Senin, 22 Oktober 2012

Dua Tahun Kang Anas dan Kang Yusuf Memimpin Banyuwangi Ekonomi Melejit, Pungli di Birokrasi Jalan Terus


Oleh A. Choliq Baya

TANGGAL 20 Oktober 2012 ini pasangan Abdullah Azwar Anas dan Xusuf Widyatmoko genap dua tahun bertakhta sebagai bupati dan wakil bupati Banyuwangi. Meski masa pemerintahannya tergolong muda, ternyata beberapa capaian yang diraih dalam memajukan daerah ini lumayan cepat. Apalagi, kalau dibandingkan dengan beberapa daerah tetangga. Visi, semangat, dan dinamisasi, yang terjadi di bumi berjuluk Sunrise of Java ini cukup bagus dan menjanjikan.

Secara pribadi, saya sangat mengapresiasi beberapa langkah, program, kebijakan, dan kerja keras yang dilakukan keduanya. Salah satu yang paling spektakuler adalah kerja keras “melipat jarak”, yakni mendekatkan daerah ini dengan pihak luar melalui pengoperasian Bandara Blimbingsari, Rogojampi. Perjalanan Banyuwangi-Surabaya yang biasanya ditempuh via darat dalam waktu 7 hingga 8 jam, dengan pesawat dari Blimbingsari kini cukup ditempuh 40 menit.

Kerja keras yang dilakukan di awal tahun masa pemerintahan Kang Anas dan Kang Yusuf itu benar-benar menjadi pengungkit kemajuan Banyuwangi. Apalagi, pesawat yang beroperasi di Blimbingsari terus mengalami peningkatan yang cukup pesat. Awalnya dilayani pesawat Grand Caravan berpenumpang 9 orang, kemudian meningkat ke pesawat Fokker 50, dan meningkat lagi ke pesawat M-60. Kini, M-60 milik Merpati ditemani pesawat ATR 72-50 milik Wings Air.

Bahkan, penerbangan dari Banyuwangi ke Surabaya yang semula dilayani seminggu 3 tiga kali, mulai 1 Mei tahun lalu sudah dilayani setiap hari. Tak hanya itu, sejak 20 September kemarin penerbangan dari Banyuwangi–Surabaya dan sebaliknya sudah dilayani dua operator penerbangan; Merpati Nusantara dan Wings Air. Termasuk, untuk meningkatkan kelas bandara yang semakin ramai penumpang itu juga diimbangi dengan penambahan landasan pacu sepanjang 500 meter dari yang sudah ada sekarang, 1400 meter.

Perkembangan arus penumpang di bandara yang cukup signifikan itu juga diikuti naiknya pertumbuhan ekonomi. Di tahun 2009, sebelum Anas dan Yusuf menjabat, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi 6,05 persen. Di awal keduanya menjabat, tahun 2010, pertumbuhan ekonomi naik menjadi 6,22 persen. Di tahun 2011 naik lagi menjadi 6,9 persen. Kini, pada semester awal 2012 atau di tahun kedua Anas memerintah, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi naik cukup fantastis, yakni 7,22 persen, menyalip nasional yang hanya 6,4 persen.

Melejitnya pertumbuhan ekonomi itu juga diikuti meningkatnya arus investasi. Minat orang berinvestasi di Banyuwangi hingga akhir 2011 kemarin menyodok ke urutan ketiga dari 38 daerah di Jatim. Padahal, tahun sebelumnya masih berada di urutan 37. Realisasi investasi asing hingga semester I tahun 2012 menyodok ke urutan kedua di Jatim.

Bagusnya ekonomi Banyuwangi juga bisa dilihat dari penggunaan kredit modal kerja yang mencapai 63,66 persen. Padahal, di daerah lain kredit yang bersifat konsumtif lebih besar. Volume kredit perbankan di Banyuwangi mengerucut ke sektor pertanian, perdagangan, industri, dan jasa dunia usaha. Data di Bank Indonesia (BI) Cabang Jember, pada September 2012, non performing loan (NPL) perbankan Banyuwangi cukup rendah 2,32% di bawah batasan yang ditetapkan BI sebesar 5%. Berarti kemampuan membayar kredit di Banyuwangi sangat tinggi.

Sementara itu, kemajuan yang bisa dilihat secara fisik dan dirasakan masyarakat adalah perbaikan jalan. Ya, jalan-jalan rusak yang banyak dikeluhkan warga dan sering menghiasi pemberitaan di media massa, kini sudah mulus. Di tahun kedua kepemimpinan Anas-Yusuf, jalan yang diperbaiki panjangnya mencapai 250 km (APBD dan P-APBD 2012). Termasuk, memperbaiki jalan-jalan amburadul menuju tempat wisata andalan, seperti Ijen, Plengkung dan Sukamade. Padahal, tahun sebelumnya jalan yang dibangun hanya 90 Km. Banyak warga mengapresiasi dengan memasang baliho ucapan terima kasih kepada bupati.

Selain itu, program pembenahan ruang terbuka hijau (RTH) yang sudah dimulai di tahun pertama pemerintahannya, kembali diteruskan. Setelah Taman Sri Tanjung, Taman Blambangan, dan makam Pahlawan dipercantik, kini lapangan Maron, Genteng, yang dipercantik dengan taman. Taman Blambangan juga dipercantik lagi. Beberapa RTH di kecamatan dan pembatas jalan juga tak ketinggalan dibenahi. Aneka polemik renovasi RTH sempat mencuat, tapi akhirnya mereda begitu saja setelah tahu manfaatnya pasca-taman itu jadi.

Sebagai kepedulian sosial, kebijakan memberi bantuan ke tempat ibadah dan santunan kepada guru swasta, guru ngaji, para khuffadz (penghafal Alquran) dan beasiswa yang sudah dimulai sejak tahun pertama berkuasa, di tahun kedua tetap diteruskan. Bahkan, kebiasaan yang kini semakin gencar dilakukan adalah menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Hampir di setiap acara yang dihadiri bupati, ada santunan anak yatim dan fakir miskin.

Menjelang masuk tahun ketiga, Anas-Yusuf mulai intens mengenalkan Banyuwangi ke dunia internasional. Terbukti, banyak even bertaraf internasional yang mulai bulan November mendatang hingga Desember akan digelar di Banyuwangi. Mulai Parade Gandrung Sewu, Banyuwangi Jazz Festival, Banyuwangi Ethno Carnival, International Power Cross Championship, International Banyuwangi Tour de Ijen, dan Festival Kuwung.

Meski telah banyak melakukan perubahan di Bumi Blambangan, terutama di bidang ekonomi, bukan berarti duet Anas-Yusuf telah berhasil menyejahterakan rakyat. Terutama, dalam mengentas kemiskinan dan pengangguran di Bumi Blambangan. Secara riil, tidak saya temukan data angka pengangguran dan kemiskinan hingga tahun 2011, apalagi di tahun 2012. Namun, kenyataan yang bisa dijadikan parameter, beberapa industri yang diharapkan bisa menyerap tenaga kerja saat ini masih sedang dan akan dibangun.

Seperti pabrik semen Bosowa dan terminal bahan bakar LNG di Bulusan, pabrik gula termodern di Glenmore, pengalengan ikan di Muncar, kawasan industri di Wongsorejo, hotel berbintang di Kalipuro, dan masih banyak lagi. Semua masih belum terealisasi dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tapi, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), indeks pembangunan manusia (IPM) Banyuwangi mengalami peningkatan cukup tajam dari 68,8 menjadi 72,8 pada tahun ini.

Sementara itu, dari sisi kinerja pelayanan terhadap masyarakat, peran personel pemerintah belum terlalu ada kemajuan signifikan. Meski sudah ada beberapa regulasi baru yang dibuat di era pemerintahan Anas-Yusuf, tapi belum bisa menghilangkan budaya buruk lama birokrasi. Khususnya, mengenai kinerja yang lamban, birokratis, suka melakukan pungli, mark-up anggaran, kongkalikong tender proyek, dan kebiasaan minta komisi kepada pelaksana proyek.

Cepatnya langkah bupati dalam merealisasikan visi dan programnya belum bisa diikuti oleh para perangkatnya. Terutama, dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Budaya berjargon ‘’ada uang urusan lancar, tak ada uang urusan berbulan-bulan’’ masih belum bisa hilang. Bahkan, di beberapa SKPD, kebiasaan me-mark-up anggaran sudah menjadi budaya sekaligus ‘’lahan basah’’. Mereka mau memberi pekerjaan kepada pihak yang ditunjuk asal nilai kontraknya bisa di-mark-up

Cara lain, para personel di SKPD tidak lagi malu alias berani terang-terangan minta komisi kepada pihak pelaksana proyek. Persentase komisinya variatif, sekitar 10-20 persen dari nilai proyek. Kalau tidak mau diajak kongkalikong, jangan harap dapat proyek atau pekerjaan dari SKPD. Praktik semacam itu jelas tidak sejalan dengan misi pemerintah dalam menciptakan good governance and clean government.

Inilah yang patut disayangkan, bahkan menjadi catatan buruk dalam pemerintahan Anas-Yusuf. Apalagi, kritik terhadap masalah ini sudah berkali-kali disuarakan. Anehnya, mereka tetap kebal dan tebal muka alias tak punya malu. Atau mungkin nunggu ada aparat penegak hukum menghentikan permainan kotor itu?  Kalau memang tidak ingin ada aparatnya terjerat hukum, Anas-Yusuf harus cepat bertindak. Akan lebih baik ‘’rumah kotor’’ itu dibersihkan sendiri daripada dibersihkan orang lain.

Semoga memasuki tahun ketiga masa kekuasaan Anas-Yusuf yang akan dimulai besok tidak ada lagi praktik kongkalikong di jajaran SKPD. Mari kita pantau bersama demi terciptanya Banyuwangi yang lebih baik, lebih bersih, dan lebih berwibawa. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: