatnya. Konsekuensi dari tugas sebagai pemegang amanat rakyat harus dikedepankan. Jangan hanya mau bayarannya tapi tugasnya tidak dijalankan dengan sepenuh hati.
Apalagi, kesejukan ruangan di gedung dewan juga tak kalah dengan di hotel. Yang agak beda mungkin hanya ’’pemandangannya’’. Tidak hanya pemandangan alam, tapi juga ’’pemandangan’’ yang lain. Kalau memang itu yang dicari, silakan pembaca sendiri yang menilai. Jangan sampai tempat atau suasana di gedung dewan dijadikan kambing hitam.
Termasuk komitmen sebagai anggota dewan yang peduli terhadap nasib rakyatnya juga perlu diperkuat lagi. Apalagi, bila pada pemilu mendatang masih ingin dipilih lagi sebagai anggota dewan oleh rakyat. Maka, kepedulian, komitmen dan sumbangsihnya kepada rakyat harus ditunjukkan, jangan sampai justru dipertanyakan. (choliqbaya@gmail.com)

Tidak ada komentar: