Jumat, 07 Januari 2011

Blimbingsari Padat, Investasi Menggeliat


ANTUSIAS masyarakat dalam memanfaatkan transportasi udara melalui Bandara Blimbingsari, Rogojampi, Banyuwangi yang baru seminggu diresmikan ternyata cukup bagus. Terbukti, beberapa kali penerbangan dari Banyuwangi ke Surabaya maupun dari Banyuwangi ke Denpasar selalu dipenuhi penumpang. Bahkan, untuk dua penerbangan Banyuwangi – Denpasar ke depan sudah ada yang memboking seluruh seat. Pembokingnya dari kalangan pejabat asal Rogojampi dan pengacara Banyuwangi.

Pada Rabu kemarin lusa misalnya, seluruh seat untuk rute penerbangan Banyuwangi – Surabaya juga penuh. Bahkan, beberapa penumpang terpaksa harus gigit jari karena tidak kebagian tiket meski sudah memesan satu hari sebelum pemberangkatan. Salah satunya adalah ketua Bappeda Kabupaten Banyuwangi Suhartoyo. Padahal, pada Rabu pagi itu dia ada agenda rapat dengan Gubernur Jatim di Surabaya. Terpaksa, dia harus berangkat malam hari melalui jalur darat dengan waktu tempuh tujuh jam.

Antusias pemakaian transportasi jalur udara itu juga datang dari kalangan pebisnis. Pada penerbangan Rabu kemarin lusa yang kebetulan saya juga ada di dalamnya, lebih dari separuh penumpangnya adalah para pengusaha. Ada owner pabrik kapal di kawasan Sukowidi, owner pabrik pengalengan ikan di Muncar, distributor consumer good di Rogojampi, pengusaha pemilik perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur, komisaris PT Kereta Api dan konsultan pajak asal Surabaya. Ada pula dua pejabat eksekutif Pemkab Banyuwangi, sekdakab dan kepala inspektorat.

Semua penumpang mengaku baru kali pertama memanfaatkan jasa penerbangan melalui Bandara Blimbingsari. Sebagian di antara mereka ada yang sempat mengkhawatirkan dengan penerbangan ini karena alasan pesawatnya kecil, yaitu jenis Grand Caravan. Tapi, setelah mereka sudah mencobanya dan tiba di Bandara Juanda Surabaya dengan lancar, para penumpang yang sebelumnya sempat was-was banyak yang memujinya. Mereka juga berjanji akan memanfaatkan jasa penerbangan ini kembali ketika balik ke Banyuwangi atau keluar Banyuwangi lagi bila bertepatan dengan jadwal penerbangan yang hanya seminggu tiga kali. Masing-masing pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Bahkan, saat pesawat yang dipiloti warga negara Irlandia itu mendarat dengan mulus di Juanda, seluruh penumpang memberi apresiasi dengan aplaus tepuk tangan.

Faktor kepuasan menyangkut kenyamanan dan keamanan sebelumnya juga disampaikan jajaran Muspida Banyuwangi saat diberi kesempatan mencoba pesawat ini untuk melihat wilayah Banyuwangi dari udara, sehari setelah Bandara Blimbingsari di-launching. Masing-masing Bupati, Dandim, Kapolres, Danlanal, Kajari, Kepala PN dan anggota DPRD. Termasuk saya dan fotografer Radar Banyuwangi ikut serta di dalamnya. Juga para wartawan cetak dan elektronik Banyuwangi pada penerbangan berikutnya. Beberapa dari mereka mengakui, meski jenis pesawatnya kecil, tapi sangat stabil, termasuk saat landing juga mulus. Apalagi, pilotnya orang asing yang sangat berpengalaman. Semakin menambah percaya diri penumpangnya.

Memang, kekhawatiran dan ketakutan naik pesawat ini sempat melanda sebagian perasaan calon penumpang yang sebenarnya sangat berminat memanfaatkan penerbangan ini. Namun, hingga kini sebagian besar masih tetap belum berani mencobanya. Hal ini juga diakui oleh pengelola tiket yang sering menerima pertanyaan dari para calon penumpang menanyakan mulai beroperasinya pesawat yang yang lebih besar.

Ya, mungkin itu hanya ketakutan yang berlebihan, buktinya selama seminggu beroperasi kondisinya aman-aman saja dan belum ada keluhan yang serius. Malah dengan naik pesawat kecil, penumpangnya bisa menikmati pemandangan alam yang ada di bawah lebih leluasa. Mengingat, ketinggian terbangnya lebih rendah dari pesawat yang lebih besar seperti Fokker dan Boeing. Apalagi, pemandangan alam di wilayah Banyuwangi cukup eksotik.

Hal itu juga diakui, para penumpang pesawat yang sudah mencoba terbang dari Blimbingsari. Termasuk Gubernur Jatim Soekarwo saat meresmikan bandara ini 29 Desember 2010 lalu juga mengakuinya. Sebab, saat take off maupun menjelang landing, kita akan disuguhi indahnya pemandangan alam yang terdiri dari hamparan pantai, tambak, perbukitan, kepulauan, areal pertanian, perkebunan, hutan, dan pelabuhan. Jarang sekali ada bandara yang di sekitarnya memiliki pemandangan sangat cantik seperti Blimbingsari. Pasti para turis nantinya juga akan banyak yang tertarik dengan kondisi ini.

Bila antusias penumpang lewat Bandara Blimbingsari terus terjaga, bahkan semakin menggeliat, tentu rencana mengganti pesawat dengan kapasitas kursi yang lebih banyak akan semakin cepat terealisir. Rencananya, operator penerbangan Sky Avitation akan mendatangkan pesawat jenis Fokker berkapasitas 40-50 penumpang pada bulan depan untuk menggantikan pesawat Grand Caravan berpenumpang 9 orang yang dioperasikan saat ini. Tapi, untuk bisa mengganti pesawat, ada tahapan atau mekanisme yang harus dilalui, salah satunya menyangkut volume penumpang. Termasuk juga adanya izin baru dari kementerian Perhubungan setelah dikaji lebih dulu.

Semakin menggeliatnya penerbangan dari Blimbingsari, tentu membawa dampak positif. Meski rata-rata pemakainya kalangan kelas menengah ke atas, tapi bukan berarti keberadaan bandara ini tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi masyarakat luas, khususnya kelas menengah ke bawah. Memang, saat ini masih belum bisa dirasakan secara langsung, tapi ke depan multiplier effect-nya pasti banyak membawa manfaat. Apalagi bila beberapa fasilitas, sarana dan prasarana pendukung di Bumi Blambangan sudah bisa disiapkan secara terpadu, pasti perekonomian akan semakin menggeliat dan bisa menyejahterakan masyarakat.

Untuk melengkapi sarana dan prasarana pendukung di Bandara Blimbingsari misalnya, tahun ini kabarnya ada bantuan dari APBN Rp 5 miliar dan APBD Jatim Rp 6 miliar. Selain itu, dalam minggu ini Bupati Anas beserta beberapa kepala SKPD terkait tengah berjuang mencari dukungan dan sokongan ke pusat agar anggaran pembangunan juga dialirkan ke Banyuwangi. Lobi tingkat tinggi yang dilakukan bupati ini patut diapresiasi, sebab tidak semua kepala daerah bisa melakukannya. Lebih-lebih mereka yang tidak punya pengalaman atau kenalan dekat dengan pejabat tinggi negara yang ada di pusat kekuasaan.

Apalagi, hasil lobi mantan anggota DPR RI dari PKB yang sejak 21 Oktober 2010 menakhodai Banyuwangi ini juga membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Hasil ‘’kampanyenya’’ di Kementerian Pekerjaan umum (PU), memperoleh komitmen infrastruktur jalan poros nasional yang ada di Banyuwangi jadi prioritas yang akan dibangun. Terutama akses jalan menuju Bandara Blimbingsari, pelabuhan Ketapang dan pelabuhan Tanjung Wangi. Ini merupakan bentuk apresiasai atas beroperasinya bandara udara Blimbingsari.

Untuk jangka pendek, Kementerian PU akan mengambil alih proyek pembangunan jalan double way Sukowidi-Ketapang yang akan direalisasikan pada tahun 2012. Selama ini, empat jalur ruas jalan itu dibangun dengan dana dari APBD Banyuwangi.

Selain itu, tetap menyokong pembangunan waduk Bajulmati yang nantinya bisa membantu para petani yang sering kekurangan air di wilayah Banyuwangi utara. Juga menyiapkan pembangunan Waduk Singolatri, Kedawang dan Lider di Banyuwangi selatan yang coverage-nya mencapai 34 ribu hektar.

Dengan adanya Bandara Blimbingsari yang bakal didukung dengan pengoperasian pelabuhan petikemas, kita berharap para pengusaha Banyuwangi yang selama ini sukses berinvestasi ada di luar daerah, berkenan kembali membangun kampung halamannya. Saya sangat terkejut mendengar salah seorang pengusaha yang duduk di samping saya dalam penerbangan dari Banyuwangi ke Surabaya bercerita perusahaan-perusahaan besar milik orang Banyuwangi di luar kota. Ternyata, jumlahnya cukup banyak.

Betapa bangganya, kalau mereka juga punya keinginan besar untuk berinvestasi di kampung halamannya. Apalagi, sumber daya alam di Bumi Blambangan ini sangat kaya sekali. Sentuhan tangan para investor masih banyak dibutuhkan. Semoga dengan adanya Bandara Blimbingsari, mereka bisa meluangkan waktunya sejenak untuk mudik ke kampung halamannya sekaligus bisa membuka lahan bisnis baru di sini. (cho@jawapos.co.id)

*) Catatan Choliq Baya ini ditayangkan di Radar Banyuwangi edisi Jumat, 7 Januari 2007

Tidak ada komentar: