Minggu, 02 September 2012

Angpao Lebaran yang Mencerdaskan


Oleh A. Choliq Baya

SUDAH menjadi tradisi di tengah-tengah masyarakat, setiap Lebaran ada agenda silaturahmi; mendatangi sanak-keluarga, kerabat, tetangga, dan handai-tolan. Tradisi yang banyak berkembang di Jawa ini sering disebut dengan unjung-unjung. Sementara itu, di kalangan pejabat pemerintah atau di beberapa instansi, silaturahmi ini lebih dikenal dengan istilah open house. Biasanya, dilakukan di kediaman pejabat, pimpinan instansi, dan kantor. Tujuannya, selain saling bermaafan juga untuk lebih mendekatkan diri antara pimpinan dan rakyatnya maupun dengan anak buah dan keluarganya.

Acara unjung-unjung atau open house ini biasanya dilakukan setelah salat Id. Umumnya, silaturahmi ini dikemas dengan agenda lain, seperti reuni atau temu kangen dan pertemuan bani (keluarga besar). Yang menarik, pihak yang didatangi kerap memberi angpao kepada anak-anak. Nilainya tentu saja disesuaikan kemampuan. Meski demikian, angpao bukanlah suatu keharusan mengingat tidak semua orang bisa melakukan.

Karena itu, Lebaran juga menjadi ‘’pestanya’’ anak-anak setelah menjalani puasa Ramadan maupun belajar menjalani ibadah puasa. Saya sebut ‘’pesta’’ karena anak-anak banyak yang bergembira ria dengan membawa banyak uang baru yang didapat dari hasil unjung-unjung dan ikut open house orang tuanya. Sayang, uang itu banyak yang tidak termanfaatkan dengan benar, karena orang tua kurang kontrol.

Ada yang digunakan membeli jajanan kurang sehat, membeli mainan yang tidak memiliki nilai edukasi, dan membeli kebutuhan lain-lain yang tak ada nilai manfaatnya. Tentu hal itu sangat disayangkan. Apalagi, pasca Lebaran biasanya banyak anak-anak yang terserang radang tenggorokan karena memakan jajanan yang tidak sehat. Sebab, kecenderungan anak-anak kalau sudah memegang uang, pasti ingin membeli sesuatu yang menjadi kesukaannya. Kalau orang tua lengah, itu bisa membahayakan sang anak.

Ada langkah bijak dan edukatif yang bisa dijadikan solusi terkait angpao Lebaran. Apa itu? Salah satunya memberi angpao kepada anak-anak dalam bentuk buku bacaan. Solusi ini beberapa waktu lalu pernah disampaikan salah seorang teman yang sangat peduli dengan perkembangan anak. Teman saya yang ahli mengelola manajemen rumah sakit itu pun berencana menerapkan itu pada Lebaran ini. Menarik juga, kata saya. Sekarang, dia pun tengah berburu buku yang cocok diberikan kepada anak-anak.

Lebaran sebelumnya, rekan saya tersebut juga memberi angpao Lebaran kepada anak-anak dalam bentuk yang cukup inspiratif dan motivatif, yaitu berupa celengan dengan sejumlah uang di dalamnya. Tujuannya, agar angpao Lebaran bisa langsung ditabung di celengan itu. Nah, jika ada keperluan mendesak, tentu uang itu bisa dimanfaatkan. Ini pelajaran berhemat sekaligus edukasi dalam mengelola uang.

Angpao Lebaran dalam bentuk buku bacaan, manfaatnya juga tak kalah mulia. Salah satu tujuannya adalah agar anak-anak tidak konsumtif sekaligus menghindarkan diri mereka dari kebiasaan membeli jajanan yang tidak sehat. Bahkan, solusi ini memiliki nilai edukasi yang cukup tinggi, karena memotivasi anak gemar membaca sekaligus meningkatkan pengetahuan alias menambah ilmu.  Dengan kata lain, model angpao Lebaran seperti ini bisa mencerdaskan anak-anak.

Selain angpao, bingkisan Lebaran yang biasanya dalam bentuk parcel berisi makanan dan minuman (mamin) seharusnya juga dipertimbangkan manfaatnya bagi yang menerima. Memang, parcel yang beredar beberapa tahun belakangan sudah tidak mutlak dalam bentuk mamin. Ada yang berupa perangkat busana ibadah, tea set, tempat kue, elektronik, perlengkapan tempat tidur, maupun produk hasil usaha si pemberi parcel. Termasuk, ada juga parcel yang berisi buku-buku bacaan.

Barang kali ada angpao dan parcel dalam bentuk lain yang bisa menginspirasi dan memotivasi si penerima agar lebih dinamis dan produktif dalam menjalani kehidupan, menurut saya itu akan lebih baik. Apalagi, bila bisa menggairahkan iklim usaha, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan penerima di masa mendatang. Sehingga, mereka tidak sekadar menerima apa adanya, tapi ada nilai tambah bagi masa depannya.

Pertanyaannya, sudah sesuaikah semua pemberian itu? Termasuk pemberian zakat dan sedekah dalam bentuk uang kepada yang berhak menerima? Ini yang perlu dikaji sekaligus menjadi perhatian kita bersama. Itu semua dimaksudkan agar apa yang kita berikan tidak salah sasaran dan benar-benar membawa manfaat bagi penerima. Termasuk membawa manfaat bagi kemajuan negeri ini di masa mendatang. Wallahu a’lam bissawab. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: