Senin, 22 Oktober 2012

Brantas Buta Aksara, Dorong Melek Media

Oleh: A. Choliq Baya

DAERAH di eks Karsidenan Besuki Jawa Timur (Jatim) ternyata menjadi lumbung buta aksara cukup besar di Indonesia. Dari empat kabupaten di eks Karsidenan Besuki, tiga diantaranya masuk dalam jajaran 15 besar daerah yang tingkat buta aksaranya tertinggi di Indonesia (JP 28/8). Dari data yang dilansir Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Jember menduduki peringkat pertama dengan angka buta aksara tertinggi hingga Desember 2011, yakni 204.069 jiwa. Disusul Bondowoso menduduki peringkat 11 dengan jumlah 88.131 jiwa dan Situbondo di peringkat 15 dengan total 82.210 jiwa.

Selain itu, seluruh kabupaten di wilayah Madura; Sumenep, Sampang, Bangkalan dan Pamekasan juga masuk dalam 15 besar daerah dengan angka buta aksara tertinggi di Indonesia. Termasuk di daerah tapal kuda seperti Pasuruan dan Probolinggo juga masuk di dalamnya. Kenyataan ini sekaligus mengukuhkan Jatim menduduki urutan teratas sebagai provinsi dengan jumlah buta aksara tertinggi di Indonesia. Yakni 1,5 juta jiwa dari total 6,7 juta jiwa yang ada di Indonesia.

Setelah dilansirnya angka buta aksara di beberapa media massa, beberapa pejabat pemerintah daerah (pemda) ada yang terkejut, ada pula yang kebakaran jenggot. Ada yang menyangkal datanya kurang valid alias sudah berubah. Ada pula yang menanggapi tingginya buta aksara itu dengan pamer program dan penghargaan yang telah diraih. Tanggapan terbanyak yang diungkapkan pejabat pemda ke media adalah upayanya berupa pengalokasian anggaran untuk program pemberantasan buta aksara. Pemerintah pusat sendiri tahun depan menyiapkan anggaran sebesar Rp 360 miliar untuk program ini.

Berbagai komitmen dan program yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi angka buta huruf perlu kita apresiasi. Termasuk, kesungguhannya terhadap penanganan masalah ini juga perlu didorong dan dievaluasi. Jangan hanya kepedulian ataupun perhatian pemerintah muncul ketika data-data itu telah dilansir di media massa. Biasanya, data-data itu dimunculkan menjelang atau pada saat peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) yang jatuh pada 8 September.

Memang, sejak 8 September 1964, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan tanggal tersebut sebagai HAI. Berarti HAI tahun 2012 ini merupakan peringatan ke-47. Penetapan tersebut dilakukan untuk mengingatkan dunia tentang pentingnya budaya literasi. Sebagai upaya keberaksaraan, UNESCO mencanangkan the United Nations Literacy Decade (UNLD) pada skala internasional tahun 2003-2012. Dekade ini ditujukan untuk meningkatkan tingkat melek aksara dan memberdayakan seluruh masyarakat.

Pada awal pencanangan UNLD tahun 2003, ada 15,41 juta orang buta aksara di Indonesia. Tahun 2010, jumlah itu menyusut menjadi 7,54 juta orang. Selanjutnya di tahun 2011 menyusut lagi menjadi 6,4 juta orang. Artinya, Indonesia lebih cepat melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) yang menyepakati penurunan 50 persen buta aksara pada tahun 2015. Kemajuan ini patut kita apresiasi.

Demikian pula dengan program-program pemberantasan buta aksara yang sampai sekarang masih berlangsung di negeri kita. Diantaranya melalui pendidikan non formal dan informal. Terutama melalui pembentukan kelompok-kelompok belajar yang ada di lingkungan dasa wisma maupun di desa-desa. Baik yang diprakarsai oleh perangkat pemerintah maupun elemen masyarakat.

Program melek aksara ini akan semakin cepat berhasil manakala juga dibarengi dengan program melek media. Salah satu program melek media yang cukup positif dan bisa mencerdaskan masyarakat adalah menggalakkan minat dan budaya membaca media massa. Apakah itu koran, tabloid atau majalah. Terutama di daerah yang kesadaran membacanya rendah, seperti di pelosok desa. Untuk menuju ke arah sana, harus diciptakan dan dibudayakan.

Salah satunya dengan mewajibkan desa untuk berlangganan media massa supaya bisa dibaca para perangkatnya. Akan lebih baik lagi manakala media massa itu bisa dipampang di papan pengumuman balai desa. Tujuannya, agar warga desa (minimal yang sudah tumbuh minat bacanya tapi belum mampu berlangganan media massa) bisa ikut menikmati. Sehingga, dengan membaca media massa, mereka tahu situasi dan perkembangan dunia luar. Di samping juga bisa membangkitkan motivasi warga desa untuk berinovasi dan berkompetisi lebih dinamis dalam memajukan daerahnya.

Koran, tabloid ataupun majalah yang sudah kadaluarsa waktunya, sebaiknya juga tidak dibuang tapi bisa dibendel ataupun ditempatkan di perpustakaan yang ada di balai desa. Kalau belum punya, akan lebih baik disediakan sepetak ruangan untuk taman bacaan. Taman bacaan ini bisa pula diisi dengan buku-buku bacaan yang lain. Apalagi kalau di desa itu sudah ada kelompok-kelompok belajar yang merupakan bagian dari program pemberantasan buta aksara, pasti lebih bagus. Tidak hanya orang tua peserta program melek huruf saja yang bisa memanfaatkan, anak-anak pun juga bisa memakai fasilitas itu.

Dari sini, diharapkan budaya melek baca dan melek media, terutama yang ada di pelosok desa akan tumbuh dan berkembang. Selanjutnya menjadi budaya yang cukup positif bagi kemajuan desa. Pasalnya, aktivitas dan kebiasaan seperti ini bisa mencerdaskan sekaligus menambah khazanah ilmu pengetahuan dan wawasan masyarakat desa. Dengan makin banyaknya orang berilmu, kreatif dan inovatif yang terinspirasi dari media massa atau buku bacaan, saya yakin dampaknya tidak hanya mengurangi angka buta aksara tapi juga berimbas pada kemajuan desa.

Apalagi, untuk mewujudkan itu semua perangkat desa tidak perlu bersusah payah mencarikan anggarannya. Sebab, pemerintah sudah menyediakan lewat program alokasi dana daerah (ADD) yang salah satu pemanfaatannya untuk penyelenggaraan pemerintah dan pemberdayaan masyarakat desa. Program melek media untuk masyarakat desa itu sudah dilaksanakan sejak tahun lalu di Banyuwangi, Probolinggo dan Pasuruan.

Semoga program melek huruf dan melek media juga bisa diterapkan di daerah yang tingkat buta aksaranya sangat tinggi seperti Jember, Bondowoso dan Situbondo. Harapan kita semua, daerah di wilayah eks Karsidenan Besuki dan umumnya di Jatim cepat terbebas dari buta aksara, sekaligus menjadi daerah yang melek media. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: