Jumat, 23 September 2011

Kurang Promosi, BEC Tak Optimal


Oleh: A. Choliq Baya


RENCANA menggelar even akbar Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang beberapa waktu lalu sering dilontarkan Bupati Abdullah Azwar Anas di dalam setiap kesempatan, hingga masih belum terasa gaungnya. Padahal, even yang diharapkan bisa mengangkat Banyuwangi go international itu waktu pelaksanaannya sudah bulan depan, tepatnya pada 22 Oktober 2011. Namun, untuk menghasilkan sebuah karya spektakuler yang diharapkan bisa menarik ratusan ribu wisatawan dalam dan luar negeri, rasanya masih sangat jauh. Gebrakan dan upaya signifikan dari panitia pelaksana ataupun instansi terkait yang bisa meyakinkan berbagai pihak hingga kini hampir tak terlihat wujudnya.


Persiapan secara teknis maupun non teknis, selain masih belum terlihat aktivitasnya secara mencolok, agendanya juga molor dari yang sudah diplot sebelumnya. Ini menunjukkan leading sector yang menjadi pengendali even ini yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Banyuwangi, bergerak sangat lamban. Beberapa gagasan dari hasil hearing dan sharing yang sudah disepakati dengan beberapa pihak terkait, tak kunjungi direalisasikan. Padahal, pertemuan membahas gawe akbar dengan instansi terkait itu sudah beberapa kali dilakukan, bahkan sudah dimulai sejak bulan Juni lalu. Anehnya, tak ada kemajuan yang cukup berarti. Alasan klasik yang sering dikemukakan oleh pihak Disparbud karena belum cairnya anggaran.


Untuk rekrutmen peserta dan workshop yang sebelumnya sudah diagendakan pada awal hingga pertengahan Agustus lalu, sudah dipastikan molor waktunya. Panitia baru akan menggelar workshop untuk peserta BEC yang sebagian besar direkrut dari 47 sekolah se-Kabupaten Banyuwangi itu pada 19-23 September mendatang bertempat di Gedung Diklat Desa Tamansari Kecamatan Licin. Dalam workshop itu peserta akan dilatih seputar dasar koreografi, tari, desain kostum dan ekspresi. Total peserta yang akan mengikuti diklat ada 383 orang, 60 orang dari masyarakat umum, sisanya pelajar. Itupun masih ada proses penyusutan peserta menjadi 300 orang. Sebab, saat BEC berlangsung masih ada tambahan 100 peserta lagi yang sudah siap tampil di bawah koordinasi manajemen Jember Festival Carnival (JFC).


Lambannya panitia tidak hanya pada persiapan teknis saja, tapi secara non teknis yang urusannya lebih mudah juga belum tersentuh sama sekali. Terutama terkait dengan promosi agar agenda ini benar-benar bisa mendatangkan pengunjung cukup banyak. Padahal, terkait dengan promosi dan pembuatan logo BEC, itu merupakan rekomendasi dari hasil rapat panitia dengan instansi terkait sebelum Ramadan atau pada Juli lalu. Anehnya, hingga kini logo dan promo BEC belum tersentuh atau digarap sama sekali.


Salah satu bentuk promosi yang paling mudah dan murah adalah melalui website. Panitia bisa menggunakan website milik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ataupun milik Pemkab Banyuwangi. Ini salah satu cara cukup efektif untuk bisa menarik wisatawan, terutama dari mancanegara. Bila agenda BEC itu diketahui jauh-jauh hari, lalu mereka berminat datang pasti akan mempertimbangkan sekaligus mempersiapkan diri untuk mengatur agenda wisatanya. Termasuk, para pemilik travel agent yang menangani bisnis pariwisata.


Sedang untuk menyemangati warga Banyuwagi sekaligus menginformasikan akan digelarnya agenda akbar berkelas internasional, paling tidak panitia juga memasang baliho, banner ataupun spanduk di berbagai sudut jalan di kota ini. Bahkan, kalau memungkinkan juga dipasang di beberapa daerah yang memiliki potensi wisata cukup strategis seperti Bali dan kota-kota besar di Indonesia. Termasuk, juga berpromosi di media lokal, baik cetak maupun elektronik.


Apalagi, banyak warga Banyuwangi yang belum tahu esensi yang sebenarnya dari agenda akbar BEC. Jangankan masyarakat umum, para seniman dan budayawan, termasuk para wartawan yang biasanya tahu lebih dulu, masih banyak yang belum paham. Visi dan misi dari BEC ini sebenarnya bagaimana dan seperti apa? Sebab, banyak suara-suara sumbang, pro kontra dan kritikan-kritikan pedas terhadap rencana digelarnya agenda ini. Ada yang khawatir BEC justru akan mengerdilkan ciri khas seni budaya asli Banyuwangi bila bentuk acaranya seperti JFC yang mengusung tema-tema budaya dari luar daerah. 


Sebenarnya seperti apa detailnya misi dan visi BEC, termasuk seni budaya asli Banyuwangi yang akan dikenalkan ke khalayak nanti melalui event akbar ini? Ada pula yang mempertanyakan, kenapa para budayawan dan seniman tidak banyak dilibatkan dalam kegiatan BEC? Apa pula bedanya dengan Festival Kuwung yang digelar pada saat hari jadi Banyuwangi (harjaba) pada bulan Desember yang berisi pawai seni budaya Banyuwangi? Hingga kini belum ada gambaran yang gamblang.


Disparbud seharusnya jauh hari sudah menyiapkan penjelasannya untuk mengeliminir terjadinya polemik. Agar lebih mudah dicerna para wartawan sekaligus bisa disosialisasikan ke masyarakat, paling tidak ada proposal yang didalamnya terdapat maksud, tujuan, maupun visi dan misi dari BEC. Anehnya, Disparbud tak pernah menyiapkan proposalnya. Padahal, proposal itu juga bisa digunakan untuk menggaet pihak sponsor supaya ikut membantu mendanai kegiatan ini. Apalagi even ini kelasnya internasional.


Dengan adem ayem-nya persiapan BEC, secara otomatis juga akan mempengaruhi nilai dan bobot dari acara ini. Apalagi bila nantinya agenda besar ini ternyata tak bisa mendatangkan para wisatawan untuk berbondong-bondong menuju ke bumi berjuluk The Sun Rise of Java. Rasanya ada sesuatu yang hilang manakala agenda dengan atraksi spektakuler yang disuguhkan tidak banyak ditonton oleh wisatawan dikarenakan kurang optimalnya promosi dan kerjasama dengan jajaran terkait. Terutama dengan kalangan biro perjalanan wisata dan perhotelan. 


Karena itu, pada sisa waktu yang cukup singkat ini, harus ada terobosan berani dari panitia pelaksana, khususnya dalam melakukan gebrakan promosi. Termasuk, bantuan dari instansi terkait dan instansi pendukung di lingkungan pemerintahan agar agenda ini gebyarnya bisa lebih terlihat dan didukung oleh masyarakat luas. Sebab, bila agenda BEC pertama ini sukses, pasti akan membawa pengaruh yang lebih kuat pada pelaksanaan BEC tahun berikutnya. Semoga. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: