Jumat, 29 Juli 2011

Banyuwangi Etno Carnaval

Oleh A. Choliq Baya

TAK sampai tiga bulan lagi di Bumi Blambangan bakal ada even akbar berskala internasional. Itu kalau sukses dan tak ada kendala. Namanya Banyuwangi Etno Carnaval (BEC). Rencananya akan digelar 22 Oktober 2011. Agenda itu telah beberapa kali diungkap Bupati Abdullah Azwar Anas. Bahkan, ketika berlangsung Jember Fashion Carnaval (JFC) Minggu (24/7) lalu, panitia juga sempat menyinggung rencana BEC saat konferensi pers dengan para wartawan dari dalam dan luar negeri. Sebab, yang akan mendesain BEC adalah orang-orang yang selama ini menangani JFC.

Sayangnya, hingga kini agenda itu belum tersosialisasi kepada masyarakat secara luas. Sehingga, banyak masyarakat yang tidak tahu. Termasuk, para insan pers juga belum ada yang memberitakan agenda ini di media. Terutama menyangkut isi, misi, dan format BEC yang diharapkan bisa dijadikan sarana menarik para wisatawan lokal dan mancanegara berkunjung ke bumi berjuluk The Santet of Java eh salah, maksudnya The Sun Rise of Java he… he...

Meski belum run news di media massa, tapi kasak kusuk tentang penyelenggaraan BEC sudah jadi bola liar di kalangan para seniman dan budayawan. Hal itu saya ketahui dari seorang teman yang beberapa kali mengirim pesan ke saya via BBM. Ada yang keberatan, ada yang khawatir, dan ada pula yang bersikap wait and see. Alasannya pun macam-macam, mulai kurang melibatkan seniman dan budayawan lokal, khawatir merusak seni budaya lokal, hingga kekhawatiran peserta akan didominasi waria.

Tetapi, di balik alasan itu, mungkin juga ada alasan lain yang tidak terungkap, khususnya menyangkut kepentingan atau agenda tersembunyi. Wallahu’alam. Sebab, ketika saya mengikuti pertemuan seniman dan budayawan di Pendopo Kabupaten Banyuwangi membahas rencana pagelaran even internasional ini beberapa waktu lalu, mereka justru tak terlihat kompak. Yang mengemuka justru ego dan ingin dapat pengakuan diri, sedang sumbangan pemikiran yang terkait rencana menggelar even akbar justru tidak muncul.

Mungkin inilah yang membuat BEC tidak banyak melibatkan seniman atau budayawan lokal tapi diserahkan kepada profesional, yakni Dynand Fariz presiden JFC, yang telah sukses menyelenggarakan JFC selama sembilan tahun di Jember. Meski demikian, mereka sudah diajak urun rembug untuk mengangkat potensi seni budaya Banyuwangi supaya bisa go international. Perkara mereka tidak bisa terlibat atau dilibatkan lebih maksimal dalam BEC semoga tidak menjadi kekecewaan mendalam. Sebab, para seniman dan budayawan tetap diberi kesempatan berkreasi dalam Festival Kuwung yang digelar bersamaan dengan puncak peringatan hari jadi Banyuwangi (Harjaba) di bulan Desember.

Terkait even BEC, semua pihak diharapkan ikut memberikan dukungan. Mengingat, agenda ini baru pertama kali digelar dan persiapan waktunya teramat singkat. Apalagi, even ini membawa misi mulia, yaitu mengenalkan dan mengangkat potensi seni budaya di Banyuwangi ke dunia internasional agar daerah ini dikenal dan jadi jujugan wisata para turis. Dengan semakin dikenalnya potensi di Banyuwangi, akan banyak investor yang berminat untuk menanamkan modal di sini. Tentu, itu akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan rakyat Banyuwangi. Semoga.

Meski demikian, panitia BEC harus tetap merangkul, mendengar saran dan masukan para seniman dan budayawan lokal. Sebab, mereka pasti lebih tahu makna dan filosofi yang terkandung dalam seni budaya asli Banyuwangi. Jangan sampai setelah seni budaya lokal itu diimprovisasi dengan kreasi, variasi, dan dikombinasi dengan unsur-unsur lain yang lebih mengglobal justru akan menghilangkan ruh atau jati diri. Semoga kekhawatiran ini tidak terjadi. Termasuk, panitia juga harus kulo nuwun dengan mendatangi beberapa sesepuh pencetus dan pelaku seni budaya untuk menjelaskan maksud, tujuan, dan misi.

Harapan kita semua, even besar ini bisa diwujudkan karena sudah dirancang dan diagendakan meski persiapannya sangat singkat. Apalagi, beberapa wartawan dari luar daerah sudah dapat informasi mengenai akan digelarnya BEC pada 22 Oktober 2011. Bupati Banyuwangi juga sudah sering woro-woro kepada khalayak tentang rencana penyelenggaraan even ini. Tentu kalau sampai batal atau tertunda akan menurunkan kredibilitas pemerintah daerah, termasuk reputasi presiden direktur JFC yang akan menangani even ini.

Dalam limit waktu yang pendek ini, Pemkab Banyuwangi dan panitia yang ditunjuk harus secepatnya melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas. Tidak hanya informasi masalah waktu penyelenggaraan, tapi yang lebih penting adalah apa isi dan format yang akan disuguhkan dalam BEC nanti. Termasuk, bagaimana caranya untuk bisa ikut menjadi peserta BEC dan tahapan-tahapan apa saja yang akan dilalui. Inilah yang banyak tidak diketahui masyarakat. Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa BEC tak beda jauh dengan Festival Kuwung yang pesertanya dikoordinasi sanggar seni, gugus sekolah, atau kecamatan.

Secara sekilas, saya baru tahu gambaran isi BEC saat diundang Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi untuk dimintai masukan seputar persiapan acara ini dua hari lalu. Prosedurnya hampir tak jauh berbeda dengan JFC. Misalnya, perekrutan peserta dilakukan dengan cara seleksi dengan membuka pendaftaran pada 1–6 Agustus. Selanjutnya, seluruh calon peserta harus mengikuti audisi pada 8-13 Agustus. Peserta yang lolos akan diikutkan work shop setiap Sabtu dan Minggu selama tiga pekan hingga akhir Agustus. Dalam work shop tersebut, peserta mendapat pelajaran tentang cara tampil di cat walk, di hadapan khalayak, menyuguhkan karya seni, dan lain sebaginya.

Selanjutnya, pada minggu kedua di bulan September, akan dilakukan presentasi kostum oleh tim JFC kepada para peserta. Selanjutnya, peserta diharapkan bisa membuat variasi kostum dan bisa memanfaatkan desainer lokal dan menyeleraskan dengan koreografer supaya bisa tampil sempurna. Untuk pengadaan kostum, peserta harus merogoh kocek sendiri karena panitia tidak menganggarkan. Ada rencana bantuan anggaran dari pemkab tapi nilainya sangat kecil. Inilah yang mungkin agak membuat berat. Diharapkan ada instansi atau pihak sponsor yang membantu mendanai, terutama dari instansi pemerintah, perbankan, dan perusahaan-perusahaan swasta.

Mengingat, biaya untuk variasi kostum cukup besar, perekrutan peserta kemungkinan bisa dikoordinasikan dengan instansi yang bersedia mendanai. Sebagai gambaran, anggaran untuk kostum setiap peserta JFC rata-rata sekitar Rp 2,5 juta. Bayangkan kalau pesertanya 500 orang, nilai anggaran yang harus disediakan untuk kostum saja sudah miliaran rupiah. Namun, ini semua masih asumsi, siapa tahu para kreator dari Banyuwangi bisa menyajikan kostum yang lebih heboh dengan biaya murah.

Rencananya seni budaya yang bakal ditampilkan dalam BEC perdana ini adalah gandrung, janger, dan Kuntulan. Ketiga ikon seni budaya Banyuwangi itu bakal ditampilkan dengan corak, warna, dan nuansa yang berbeda. Akan banyak kreasi-kreasi tambahan dari hasil improvisasi para desainer dan koreografer agar peserta yang membawakan seni budaya bisa tampil elegan dan berkelas dunia. Diperkirakan, setiap karya seni akan diikuti 100 orang atau 300 orang untuk tiga ikon seni budaya Banyuwangi yang bakal ditampilkan. Ditambah lagi dengan dari tim JFC sebagai bintang tamu yang akan tampil menjadi pembuka acara.

Sekilas kita bisa membayangkan, Banyuwangi yang pada peak season seperti saat ini banyak dikunjungi wisman, nanti bakal lebih ramai lagi. Apalagi, bila penyelenggaraan BEC di tahun-tahun mendatang waktunya bisa disesuaikan peak season wisman, yakni pada bulan Juli–Agustus, pasti akan lebih menguntungkan. Harapan kita, BEC akan berlangsung sukses dan bisa menjadi penyedot wisman ke Banyuwangi. Segala kekurangan harus dijadikan pelajaran, jangan dijadikan pertentangan yang bisa menghambat dan merusak semangat persatuan dalam memajukan daerah yang kita cintai. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: