Rabu, 09 Mei 2012

Merpati, Jangan Lagi Ingkar Janji


Oleh: A. Choliq Baya

TRANSPORTASI udara dari Bandara Blimbingsari Banyuwangi ke Bandara Juanda Surabaya atau sebaliknya semakin sering dikeluhkan. Para penumpang yang dulunya banyak memanfaatkan jasa ini, sejak beberapa bulan lalu mulai kurang bergairah. Kondisi ini bukan dikarenakan mereka tidak tertarik menggunakan jasa penerbangan, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh layanan operator penerbangan yang sering tidak konsisten. Terutama menyangkut jadwal terbang yang sering berubah-ubah waktunya.

Padahal, sejak penerbangan perdana dibuka pada Desember 2010 lalu, antusias masyarakat yang memanfaatkan jasa ini cukup besar. Terbukti, jalur penerbangan reguler yang awalnya hanya dilayani pesawat jenis twin otter berkapasitas 9 penumpang milik maskapai Sky Avation, hampir selalu terisi penuh. Bahkan, empat bulan kemudian, operator penerbangan Sky Avation yang melayani rute Surabaya – Banyuwangi – Denpasar pergi pulang ini mengganti armada pesawat yang lebih besar, yakni Fokker 50 berkapasitas 48 tempat duduk.

Dengan alasan rugi, jalur Banyuwangi – Denpasar dan sebaliknya mulai 18 Juli 2011 dihentikan untuk sementara. Sedang jalur Banyuwangi – Surabaya dan sebaliknya yang semula dilayani empat kali seminggu dipangkas menjadi tiga kali. Adanya kekosongan empat hari seminggu itu akhirnya diisi oleh operator penerbangan plat merah Merpati Nusantara Airline (MNA). Sebelum lebaran Idul Fitri tahun lalu, MNA mulai mengoperasikan pesawat baru MA-60 buatan Cina berkapasitas 52 kursi di Banyuwangi. Merpati terbang selama empat hari dalam seminggu, mengisi kekosongan yang tidak dimanfaatkan pesawat Sky Avation.

Tak lama kemudian, pesawat Sky Avation menghilang dari Banyuwangi. Setelah menutup jalur Banyuwangi – Denpasar, operator yang lebih banyak melayani carteran di luar Jawa itu kemudian berlanjut menutup jalur Banyuwangi – Surabaya. Penutupan jalur reguler ini konon kabarnya karena tidak menguntungkan, sehingga Sky Avation lebih fokus melayani carteran. Sejak itu, jalur Surabaya – Banyuwangi dan sebaliknya hanya dilayani oleh Merpati, seminggu empat kali.
Arus penumpang yang memanfaatkan jasa penerbangan melalui Bandara Blimbingsari sebenarnya cukup bagus. Terbukti, setiap penerbangan rata-rata kursi yang terisi berkisar antara 70 – 80 persen. Penumpang yang memanfaatkan jalur udara ini tidak hanya dari Banyuwangi. Ada pula yang datang dari Jember dan Negara, Bali. Bahkan, tak jarang ada penumpang yang berangkat secara berombongan.

Sayangnya, beberapa kali jam penerbangan berubah-ubah. Termasuk, jadwal penerbangan yang semula seminggu empat kali berubah jadi tiga. Tak lama kemudian berubah lagi, dari seminggu tiga kali menjadi empat kali. Belum lagi, faktor delay (penundaan) dengan berbagai alasan yang juga tergolong agak sering. Kondisi ini tentu membuat penumpang yang sudah biasa memfaatkan jasa penerbangan di Bandara Blimbingsari menjadi tidak nyaman.

Perubahan jadwal dari maskapai Merpati ini seringkali tidak sampai kepada para penumpang. Bahkan, agen tiketnya sendiri juga sering ikut bingung ketika ditanya perubahan jam penerbangan oleh penumpang. Tak jarang ia juga kena dampaknya, yakni ikut dimaki-maki penumpang. Salah satu agen tiket di Bandara Blimbingsari, juga tak berani pasang iklan promosi untuk mendukung layanan usahanya karena Merpati terlalu sering mengubah jadwal penerbangan.

Pernah ada rombongan penumpang dari Jember yang terlantar saat memanfaatkan jasa penerbangan melalui Bandara Blimbingsari karena pesawatnya tidak datang. Padahal, mereka sudah mengantongi tiket Banyuwangi – Surabaya. Maunya ke Surabaya ingin cepat, eh ternyata justru tambah lama. Masih ditambah hati dongkol lagi he.. he.. he..

Berkurangnya antusias penumpang dalam memanfaatkan Bandara Blimbingsari akibat jadwal yang sering bergeser, rupanya agak terobati ketika muncul berita Wings Air bakal melayani rute Surabaya – Banyuwangi – Denpasar. Apalagi, rencana kehadiran Wings Air ini tidak hanya melayani hari-hari kosong yang tidak diisi Merpati, tetapi bakal hadir setiap hari.

Namun, hingga kini Wings Air belum bisa merealisir keinginannya untuk melayani penumpang dari dan ke Banyuwangi meski pihaknya sudah mengajukan izin ke Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Kabarnya, izin yang didapat Wings Air hanya hari-hari kosong yang tidak diterbangi Merpati, padahal Wings ingin terbang setiap hari. Kendala lain kabarnya juga menyangkut kode Bandara Blimbingsari yang belum masuk jaringan penerbangan internasional. Sebab, kode Bandara Blimbingsari yang terpantau di jaringan IT Wings Air masih sama dengan kode bandara di salah satu negara kecil di Eropa.

Rencana Wings yang ingin terbang dari Banyuwangi setiap hari tampaknya bakal kesulitan. Pasalnya, pada 23 April lalu, direksi MNA memutuskan bakal melayani rute Banyuwangi – Surabaya dan sebaliknya setiap hari mulai 1 Mei mendatang. Untuk dua minggu pertama, sementara jam terbangnya masih menggunakan jadwal lama. Yaitu, Surabaya – Banyuwangi  pukul 13.25 – 14.15 WIB dan Banyuwangi Surabaya pukul 14.50 – 15.40. Sambil jalan, jam terbang ini akan terus dikaji. Bahkan, kalau antusias penumpang bisa mencapai 90 persen kursi, Merpati berniat akan menambah jam terbangnya menjadi sehari dua kali.

Tak hanya itu, Merpati juga akan memindah home base pesawat MA-60 ke Bandara Blimbingsari. Selama ini, home base pesawat Merpati yang terbang ke Banyuwangi berada di Bandara Juanda, Surabaya. Untuk memuluskan rencananya itu, kemarin MNA mengirim tim untuk melakukan cross check ke Banyuwangi. Yang bakal dikaji, mempersiapkan teknis perpindahan home base, mempersiapkan tempat parkir pesawat, penginapan kru, dan persiapan lain.

Para penumpang, umumnya Warga Banyuwangi, tentu sangat senang bila operator penerbangan yang melayani rute dari dan ke bumi Blambangan semakin banyak. Dengan adanya maskapai lebih dari satu diharapkan ada kompetisi yang ketat dalam memberi pelayanan terbaik kepada penumpang. Tetapi, manakala nantinya hanya satu maskapai yang diizinkan untuk beroperasi karena ada pertimbangan tertentu, kita bisa memakluminya.

Harapan kita, Merpati bisa merealisasi keputusannya dan konsisten dengan pelayanannya. Sehingga, keinginan masyarakat yang tersirat seperti bunyi pomeo ‘’Merpati tak pernah ingkar janji’’ benar-benar terwujud dan tidak berubah menjadi ‘’Merpati, jangan lagi ingkar janji’’. Semoga. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: