Sabtu, 02 Juli 2011

Mendorong Desa Melek Baca dan Melek IT


Oleh A. Choliq Baya

HAMPIR semua warga Banyuwangi tahu bahwa daerahnya memiliki potensi alam yang luar biasa. Mulai hasil pertanian, perkebunan, hutan, laut, hingga gunung yang mengandung emas. Tak hanya itu, alam Bumi Blambangan yang eksotis juga bisa dijual kepada para wisatawan. Potensi alam itu masih diperkaya lagi dengan aneka tradisi dan seni budaya yang tersebar di penjuru desa. Rasanya lengkap ‘’kekayaan’’ yang dimiliki daerah berjuluk The Sun Rise of Java ini.

Rasanya beruntung sekali saya bisa tinggal di Banyuwangi meski hanya sebatas menjalankan tugas. Meski bukan penduduk asli Banyuwangi, saya merasa bangga dan merasa memiliki daerah di ujung timur Pulau Jawa ini. Bahkan, pada beberapa kesempatan, saya juga tak sungkan-sungkan ikut mempromosikan daerah ini sebatas yang saya ketahui kepada para kolega. Terutama, menyangkut potensi daerah ini dan peluang yang bisa dikembangkan sebagai bisnis menghasilkan.

Kebetulan saat ada tugas ke luar kota, seperti ke Surabaya, Jakarta, dan beberapa kota lain, saya masih sering bertemu teman-teman atau mantan kolega ketika saya masih terjun di lapangan menjadi wartawan pada tahun 1995 sampai 2000. Lantaran tugas liputan saya selalu berputar di bidang politik, pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, pendidikan, dan ekonomi, kolega saya banyak dari kalangan politisi, eksekutif, akademisi, dan pengusaha.

Saat bertemu para kolega dan kawan-kawan inilah saya bercerita tentang potensi yang dimiliki Banyuwangi. Termasuk, berpromosi agar mereka tertarik datang ke Banyuwangi sekaligus menjajaki peluang investasi di sini. Apalagi, transportasi menuju Banyuwangi sekarang bisa lebih cepat setelah lapter Rogojampi beroperasi. Selain itu, untuk mengangkut hasil produksi dalam jumlah besar ke luar kota dan luar negeri sudah ada pelabuhan peti kemas meski hingga sekarang belum beroperasi maksimal.

Ketika berpromosi tentang potensi alam yang dimiliki Banyuwangi, saya tidak bisa menyampaikan data secara detail. Saya hanya bisa menggambarkan hasil alam Banyuwangi yang beberapa di antaranya konon merupakan penyuplai pasar terbesar di beberapa kota di Indonesia. Tentu semua itu sebatas yang saya ketahui, misalnya kedelai, cabe, dan padi. Hasil perkebunan; kopi, kakao, manggis, pisang, kelapa, dan durian. Hasil laut; aneka ikan dan rumput laut yang merupakan hasil budi daya. Mungkin juga masih banyak lagi hasil alam Banyuwangi di luar yang saya ungkap di atas.

Sayangnya, hanya sebagian kecil saja data komoditi unggulan di Banyuwangi yang saya tahu. Itu pun dari cerita beberapa orang atau kawan, dari mulut ke mulut. Hingga kini saya belum pernah tahu data konkretnya. Sudah saya coba cari di situs resmi milik Pemkab Banyuwangi, tapi data-data itu tidak saya temukan. Seperti apa sebenarnya potensi konkret yang dimiliki Banyuwangi, tidak ada gambaran yang jelas dan rinci.

Misalnya, Banyuwangi sebagai salah satu daerah penghasil kedelai terbesar di Indonesia, seberapa besar hasilnya dan di daerah mana saja adanya? Begitu pula dengan pisang dan manggis yang kabarnya sampai diekspor ke luar negeri, berapa besar hasilnya dan ada di daerah mana saja, saya juga kurang tahu pasti. Masih banyak komoditi andalan lain yang mungkin orang Banyuwangi sendiri tidak banyak tahu, apalagi orang dari luar Banyuwangi.

Padahal, aneka hasil alam maupun produk unggulan Banyuwangi yang lain sangat penting dieksplor dan diekspos ke dunia luar untuk menarik investor ke sini. Pihak-pihak terkait, terutama yang ada di pemerintahan seharusnya lebih jeli dan memperhatikan hal-hal seperti ini kalau ingin Banyuwangi cepat berkembang. Termasuk, mengangkat aneka potensi lain yang masih terpendam dan bisa ‘’dijual’’ agar lebih menghasilkan. Di sinilah peran para aparat pengelola daerah, baik dari kalangan eksekutif maupun legislatif, dituntut kreativitas dan inovasinya.

Kalau para eksekutif dan legislatif hanya menjalankan tugas rutin sehari-hari yang bersifat normatif dan sudah terpola tanpa ada inovasi dan kreativitas, tentu perkembangan daerah ini hanya akan jalan di tempat. Oleh karena itu, perlu ada gerakan mendorong segenap pihak, terutama yang ada di pemerintahan untuk lebih peduli dalam mengeksplor dan mengekspos segala potensi yang ada. Termasuk, gebrakan-gebrakan yang sudah dilakukan agar menjadi motivasi bagi aparat pemerintah lain.

Lantaran segala potensi yang dimiliki daerah ini ada di desa, maka gerakan ‘’unjuk gigi’’ mengeksplor dan mengekspos juga harus dimulai dari desa. Apalagi, banyak potensi desa yang sebenarnya bisa ‘’dijual’’ lebih banyak tapi selama ini tak tergarap dengan maksimal. Salah satunya disebabkan pola pikir perangkat desa yang kurang peduli dengan keterbukaan dan kemajuan desa. Termasuk, kurang tanggap, enggan belajar, dan tak mau memanfaatkan teknologi informasi (TI) untuk memajukan desa.

Camat Bangorejo pernah memberitahu saya bahwa salah satu desa di wilayah kekuasaannya punya komoditi unik, suweg, yaitu umbi-umbian khas lokal sejenis bentul yang biasanya disajikan bersama polo pendem lain sebagai hidangan tamu pada acara seremonial. Menariknya, polo pendem yang sepertinya tidak terlalu berharga ini ternyata merupakan komoditi ekspor. Kalau tidak salah dikirim ke Jepang dan Cina. Kalau hal ini dieksplor dan diekspos, pasti bisa memotivasi warga dan perangkat desa lain untuk berlomba-lomba memacu diri memajukan desanya.

Oleh karena itu, perangkat desa harus didorong dan dibiasakan lebih terbuka dan proaktif dalam mempromosikan desanya agar bisa bersaing dan berkompetisi secara sehat dan penuh semangat. Mereka pasti akan senang manakala potensi di desanya bisa terekspos di media dan diketahui masyarakat umum. Termasuk, hasil-hasil pembangunan yang selama ini mereka lakukan bersama warga dan aktivitas positif lain yang bisa menjadi inspirasi desa lain untuk maju.

Untuk mengembangkan segala potensi, hasil pembangunan dan aktivitas positif di desa, Radar Banyuwangi mencoba memfasilitasi dengan membuka rubrik khusus untuk mengangkat atau mengupas potensi yang ada di desa. Termasuk, berupaya secara maksimal mengedarkan koran hingga ke pelosok desa agar warga desa lebih ‘’cerdas’’ dan tidak ketinggalan informasi. Tujuan lain, rubrik khusus itu juga bisa dijadikan alat komunikasi aparat pemerintah di tingkat dusun, desa, kecamatan, kabupaten, dengan warga masyarakat.

Selain bertujuan agar warga dan perangkat desa lebih ‘’melek’’ baca juga supaya ‘’melek’’ TI. Apalagi, Pemkab Banyuwangi juga sudah mencanangkan program ‘’Cyber Village System’’ agar desa-desa di Banyuwangi bisa memanfaatkan TI, baik untuk mengangkat dan memromosikan potensi di desa maupun sebagai alat menjalin komunikasi dengan perangkat pemerintah lain dan dunia luar.

Semoga upaya ini bisa menggairahkan desa-desa di Bumi Blambangan untuk berkompetisi dan berlomba memacu kemajuan dengan tujuan akhir menyejahterakan rakyat. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: