Senin, 22 Oktober 2012

Banyuwangi, Surga Investasi Baru?

Oleh: A. Choliq Baya

SELAMA ini Banyuwangi cukup dikenal dengan dunia magis dan mistiknya. Keampuhan para supra natural atau dukun asal Banyuwangi sudah begitu tersohor dimana-mana. Beberapa macam ajian bernuansa mistis yang bisa dipakai untuk memperdayai orang juga banyak kita temukan. Mulai dari santet, pelet, jaran goyang, sabuk mangir, dan masih banyak lagi. Kentalnya nuansa magic dan mistis itu terkadang membuat merinding orang luar yang akan bertugas di bumi bertajuk Sunrise of Java.

Imej Banyuwangi sebagai kota magic dan mistis itu hingga kini masih sangat terasa meski nuansanya sudah tidak sekental dulu. Sebab, kalau dulu orang yang akan pergi ke Banyuwangi banyak yang tidak berani terang-terangan karena takut dikira akan mencari paranormal. Tetapi, sekarang orang sudah tidak malu-malu lagi untuk menyebut akan datang ke Banyuwangi. Mengapa? Karena Banyuwangi sudah berubah cukup pesat, bahkan kini mendapat julukan baru sebagai surga investasi.

Julukan baru itu disampaikan langsung oleh akademisi sekaligus pakar statistik senior ITS Kresnayana Yahya. Termasuk dijadikan tema talk show di radio Suara Surabaya yang dipandu sendiri oleh Kresnayana dengan bintang tamu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Talk show di media cukup prestise yang berlangsung beberapa waktu lalu itu juga di-relay beberapa stasiun radio di Banyuwangi. Tanggapan dari masyarakat Jawa Timur sangat luar biasa. Hampir semuanya memberikan apresiasi positif.

Meroketnya Banyuwangi sebagai surga investasi baru ini, tentu tak bisa lepas dari peran dan kepiawaian Bupati Anas. Mulai dari kiat dan strateginya dalam merancang program yang bisa dijadikan sebagai pengungkit kemajuan daerah hingga mobilitasnya yang tinggi dalam menawarkan Banyuwangi ke pihak luar. Termasuk, mencarikan anggaran pendukung dari pemerintah pusat untuk memperbaiki infrastruktur yang ada di daerah. Karena, kalau hanya mengandalkan APBD, tidak akan cukup dan butuh waktu agak lama.

Ada beberapa kiat yang dilakukan Bupati Anas dalam menawarkan Banyuwangi hingga dikenal sebagai surga investasi baru. Hal ini juga bisa dicontoh oleh kepala daerah lain. Yaitu, aktif sebagai ‘’salesman’’ sekaligus aktif berpromosi maupun piawai memanfaatkan media promosi. Dengan kata lain, dia bisa memerankan diri sebagai personal  marketing communication. Penguasaan ilmu ini yang jarang dimiliki oleh kepala daerah. Terutama  yang berlatar belakang birokrat.

Karena itu, jangan heran kalau bupati sampai berani membeli space di beberapa media cetak berlevel internasional. Seperti di beberapa majalah milik maskapai penerbangan untuk mengekspos potensi yang dimiliki Banyuwangi. Termasuk, berpromosi di stasiun televisi maupun radio melalui acara talk show maupun kerjasama even. Multiplier effect dari ekspos potensi daerah itu yang akhirnya menjadikan Banyuwangi banyak didatangi investor.

Terbukti, minat orang untuk berinvestasi di Banyuwangi hingga akhir 2011 kemarin menyodok ke urutan ketiga dari 38 daerah di Jatim. Padahal, tahun sebelumnya masih berada di urutan 37. Sedangkan realisasi investasi asing hingga semester I tahun 2012, daerah ini juga menyodok ke urutan kedua di Jatim. Kondisi ini sejalan dengan melesatnya pertumbuhan ekonomi Banyuwangi di Semester awal tahun 2012 yang mencapai 7,22 persen, mengungguli pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6,5 persen.

Kabar yang cukup menyenangkan di atas semoga tidak sekedar menjadi ‘’angin surga’’. Faktanya, meski para investor sudah banyak yang berminat mengembangkan usahanya di bumi Blambangan, ternyata masih ada kendala yang cukup krusial. Salah satunya menyangkut ketersediaan lahan. Ini bukan berarti di Bumi Blambangan yang daerahnya cukup luas, bahkan konon kabarnya secara geografis terluas di Pulau Jawa, tidak tersedia lahan. Melainkan, ada pihak-pihak yang sengaja ingin mengeruk keuntungan secara berlebihan dengan hadirnya investor.

Salah satu yang dinilai mengganggu arus investasi adalah para spekulan tanah. Kabar yang beredar, para spekulan tanah tidak hanya dari kalangan orang berduit saja tetapi ada juga dari kalangan pejabat. Mereka ada yang sudah membeli atau masih dalam proses membeli lahan yang sudah diincar investor untuk tempat usaha.

Tak hanya itu, beberapa investor malah ada yang dibuat kelimpungan oleh spekulan tanah. Misalnya, ada investor yang akan membangun hotel dan sudah membebaskan beberapa lahan milik warga tapi dihambat oleh pemilik lahan yang kebetulan tanahnya jadi akses jalan utama. Investor sudah menyetujui saat pemilik lahan menaikkan harga yang sudah disepakati. Begitu akan dibayar, pemilik lahan menaikkan harga lagi. Kondisi ini membuat investor tidak nyaman. Sepertinya pemilik maupun spekulan tanah banyak yang memanfaatkan aji mumpung demi mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Kasus-kasus tanah yang lain, terutama di Wongsorejo yang bakal jadi kawasan industri juga masih bermasalah. Terutama terkait dengan pengalihan hak guna usaha (HGU) ke pihak lain yang belum bisa dituntaskan dikarenakan masih ada warga yang menolak kompensasi. Sebab, tanah negara yang ditempati selama puluhan tahun itu diklaim sebagai tanah miliknya dan mereka menolak ganti rugi yang diberikan investor baru.

Belum lagi gangguan-gangguan lain dari elemen masyarakat yang ingin mendapatkan keuntungan dari kehadiran investor. Biasanya dengan mempersoalkan kelemahan atau kekurangan pada sisi lain yang terkesan dicar-cari. Tapi ujung-ujungnya, mereka minta duit atau minta kompensasi yang lain. Selama visinya jelas demi terciptanya tatanan masyarakat dan lingkungan sehat tentu kita acungi jempol. Namun, kalau ada agenda yang tersembunyi, itu sama saja dengan menghambat proses pembangunan yang bertujuan menyejahterakan masyarakat.

Karena itu, pemerintah harus menertibkan para spekulan tanah dan pihak-pihak yang mencoba mengeruk keuntungan secara sepihak. Misalnya, melakukan pengawasan yang ketat terhadap adanya proses jual beli tanah di kawasan industri. Khususnya yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu dengan tujuan mengeruk keuntungan berlipat-lipat.

Selama pemerintah dan warga masyarakat tidak kompak dalam membantu merealisasikan usaha yang akan dibangun investor di daerah ini, jangan harap Banyuwangi bisa menjadi surga investasi. Bahkan, kalau kondisi pembebasan lahan terus bermasalah, para investor pun akan kapok karena tidak adanya jaminan dan kepastian yang bisa mendukung usahanya. Akhirnya, Banyuwangi yang baru mendapatkan julukan sebagai surga investasi baru bisa berubah menjadi neraka bagi investor. Semoga ini tidak terjadi. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: