Minggu, 23 Maret 2008

Gizi Buruk

MARAKNYA kasus gizi buruk yang menimpa balita dan anak-anak, sungguh sangat memprihatinkan. Apalagi, beberapa kasus yang muncul tidak hanya membawa anak-anak yang kekurangan gizi itu masuk ke rumah sakit, tapi juga membawanya masuk ke liang kubur. Ya, mereka meregang nyawa. Bahkan, ada kasus yang sangat tragis, tidak hanya si anak yang meninggal, tapi sang ibu juga ikut mati secara mengenaskan karena kelaparan. Bukan karena makanan di negeri kita tidak ada, melainkan karena keluarga itu tak mampu membeli makanan karena tak memiliki cukup uang.
Kejadian tragis itu menimpa Ny Basse, seorang ibu yang sedang hamil tujuh bulan dan anaknya Bahir, 5 tahun, warga Jl Daeng Tata, Talamate, Makasar, Sulawesi Selatan. Istri tukang becak itu meninggal setelah tiga hari tidak makan, karena di rumah memang tidak ada yang bisa dimakan. Sedangkan Bahir, menyusul ke alam baka lima menit setelah ibu bersama janin yang dikandungnya menghembuskan nafas terakhir. Beruntung, tiga saudara Bahir, masing-masing Salma (9), Baha (7) dan Aco (3), nyawanya masih tertolong.
Potret buram masyarakat miskin di negara kita begitu mengenaskan. Dan, kejadian tragis yang menimpa Basse dan anaknya, mungkin hanya salah satu yang muncul ke permukaan karena tercium oleh media massa. Saya yakin masih banyak saudara-saudara kita yang kondisinya tak jauh berbeda dengan keluarga Basse. Apalagi di tengah himpitan ekonomi seperti sekarang ini, dimana harga barang-barang kebutuhan pokok meningkat cukup dratis.
Belum lagi, saudara-saudara kita yang menderita gizi buruk, jumlahnya di Indonesia mencapai ratusan ribu, bahkan bisa jadi tembus angka jutaan. Di Kabupaten Mojokerto saja, menurut catatan resmi di Dinas Kesehatan setempat, ada 290 balita dengan gizi buruk. Itu yang terdeteksi, yang tidak? Tentu juga ada. Di belahan daerah lain seperti di provinsi NTT, NTB, Papua, Maluku, Lampung, Banten, dan lain-lain, jumlah penderita gizi buruk jauh lebih banyak.
Kasus gizi buruk ini kembali mencuat seperti yang terjadi pada tahun 2005 lalu. Hampir setiap hari, pemberitaan media massa tak pernah lepas mengungkap kasus yang cukup memalukan di beberapa daerah. Umumnya, korban kasus gizi buruk itu ditemukan sudah dalam kondisi parah dan terbaring di rumah sakit atau puskesmas. Sebagian korban, kurang mendapat perhatian yang memadai dari petugas di rumah sakit atau puskesmas. Bahkan, ada pula pejabat di tingkat kecamatan dan desa yang mengintimidasi warganya agar tidak memaparkan kasus gizi buruk ke media massa.
Rasanya agak aneh. Indonesia yang katanya negeri subur makmur, ternyata tak bisa menghidupi penghuninya dengan layak. Apakah ini yang salah rakyatnya karena kurang bisa memanfaatkan potensi yang ada di negeri ini secara maksimal? Atau kesalahan eksekutif dan legislatif yang tidak mampu merencanakan, mengatur dan mengolah segala potensi alam dan sumber daya manusianya? Sehingga, potensi yang ada di negeri ini tidak bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat.
Memang, kasus gizi buruk ini umumnya terjadi pada keluarga miskin dan berpendidikan rendah. Selain itu, biasanya mereka jarang bersosialisasi dengan warga dan kadang terisolir dari suatu komunitas. Sehingga, mereka sering tidak tersentuh dengan berbagai program kesejahteraan keluarga yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Apakah itu digerakkan oleh masyarakat setempat atau yang dikoordinasi pemerintah.
Sejatinya, gizi buruk yang menimpa keluarga miskin tidak terjadi begitu saja. Kondisi gizi buruk pada keluarga miskin umumnya sudah terjadi sejak anak berada dalam kandungan ibunya. Seorang ibu dari keluarga miskin yang mengonsumsi makanan kurang, akan cenderung melahirkan anak di bawah berat badan normal. Apalagi bila setelah lahir si bayi tidak memperoleh ASI yang cukup karena ibunya kurang mengonsumsi makanan bergizi (karena kemiskinan atau ketidaktahuan). Sehingga, kuantitas dan kualitas ASI yang diisap oleh bayinya tidak memadai.
Demikian pula, saat anak harus memperoleh makanan pendamping ASI, yang umumnya sangat rendah dari apa yang seharusnya. Sehingga, si anak akan mengalami kekurangan asupan energi dan zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Kondisi anak dengan status gizi yang sangat rendah akan mudah mengalami penyakit infeksi seperti diare atau infeksi saluran napas bagian atas. Pada kondisi seperti ini anak bisa meninggal secara tiba-tiba. Itulah sebabnya kematian anak balita di negeri kita hingga kini masih sangat tinggi.
Karena itu, pemerintah pusat maupun daerah harus memperlihatkan komitmennya yang tinggi dalam memperbaiki kondisi ini. Termasuk komitmen para kandidat kepala daerah yang kini tengah macung untuk merebut kursi kekuasaan. Apakah kursi gubernur, bupati, wali kota ataupun wakilnya. Jangan hanya jargon kesehatan dan pendidikan gratis yang terus digembar-gemborkan, tapi kenyataannya masih banyak rakyat yang menderita gizi buruk atau orang tua yang kelabakan membayar keperluan sekolah anaknya.
Program kesehatan gratis yang telah dijalankan selama ini, khususnya untuk keluarga miskin, ternyata tidak signifikan dengan peningkatan pola hidup sehat, peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Terbukti, masih tingginya kasus gizi buruk dan demam berdarah yang menimpa warga masyarakat. Ini dikarenakan, pemerintah kurang serius memperhatikan persoalan ini secara mendasar. Di daerah yang memberi perhatian besar dengan didukung program sistematis, jumlah kasus penderita gizi buruk maupun DBD, terbukti sangat kecil.
Selain itu, pemerintah juga harus mendorong keterlibatan masyarakat di tingkat bawah untuk membantu menyosialisasikan program-program kesehatan yang sangat berguna bagi rakyat kecil. Misalnya, menyosialisasikan melalui dasa wisma, RT/RW, Tim Penggerak PKK, kelompok arisan, posyandu dan lain sebagainya. Tanpa dukungan dan bantuan masyarakat di tingkat bawah, rasanya sulit program-program kesehatan mendasar itu bisa sampai dan jadi acuan masyarakat.
Oleh karena itu, pemerintah harus rajin melakukan pemantauan ke lapangan. Terutama memberi perhatian khusus kepada ibu hamil dari keluarga tak mampu supaya kebutuhan gizi ibu dan janinnya bisa terpenuhi. Sehingga, kelak anak yang lahir itu bisa menjadi generasi penerus yang sehat dan cerdas. Dan, pada akhirnya nanti, mampu memajukan bangsa ini untuk berkompetisi di segala bidang dengan bangsa lain.
Sebab, dengan memberi makanan bergizi serta pelayanan kesehatan yang optimal pada ibu hamil dari keluarga miskin, akan menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan organ-organ janin menjadi optimal. Termasuk organ otak yang merupakan komponen utama dalam pembentukan kualitas SDM. Apabila anak dari keluarga miskin itu lahir normal, tumbuh dan berkembang dengan baik serta sekolah dengan baik pula, besar kemungkinannya kelak mereka tidak akan miskin lagi seperti kedua orangtuanya. Semoga. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: