Jumat, 26 Agustus 2011

Pentas Seni di Jalur Car Free Day

Oleh A. Choliq Baya

WARGA Kota Banyuwangi punya alternatif lokasi baru untuk refreshing pada hari Minggu, yakni di sepanjang ruas Jalan Ahmad Yani. Ya, sejak sebulan lalu, tepatnya 24 Juli 2011, Pemkab Banyuwangi telah menetapkan Jl. Ahmad Yani sebagai kawasan bebas asap tanpa kendaraan bermotor atau car free day. Setiap hari Minggu, selama empat jam mulai pukul 05.00–09.00, seluruh kendaraan bermotor dilarang melintas di jalan protokol itu.

Penutupan jalan dalam rangka program car free day tersebut memberikan kesempatan kepada warga untuk menikmati udara bebas polusi kendaraan. Di tempat itu pula, warga bisa berolah raga, seperti senam, voli, bulu tangkis, sepatu roda, skateboard, dan bersepeda. Bisa pula jalan sehat, cuci mata dan bercengkerama bersama anggota keluarga. Sehingga, alternatif tempat hiburan dan olah raga di hari libur tidak hanya terfokus di Pantai Boom, Taman Sri Tanjung, GOR Tawang Alun, dan Taman Blambangan saja, melainkan bisa lebih variatif.

Pada minggu kedua bulan Agutus ini, saya sempat melihat dan menikmati suasana car free day di Jalan Ahmad Yani. Meski masyarakat yang memanfaatkan program tersebut tidak terlalu ramai, mungkin karena masih di bulan Ramadan, tapi suasananya cukup menyenangkan. Apalagi, saat itu saya juga bisa menikmati suguhan pentas seni dari Sanggar Seni Barong Cilik Singo Prakoso asal Kebalenan, Banyuwangi. Semua penari, penyanyi, penabuh gamelan, dan pemain barong adalah anak-anak.

Suasana tersebut, jelas terasa beda dengan program car free day yang juga marak di beberapa kota di Indonesia. Umumnya, program jalan bebas asap di beberapa kota besar, seperti Surabaya, Jakarta, Medan, Bandung dan Semarang, lebih banyak mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan. Terutama, terkait pencemaran lingkungan karena emisi gas buang yang bisa merusak lapisan ozon dan menimbulkan pemanasan global. Oleh karena itu, yang paling getol memanfaatkan program car free day kebanyakan adalah para biker sejati, baik perorangan maupun yang tergabung dalam beberapa club.

Di tempat lain, seperti di Kota Mojokerto, program car free day bisa dijadikan sebagai ajang untuk wisata kuliner. Sebab, di sepanjang Jalan Benteng Pancasila yang dijadikan lokasi kawasan bebas kendaraan bermotor, para pedagang kaki lima (PKL) menggelar dagangan seenaknya. Suasananya tak beda jauh dengan pasar senggol atau pasar malam dadakan di saat bulan Ramadan di Banyuwangi. Apalagi, kalau PKL-nya tidak diatur atau ditertibkan, pasti akan membuat suasana jalan menjadi ruwet. Lantaran pengunjung dan PKL terlalu padat, ruang untuk olah raga pun kurang terwadahi.

Berkaca dari fenomena di atas, program car free day di Banyuwangi saya kira bisa dibuat lebih variatif dengan menggabungkan beberapa unsur yang bisa membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas. Misalnya, dengan membagi zona untuk kawasan olah raga, kuliner, pentas seni, dan hiburan, dengan tetap mengedepankan ketertiban, kebersihan, dan keindahan lingkungan. Penataan dengan zona seperti di atas untuk menghindari keruwetan sekaligus bisa memecah kerumunan massa atau pengunjung sesuai yang diminati.

Mereka yang ingin fokus olah raga, sudah ada tempat tersendiri yang bisa dijadikan berlatih. Mereka yang ingin mencicipi jajanan dan makanan setelah berjalan-jalan ataupun berolah raga bisa langsung ke lokasi kuliner. Mereka yang ingin menikmati hiburan dan ingin melihat para seniman kota Gandrung pentas, bisa langsung ke lokasi yang telah tersedia. Kalau tempatnya sudah terbagi, pasti suasananya akan lebih tertib.

Meski demikian, penonjolan pentas seni budaya khas Banyuwangi menurut saya harus lebih diprioritaskan. Sebab, tampilan inilah yang bisa dijadikan ciri khas, karena sangat berbeda dengan program car free day di kota lain. Apalagi, Banyuwangi merupakan daerah yang sangat kaya seni dan budaya. Selain itu, Bumi Blambangan juga banyak memiliki sanggar seni. Sudah selayaknya kekayaan seni budaya ini dilestarikan. Salah satunya melalui pementasan-pemantasan yang bersifat kontinu. Para anak didik di sanggar seni harus sering-sering diberi kesempatan menunjukkan talentanya di hadapan publik.

Aneka macam seni budaya di Banyuwangi kalau sering kali ditampilkan, tentu akan menarik perhatian para wisatawan datang ke sini. Apalagi kalau penampilan sanggar seni itu waktunya jelas dan bisa dipromosikan menjadi satu paket wisata seperti di Pulau Bali. Peluang dan prospek ke depan cukup bagus bagi perkembangan daerah, terutama setelah ditunjang jalur penerbangan dari Surabaya ke Banyuwangi yang kini sudah bisa dilayani setiap hari.

Meski program car free day sudah berjalan satu bulan, hingga kini masyarakat banyak yang belum tahu dikonsep di Jalan Ahmad Yani itu. Sebab, sejak program car free day dimulai, tidak ada woro-woro dan sosialisasi dari Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika. Termasuk, banyak awak media massa yang tidak tahu. Sehingga, sempat menimbulkan pertanyaan apakah program itu hanya sekadar menutup jalan agar kawasan itu bebas dari asap kendaraan bermotor? Ataukah hanya ikut-ikut karena di tempat lain program tersebut memang sedang banyak mendapat apreasi dari masyarakat?

Saya yakin pasti ada misi khusus yang ingin dicapai pemerintah. Hanya saja, misi itu belum banyak diketahui khalayak. Saat melihat atraksi barong cilik di Jalan Ahmad Yani, salah seorang pengelola sanggar seni menceritakan bahwa pentas seni itu difasilitasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Rencananya, pentas seni di kawasan car free day akan dilakukan setiap minggu pertama dan minggu ketiga. Pada minggu-minggu mendatang, rencananya yang ditampilkan tidak hanya satu tapi langsung lima sanggar seni sekaligus. Mereka akan dibagi dalam lima lokasi di sepanjang Jalan Ahmad Yani.

Kalau itu yang terjadi, berarti setiap bulan akan ada 10 sanggar seni yang akan pentas pada minggu pertama dan minggu ketiga. Menurut hemat saya, pola seperti itu masih kurang tepat. Kalau ada 10 sanggar yang akan ditampilkan dalam satu bulan, kenapa tidak dipentaskan setiap minggu saja. Kontinuitas akan lebih terjaga manakala pentas seni dilakukan setiap minggu dengan menampilkan dua atau tiga sanggar seni. Dengan begitu, setiap minggu selalu ada pentas seni alias tidak pernah ada kekosongan event. Program car free day pun pasti akan selalu ramai dan berkesan. Tidak hanya bagi masyarakat Banyuwangi tapi juga orang luar. Semoga. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: