Jumat, 26 November 2010

Membangkitkan Semangat Optimis

SUDAH sebulan lebih sepekan, Kabupaten Banyuwangi dikendalikan nakhoda baru Bupati Abdullah Azwar Anas dan wakilnya Yusuf Widyatmoko. Mobilitas dan semangat kedua pejabat eksekutif dalam melakukan perubahan terhadap daerah ini boleh dibilang luar biasa. Segala tenaga, pikiran dan potensinya dikerahkan untuk melakukan terobosan bersama para stafnya. Termasuk, para stakeholder juga dilibatkan urun rembuk dalam membangun Banyuwangi. Rakyatpun banyak yang memberikan respon positif, bahkan banyak yang optimis, Banyuwangi ke depan bisa berkembang jauh lebih baik.

Apa yang saya ungkapkan di atas, tentu bukan sekedar ngecap (promosi) untuk menyenangkan hati penguasa baru, ingin cari muka atau punya tujuan dan maksud-maksud tertentu. Kenyataan yang saya tahu, memang seperti itu. Termasuk, juga masukan dari beberapa pihak yang punya kepedulian terhadap perkembangan dan merindukan kemajuan daerah ini. Beberapa diantara teman saya ada yang menyebut kalau langkah bupati di awal-awal kepemimpinannya ini langsung stel kenceng (melakukan gerakan cepat) di segala sektor. Termasuk dalam menghidupkan semangat para stafnya di birokrasi pemerintahan dan memberi harapan optimis kepada rakyatnya.

Sejak dilantik pada 20 Oktober lalu, selama hampir sepekan, bupati melakukan konsolidasi dengan para stafnya hingga larut malam. Dia ingin tahu, seperti apa jeroan birokrasi di masing-masing SKPD atau lembaga lain di Pemkab Banyuwangi, termasuk dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu juga mencari masukan dan mendata pegawai-pegawai yang penempatannya tidak sesuai dengan konsep the right man on the right place.

Tak hanya itu, kebiasaan-kebiasaan lebai di birokrasi yang selama ini dinilai merugikan masyarakat juga didobrak. Salah satunya adalah kebiasaan pengajuan RAPBD ke DPRD yang sering molor dari biasanya, sehingga penggedokan atau pengesahannya juga ikut molor. Untuk RAPBD 2011, dia bertekad pengesahannya menjadi APBD bisa dilakukan sebelum tahun 2010 ini berakhir. Karena itu, tim anggaran diminta menyiapkannya lebih serius agar kebiasaan molor dalam pengesahan APBD tidak terjadi lagi. Bahkan, agar peruntukan APBD lebih merakyat, Bupati juga mengundang para stakeholder untuk ikut memberikan masukan terhadap penggunaan uang rakyat.

Dari sini, para stakeholder banyak yang tahu rencana ploting anggaran serta program-program besar yang dicanangkan penguasa baru. Bahkan, stakeholder juga bisa mengusulkan program, meminta penjelasan atau memberi masukan di forum itu. Karena bupati juga ikut langsung dalam pemetaan RAPBD 2011 dengan para stakeholder, tentu semakin terasa lebih nyambung dalam menjabarkan program, visi dan misinya. Termasuk dalam merespon kemauan para stakeholder yang diajak untuk bersama-sama membangun Banyuwangi. Ini adalah bagian dari pembangunan partisipatori yang perlu diapresiasi dan dibiasakan agar masyarakat ikut peduli terhadap kondisi daerahnya.

Tidak hanya masalah RAPBD, agenda hari jadi Banyuwangi (harjaba) yang akan berlangsung pada bulan Desember mendatang, dan diharapkan bisa menjadi pengungkit bangkitnya pariwisata seni budaya, bupati juga mengajak bicara stakeholder. Termasuk rencana memugar pendopo agar bentuk arsiteknya bisa lebih mencerminkan nuansa khas Banyuwangi, juga mengundang stakeholder dari kalangan arsitek, budayawan, seniman dan sejarawan.

Demikian pula saat ada investor yang berminat mendirikan pabrik pengolah sampah untuk menanggulangi problema sampah yang sempat meresahkan masyarakat, bupati tak lupa mengundang pihak-pihak terkait untuk ikut menelaah presentasi dari investor. Tak ketinggalan, wartawan dan fotografer profesional dari Jakarta juga diajak saat mengunjungi beberapa potensi lokasi wisata seperti ke Pulau Tabuhan, Tanjung Kayuaking dan Taman Nasional Alas Purwo beberapa waktu lalu bersama wakil gubernur Jatim. Diharapkan, lewat foto dan tulisan di media cetak, elektronik maupun internet potensi wisata yang ada di Banyuwangi bisa terekspos ke penjuru dunia.

Masih banyak lagi agenda sharing dengan stakeholder yang digelar bupati baru. Karena saya terkadang ikut diundang di forum semacam itu, paling tidak juga tahu beberapa penggal program dan kebijakan yang dicetuskan bupati di dalam forum itu. Ditambah lagi informasi dari kawan-kawan dan berita-berita yang dimuat di harian ini. Banyak yang menaruh harapan optimis terhadap langkah-langkah yang ditempuh dan diupayakan oleh penguasa baru dalam memajukan daerah ini.

Beberapa kebijakan itu, antara lain menambah tunjangan guru mengaji dari Rp 150 ribu menjadi Rp 500 ribu per bulan. Memberi modal melalui kredit lunak dengan bunga 0 persen kepada pedagang kecil yang kondisinya kini sudah ditindas mini market modern. Untuk memberikan pelayanan masyarakat yang maksimal, bupati juga mencanangkan pembuatan KTP dalam waktu lima menit mulai tahun 2011. Dan, itupun bisa dilakukan di kecamatan-kecamatan, sehingga warga masyarakat tidak perlu lagi datang ke kantor Dispendukcapil yang ada di kota. Sebab, hal ini cukup menyiksa warga yang tempat tinggalnya jauh dari perkotaan. Termasuk untuk meningkatkan minat baca masyarakat yang ada di pelosok pedesaan, tahun 2011 nanti pemerintah sudah menganggarkan pengadaan 200 motor untuk perpustakaan keliling di desa.

Kran investasi juga dibuka lebar-lebar, termasuk aparatnya juga diminta untuk mempermudah perizinannya. Bupati juga berjanji membuka diri 24 jam bila ada investor yang ingin bertemu langsung membahas rencana investasi di Banyuwangi. Investasi yang sebelumnya sempat tersendat seperti pendirian pabrik pengolahan sampah dan pengelolaan Pulau Tabuhan sebagai tempat wisata, kini mulai cair dan hampir realisasi. Selain itu juga sudah ada pembicaraan dengan investor baru yang ingin membangun pabrik gula di Glenmore dan membangun gudang supplier electronical mekanical bahan pedak untuk pengeboron minyak di Wongsorejo.

Langkah stel kenceng dengan beberapa terobosan dan kebijakan baru yang dimotori penguasa baru, mungkin sebagian pihak menganggapnya sebagai hal yang wajar. Sebab, tugas seorang pemimpin memang harus seperti itu. Di lain pihak, orang-orang yang tidak suka ataupun tidak sevisi dengan pemimpin baru, tentu memandang sinis. Segala sepak terjang dan terobosan yang dilakukan, dianggapnya hanya mencari perhatian, mencari sensasi, melakukan pencitraan diri atau hanya untuk menyenangkan pendukung ataupun pihak-pihak tertentu saja.

Terlepas suka tidak suka ataupun adanya perbedaan visi dengan penguasa baru, bagi saya urgensitasnya bukan terletak pada orang yang mempelopori atau melakukan terobosan. Hakekat utamanya menurut saya ada pada komitmen, kepedulian dan gerakan menjadikan Banyuwangi ke depan bisa menjadi jauh lebih baik. Artinya, setiap upaya positif untuk memajukan Banyuwangi harus didukung. Dan, komitmen itu harus terpatri dalam jiwa dan raga rakyat Banyuwangi, terutama juga harus melekat pada mental aparat pemerintah kita.

Karena itu, memulihkan semangat dan kepercayaan aparat pemerintah dan rakyat untuk memiliki jiwa optimis dalam membangun Banyuwangi ke depan, sebenarnya bukan hal yang mudah. Lebih-lebih melihat kondisi pemerintahan sebelumnya yang banyak digoyang aksi demo guru, tidak harmonisnya dengan jajaran pemerintah di tingkat provinsi dan buruknya pelayanan birokrasi terhadap investor maupun masyarakat. Termasuk masih maraknya pungli di instansi-instansi tertentu, membuat citra Banyuwangi sedikit ternoda.

Harapan saya, aneka terobosan melalui program, kebijakan dan langkah-langkah yang kini dilakukan penguasa baru bisa membangkitkan semangat dan optimisme warga dari tidur panjangnya untuk kembali berpartisipasi membangun Banyuwangi. Bila program dan kebijakan yang telah dicanangkan penguasa baru nanti tidak ada bukti nyatanya, kita wajib menagihnya. Dan, tentunya hal itu juga akan merusak kredibilitas penguasa baru. Kalau itu yang terjadi, maka rakyat akan kembali kehilangan kepercayaan terhadap pemimpinnya. Jangan salahkan rakyat kalau akhirnya bertindak sesuka hatinya bila tidak ada umaro yang tidak bisa dipercaya. Semoga hal ini tidak terjadi di Bumi Blambangan. (cho@jawapos.co.id)

Tidak ada komentar: