Selasa, 31 Januari 2012

Cantiknya Ruang Terbuka Hijau


Oleh A. Choliq Baya

SETELAH direnovasi dan dibuka kembali untuk publik, Taman Sri Tanjung, Taman Blambangan, dan Taman Makam Pahlawan (TMP) Banyuwangi, semakin dipadati pengunjung. Ruang terbuka hijau (RTH) yang selama ini dibatasi pagar keliling itu kini tak lagi berpagar. Sehingga, kesannya menjadi lebih terbuka, lebih luas, lebih rapi, lebih indah, dan lebih asri. Warga masyarakat yang datang untuk olah raga, refreshing, cuci mata atau sekadar jalan-jalan, pun menjadi lebih betah berlama-lama di sana.

Setiap pagi, misalnya, sering kali saya melihat para siswa, mulai PAUD, TK, hingga SD, melakukan aktivitas di Taman Blambangan dan Taman Sri Tanjung. Ada yang berbaris, senam, dan ada yang melakukan olah raga lain. Lahan yang mereka manfaatkan juga tidak hanya di lapangan berumput, tapi juga di trotoar yang kini sudah disulap menjadi lebih lebar. Kondisi itu menjadi berkah bagi sekolah-sekolah yang tidak memiliki halaman luas untuk menggelar aktivitas olah raga.

Demikian pula TMP yang selama ini tertutup pagar rapat dan terkesan angker, kini terlihat lebih indah, cantik, dan familiar. Warga yang ingin masuk ke TMP pun lebih bebas. Kalau sebelumnya yang datang berziarah hanya keluarga pahlawan yang dimakamkan di situ, kini masyarakat umum yang ingin berdoa secara langsung di hadapan pusara pahlawan atau sekadar melihat-lihat bisa bebas melakukannya. Bahkan, tak sedikit yang memanfaatkan bagian depan TMP yang sudah disulap menjadi taman itu sebagai tempat refreshing. Terutama Minggu pagi, trotoarnya sering dimanfaatkan untuk senam dan arena membaca bagi warga yang memanfaatkan mobil perpustakaan keliling yang biasa mangkal di depan TMP.

Di malam hari, jumlah pengunjung yang datang untuk memanfaatkan RTH ternyata jauh lebih banyak. Itu tidak terbatas pada malam minggu saja, hari-hari biasa juga ramai pengunjung. Terutama, di Taman Sri Tanjung. Apalagi, di tempat itu para pengunjung juga bisa berselancar ke dunia maya secara gratis karena sudah tersedia fasilitas wifi. Kebanyakan mereka yang datang tidak sekadar jalan-jalan tapi ada juga yang berwisata kuliner. Sebab, di sekitar Taman Sri Tanjung juga banyak pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan dagangannya.

Memang, mereka tidak lagi berjualan di trotoar Taman Sri Tanjung karena dilarang, tapi pindah ke seberang jalan double W yang ada di depan pendapa kabupaten. Akibatnya, pengendara yang lewat di Jl. Sri Tanjung depan pendapa agak terganggu oleh aktivitas PKL yang menggelar dagangannya di tepi jalan. Meski di sekitar Taman Sri Tanjung ada beberapa petugas satuan polisi pamong praja (satpol PP), tapi mereka sepertinya sengaja membiarkannya. Sebab, sebelum taman itu direnovasi, para PKL itu sehari-harinya memang mangkal di trotoar Taman Sri Tanjung.

Sejatinya, Pemkab Banyuwangi telah menyediakan tempat khusus untuk PKL yang terletak di sisi selatan Taman Sri Tanjung. Lokasinya sudah tertata rapi per stan, lengkap dengan perkakas pendukung seperti etalase tempat bahan dagangan, keran, wastafel beserta tempat kongkow pengunjung untuk menikmati makanan. Tapi, hingga kini tempat kuliner itu belum ada penghuninya alias belum termanfaatkan. Konon tempat itu bakal diprioritaskan untuk PKL yang tergusur dengan beban biaya sewa harian. Syaratnya, makanan yang dijual tidak dimasak di tempat itu agar kebersihan tetap terjaga.

Selain tiga tempat RTH di tengah kota yang sudah direnovasi, Pemkab Banyuwangi rencananya juga akan membuat tempat serupa di Kecamatan Genteng. Lokasi RTB yang rencananya dibangun di dekat lapangan Maron ini sekaligus akan dimanfaatkan sebagai alun-alun kota. Mengingat, RTH untuk tempat rekreasi maupun kongkow-kongkow warga masyarakat di daerah selatan masih sangat kurang. Sehingga, keberadaan RTH ini sangat diperlukan dan dinanti banyak orang. Apalagi, Jl. Wahid Hasyim yang ada stadion Maron setiap minggu juga sudah ditetapkan sebagai lokasi car free day yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana olah raga maupun refreshing.

Antusias warga masyarakat untuk mendatangi sekaligus memanfaatkan RTH kian hari semakin besar. Terbukti di kota besar seperti Surabaya, jumlah RTH yang dibangun dan direnovasi terus bertambah, jumlah pengunjung pun semakin banyak. Saya yakin, di Banyuwangi juga akan seperti itu. Lihat saja, tiga RTH yang baru saja direnovasi di kota berjuluk sunrise of java, hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Ini menunjukkan kalau warga masyarakat cukup menyukainya. Apalagi keberadaan RTH juga membuat wajah kota kita semakin cantik dan asri.

Oleh karena itu, setiap upaya yang dilakukan pemerintah untuk menciptakan RTH di beberapa kecamatan perlu kita dukung. Sebab, jumlah RTH di Banyuwangi masih jauh dari memadai. Apalagi, bila nanti setiap RTH juga dilengkapi dengan fasilitas jaringan internet berbasis wifi. Saya yakin warga masyarakat akan lebih antusias memanfaatkan ruang publik ini. Secara tidak langsung kondisi ini juga bisa menciptakan suasana ceria dan menyenangkan bagi masyarakat. Secara psikologis, juga bisa meningkatkan  umur harapan hidup warga Banyuwangi.

Sayangnya, beberapa lokasi RTH di kota Banyuwangi yang baru direnovasi itu sangat kurang perawatannya. Padahal, belum genap satu bulan tiga RTH; Taman Sri Tanjung, Taman Blambangan dan TMP itu diserahkan ke pemerintah dari kontraktor. Lihat saja keramiknya yang bergelombang kasar tampak kusam karena banyak endapan debu atau tanah yang melekat. Bahkan, di pagi hari pun yang seharusnya tampak bersih, sering kali terlihat kotor oleh dedaunan dan bunga tanaman yang rontok diterpa angin. Kondisi ini bukan sesaat, tapi kami perhatikan setiap minggu pagi misalnya, tetap tidak berubah. Artinya, belum dibersihkan.

Kondisi lebih parah bisa kita lihat di Taman Sri Tanjung. Meski terlihat lebih indah dan rapi dari luar, tapi perawatannya masih kurang memuaskan. Untuk ukuran taman yang masih baru saja selesai direnovasi, perawatannya perlu perhatian ekstra. Misalnya, air mancur yang ada di tengah taman, ada beberapa yang airnya tidak bisa keluar secara maksimal. Tak hanya itu, air kolamnya juga sudah berwarna hijau dan banyak lumut yang menggumpal terapung di permukaan. Kondisi ini jangan dianggap sebagai masalah kecil dan sepele. Sebab, kalau perawatan dan kebersihannya tidak dilakukan secara serius sejak dini, saya yakin taman yang direnovasi dengan biaya miliaran rupiah itu akan cepat berubah menjadi kumuh.

Komitmen dan kepedulian dari dinas pengelola untuk menjadikan RTH di Banyuwangi agar tetap terawat kebersihan dan kerapiannya harus ditunjukkan. Tidak boleh asal-asalan alias ala kadarnya. Sebab, untuk merenovasi taman ini biaya yang dikeluarkan tidak kecil. Selain itu, taman ini juga menjadi bahan penilaian untuk penghargaan Adipura agar kota Banyuwangi tidak lagi mendapat cap kota terkotor di Jatim. Oleh karena itu, bupati juga harus sering sidak langsung ke lapangan sebagaimana Wali Kota Surabaya Tri Risma Harini yang begitu peduli terhadap lingkungan. Beliau sering blusukan mengawasi langsung kondisi RTH, taman, sungai dan pembuatan gorong-gorong.

Sehingga, sangat wajar manakala RTH, taman, sungai dan selokan yang ada di kota Surabaya kini semakin elok dan cantik. Bila malam hari, RTH dan taman-taman yang semakin banyak bertebaran di kota terlihat makin indah karena disinari dengan aneka lampu warna warni. Pengunjungnya juga selalu penuh, terutama bila malam minggu atau pada hari-hari libur. Tak salah kalau kota terbesar di Indonesia ini berkali-kali mendapat penghargaan Adipura. Sampai akhirnya mendapatkan Adipura Kencana karena sudah 6 kali berturut-turut dan selalu punya inovasi baru dalam mengelola kebersihan dan keasrian lingkungan.

Pemkab Banyuwangi beserta warganya juga harus punya semangat seperti Surabaya. Jangan sampai timbul kesan, bisanya hanya menghabiskan anggaran miliaran rupiah untuk membangun atau merenovasi tapi tidak bisa merawat dengan baik. Karena itu, masalah perawatan juga tak kalah penting dengan membangun. Selamat berbenah Banyuwangiku, semoga semakin cantik, indah, dan asri. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: