Selasa, 20 Maret 2012

Investor, Marketer, dan Kucing Garong


Oleh A. Choliq Baya

PERTUMBUHAN ekonomi dan dunia usaha di Banyuwangi semakin menjanjikan. Beberapa perusahaan mulai berani mengembangkan sayapnya di sini. Sebab, daerah paling timur Provinsi Jawa Timur ini dianggap bisa menjadi pendukung pengembangan ekonomi Indonesia bagian timur. Mengingat, sarana dan prasarana pendukung di sini sudah cukup memadai meski masih perlu pembenahan lagi, terutama terkait pelabuhan dan lapangan terbang yang lebih representatif.
Selain faktor alam dan prasarana pendukung, ketertarikan para investor untuk menanam modal di Kota Gandrung juga tak lepas dari ‘’rayuan maut’’ Bupati Abdullah Azwar Anas. Dengan memanfaatkan pengalaman dan jaringan saat menjadi anggota DPR RI, Anas sering ‘’berjualan’’ potensi daerah yang dia pimpin kini kepada para investor. Termasuk, mengupayakan kucuran anggaran dari pemerintah pusat untuk membangun Banyuwangi. 
Tanpa bermaksud membuat GR (gede rumongso) bupati dan menafikan peran perangkat dan elemen masyarakat yang ikut andil memajukan Banyuwangi, untuk urusan negosiasi dengan pemerintah pusat dan investor, Bupati Anas patut diapresiasi. Kita semua harus mengakui kelebihan itu. Tak banyak kepala daerah yang mampu melakukan tugas sebagai marketing agar daerahnya dilirik dan didatangi investor. Apalagi, sampai akhirnya investor itu jatuh hati dan mau menanamkan modal.
Anas adalah salah satu bupati yang mampu melakukan peran itu. Buktinya, di Provinsi Jawa Timur, bumi berjuluk The Sunrise of Java ini kini menduduki urutan ketiga sebagai daerah yang paling diminati investor setelah Gresik dan Surabaya. Padahal, Banyuwangi letaknya paling jauh dari ibu kota Jatim alias berada di ujung timur Pulau Jawa. Selama ini, daerah yang paling banyak dilirik investor umumnya berada di dekat ibu kota provinsi, seperti Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Mojokerto, dan Lamongan.
Pasca beroperasinya Bandara Rogojampi dan Pelabuhan Tanjung Wangi, beberapa investor besar sudah berancang-ancang mengembangkan usahanya di Banyuwangi. Beberapa di antaranya malah sudah ada yang beroperasi, seperti pabrik pengepakan semen di Ketapang. Ada pula yang baru membebaskan lahan dan melakukan pembangunan, dan ada pula yang sudah mendapat izin usaha. Umumnya, lahan industri yang disiapkan berada di kawasan Wongsorejo. Ada pula yang di dekat Pelabuhan Ketapang.
Investasi itu meliputi pengolahan sampah, pabrik semen, pabrik kecap, kawasan industri terpadu, perakitan mobil, sekolah penerbangan, pabrik kertas, kilang minyak, tambang emas, geothermal (panas bumi), hotel berbintang, dan vila tepi pantai. Selain itu, usaha untuk memacu perekonomian yang didukung pemerintah dan perbankan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah juga sudah mulai berjalan. Seperti, program kredit usaha pembibitan sapi (KUPS) potong dan perah yang diberikan kepada kelompok peternak. 
Ada pula pengembangan tanaman cabai dan tomat untuk petani yang biji cabainya sudah di-inden pembeli dari luar negeri. Pemberian pinjaman modal usaha tanpa agunan kepada rakyat kecil juga sudah banyak terserap. Sehingga, hal itu bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi Banyuwangi yang di tahun 2011 kemarin melesat ke angka 6,32 persen (tahun sebelumnya hanya 6,05 persen). 
Pesatnya kemajuan daerah ini juga diapresiasi Gubernur Jatim Soekarwo dan wakilnya Saifullah Yusuf yang datang bersama para pengusaha properti asal Jakarta dan Jatim di Banyuwangi pekan kemarin. Mereka banyak memuji langkah-langkah dan terobosan yang dilakukan Bupati Anas dalam memimpin Banyuwangi. Bahkan, gubernur juga berjanji akan menggelontorkan anggaran untuk membantu perbaikan dan penambahan beberapa infrastruktur di Banyuwangi agar daerah ini semakin cepat berkembang.
Selain karena aktifnya kepala daerah dalam melakukan negosiasi kepada beberapa pihak, kemajuan kota ini juga tak bisa dilepaskan dari berbagai potensi yang dimiliki dan faktor kondusifnya keamanan. Meski kaya potensi alam, tapi kalau pengelola daerah ini tidak bisa mempromosikan dan meyakinkan para investor, saya yakin kemajuan dan perputaran roda ekonomi di daerah ini akan jalan di tempat. Pada kondisi seperti ini, sangat tepat kalau kita memiliki sosok kepala daerah yang bisa menjadi marketer
Selain itu, kita juga mengapresiasi warga Banyuwangi yang ikut berperan menciptakan suasana kondusif. Kekompakan anggota forum pimpinan daerah (forpimda) dalam mengantisipasi dan menyelesaikan permasalahan di daerah ini juga patut dibanggakan. Partisipasi, kekompakan, dan saling memberikan dukungan, itu telah menjadikan daerah ini aman sekaligus bisa menarik para investor menanamkan uangnya di sini. Sebab, stabilitas keamanan menjadi kunci penting bagi investor.
Adanya aksi unjuk rasa, apalagi sampai berbuntut anarkis, hanya akan memperburuk citra daerah dan membuat investor enggan masuk. Ini bukan berarti warga masyarakat dilarang melakukan unjuk rasa. Tapi, setiap langkah yang bisa menciptakan gangguan terhadap upaya memajukan daerah harus diminimalkan. Selama yang dipermasalahkan masih bisa ditempuh dengan dialog atau musyawarah, maka jangan demo. 
Meski demikian, ada beberapa pihak yang tidak peduli dengan berbagai upaya yang ditempuh dalam memajukan daerah ini. Setiap program atau upaya yang ditempuh untuk memajukan daerah selalu dicurigai, dimentahkan, dan selalu dicari-cari kelemahannya. Bahkan, tak jarang mereka melakukan ancaman kepada kepala SKPD (satuan kerja perangkat daerah) atau mengirim surat pengaduan terkait penyimpangan ke institusi penegak hukum data-data yang masih sumir
Ternyata, di balik semua itu ada kepentingan terselubung. Ada yang menjadikan itu sebagai alat meminta proyek atau kompensasi lain. Elemen-elemen masyarakat seperti inilah yang patut diwaspadai. Mereka tak ubahnya kucing garong, atau maling teriak maling tapi berlagak sebagai pahlawan yang peduli terhadap kemajuan daerah dan nasib rakyat kecil. Padahal, apa yang dilakukan itu sering kali merusak kondusivitas yang sudah terbangun. Dampaknya, bisa mempengaruhi minat investor dalam mengembangkan usaha di sini. Kalau itu terjadi, maka yang dirugikan adalah masyarakat luas.
Oleh karena itu, semua pihak harus memiliki pikiran dan hati yang jernih dalam menyikapi proses pembangunan di daerah ini. Berikan masukan atau laporkan kepada aparat yang berwenang manakala ada penyimpangan dengan niat tulus demi kemajuan Banyuwangi yang lebih baik. Dan, bukan dengan cara menebar ancaman dan mencari-cari kesalahan, selanjutnya bernegosiasi dengan tujuan meraih keuntungan pribadi. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: