Senin, 08 November 2010

Mimpi Indah Banyuwangi Go International

BUMI Blambangan begitu indah nan mempesona. Pemandangan alamnya yang banyak didominasi laut, kebun, gunung dan hutan, terhampar sangat eksotik, cukup menyejukkan mata dan menentramkan jiwa. Ditambah lagi potensi seni budayanya yang beraneka ragam, membuat daerah ini ‘’kaya warna’’. Sebab, sering kali saya menjumpai ada acara adat, tradisi atau budaya unik di daerah ini yang jarang saya temui di daerah lain. Selain menarik ditonton, juga membuat saya penasaran, karena ingin tahu latar belakang sejarah, visi ataupun makna filosofi dari aneka tradisi seni budaya itu.

Sebagai orang baru di Banyuwangi, kekayaan budaya dan potensi alam Banyuwangi bagi saya sangat menakjubkan. Dengan potensi yang dimilikinya itu, sepertinya sangat mudah mengangkat daerah ini menjadi dikenal luas ataupun go international. Apalagi, bumi Blambangan ini juga cukup dekat dengan Pulau Bali yang sudah banyak dikenal dunia karena potensi wisata alamnya. Seharusnya para wisatawan mancanegara yang ada di Pulau Dewata itu bisa kita tarik untuk melancong ke sini.

Sayangnya, peluang itu kurang bisa dimanfaatkan atau belum dibidik secara serius oleh Pemkab Banyuwangi. Serius yang saya maksud di sini, tentu bukan hanya sekedar mencari akses ataupun link dengan pegiat wisata yang ada di Pulau Dewata atau di daerah lain, tetapi yang lebih utama adalah kepedulian pemerintah terhadap obyek wisata dan budaya yang dimiliki. Kalau saya boleh menilai, perhatian pemerintah terhadap dua obyek itu sangat minim alias ala kadarnya.

Berbagai tempat wisata alam yang ada di Banyuwangi hampir tak ada yang dipoles untuk bisa tampil cantik dan memikat pengunjung. Termasuk kelengkapan fasilitas, sarana dan prasarananya. Juga even-even pendukung yang bisa memikat turis. Kalau toh ada even seni budaya, skalanya kecil dan lebih banyak hanya menjalankan tradisi alias tidak didukung secara optimal oleh pemerintah. Saya juga tidak pernah tahu ada yang mempromosikan secara intens obyek wisata di sini ke dunia luar, lebih-lebih yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

Kalau saya amati hamparan pantai nan eksotik yang sering dijadikan tempat jujugan para pelancong lokal maupun manca negara di Banyuwangi, umumnya tampak kotor penuh sampah. Diantaranya pantai di wilayah timur seperti Boom, Cacalan, Watudodol, Waru Doyong, Blimbingsari, Muncar dan beberapa tempat lain. Di situ tidak ada tempat sampah atau fasilitas MCK yang memadai, apalagi petugas pengaman pantai. Termasuk beberapa pantai di wilayah selatan dan tempat pemandian alami yang ada sungai maupun air terjunnya kondisinya juga sama. Baik yang ada di kawasan taman nasional, areal perkebunan maupun di kawasan hutan. Kesan yang serba ‘’minimalis’’ dan jorok itu, tentu sangat tidak memikat pelancong untuk datang ke sana. Kalaupun sudah telanjur datang, pasti mereka merasa neg dan tak bergairah lagi untuk kembali ke sana.

Sebenarnya, beberapa tempat wisata di sini namanya sudah ada yang go international. Bahkan, para turis manca negara juga banyak yang datang ke sana, di antaranya Gunung Ijen dan pantai Plengkung yang ombaknya cukup bagus untuk berselancar. Sayangnya, perhatian pemerintah terhadap lokasi wisata ini kurang optimal. Misalnya sarana jalan menuju Gunung Ijen yang rusak parah, tak juga tersentuh perbaikan. Padahal, banyak wisman yang mendaki ke Ijen lewat jalur Banyuwangi dari pada Situbondo. Sebelumnya. Para turis itu menginap di beberapa hotel di Banyuwangi, panginya baru berangkat ke Gunung Ijen.

Kondisi prasarana yang sama juga terjadi pada jalan menuju Pantai Plengkung. Bahkan, beberapa penginapan yang ada di pantai ini, umumnya bukan milik orang lokal melainkan dari Bali dan orang bule. Kalau pemkabnya bisa membaca peluang untuk bisa mendongkrak PAD, seharusnya juga bisa memanfaatkan peluang yang ada. Salah satunya yang belum ada di kedua lokasi wisata ‘’internasional’’ ini adalah tempat kuliner dan penjualan cindera mata. Dan, lewat cendera mata khas bernuansa lokal Banyuwangi diharapkan juga bisa jadi media promosi untuk memperkenalkan Bumi Blambangan go international.

Di sektor seni budaya, perhatian pemerintah juga kurang menggembirakan. Kekayaan dan keragamaan seni budaya kurang bisa ‘’dijual’’ secara optimal untuk memikat para pelancong datang ke sini sekaligus memantapkan Banyuwangi sebagai gudangnya seni budaya. Padahal, dulunya seni budaya asal daerah ini sangat dikenal dan seringkali diminta tampil di acara-acara yang digelar pemerintah pusat maupun provinsi. Kenapa sekarang loyo, bisanya hanya tampil di kandang sendiri, itupun gaungnya sangat kecil karena banyak yang tidak didukung oleh anggaran pemda. Bahkan, beberapa pegiat seni budaya akhirnya protes ke pemkab karena tidak mendapat kucuran dana seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi ini secara tidak langsung menyurutkan semangat para seniman dan budayawan untuk lebih intens dalam menampilkan karyanya. Termasuk terhadap warga masyarakat yang selama ini masih peduli menggelar tradisi budaya yang dulunya pernah dilakukan oleh nenek moyangnya ataupun untuk mengenang kebiasaan para leluhurnya. Karena begitu banyaknya ragam seni budaya di sini, saya tidak bisa banyak menyebut namanya. Apalagi menjelaskan latar belakang sejarah maupun makna filosofi dari aneka seni budaya, tradisi maupun agenda ritual yang ada di sini.

Meski demikian, ada beberapa seni budaya asal daerah ini yang terbilang cukup punya nama besar dan melegenda. Misalnya tari Grandrung, Seblang, Kuntulan, Kebo-keboan, Jaranan, Barong Ider Bumi, Ndogdogan dan Petik Laut. Ada pula ritual budaya di beberapa desa pada momen tertentu yang juga cukup menarik perhatian dan layak ‘’dijual’’. Misalnya beberapa agenda tradisi budaya yang berlangsung pasca lebaran Idul Fitri seperti tradisi Seblang di Desa Olahsari, Glagah. Ada pula adat gelar Pitu di Dusun Kampung Baru Desa Glagah. Juga tradisi Puter Kayun yang dilakukan keturunan Martajaya berupa napak tilas pembangunan jalan dari Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri menuju pantai Watudodol Kecamatan Kalipuro.

Banyaknya seni budaya dan tempat-tempat wisata alam yang dimiliki daerah ini tentu menjadi modal yang cukup besar untuk mendongkrak nama Banyuwangi agar lebih dikenal ke seantreo dunia. Termasuk potensi besar itu juga kita harapkan bisa menarik investor sekaligus menambah pundi-pundi PAD Banyuwangi. Tentu saja kalau semua itu ada kepedulian yang cukup dari pemerintah serta dikelola secara optimal dan profesional.

Untuk memulai langkah ke arah sana, pemerintah harus membuat program prioritas dengan fokus mengangkat satu atau beberapa obyek wisata dan seni budaya yang benar-benar layak bisa ‘’dijual’’. Sekaligus, juga disiapkan untuk dijadikan ikon wisata dan budaya Banyuwangi yang nantinya bisa mendunia. Cara mengemaspun dicarikan format, lokasi dan waktu yang tepat agar agenda besar itu benar-benar bisa diminati dan hadiri banyak wisatawan, serta hasilnyapun bisa menambah PAD.

Dengan potensi wisata dan budaya yang begitu banyak, rasanya tidak terlalu sulit untuk mewujudkan agenda besar bernuansa wisata dan budaya Banyuwangi. Sebagaimana Kabupaten Probolinggo punya agenda tahunan dalam bentuk tradisi upacara ‘’Kasodo’’ di Gunung Bromo. Jember punya even akbar bertajuk ‘’JFC’’ (Jember Fashion Carnaval) yang mulai banyak dihadiri wisatawan mancanegara. Kota Pahlawan punya agenda khusus untuk memacu roda perekonomian bernama ‘’Surabaya Big Sale’’ setiap meyambut hari jadinya, dan masih banyak lagi agenda besar yang dimiliki daerah lain.

Apalagi akses jalan dari luar kota Banyuwangi seperti dari Jember, Bali dan Situbondo juga semakin mulus. Ditambah lagi kalau pemerintah bisa secepatnya merealisasikan pengoperasian lapangan terbang Blimbingsari yang kini sudah mendapat izin untuk penerbangan komersial. Dan, juga akan lebih dahsyat lagi, bila pemkab mampu merealisasikan pengoperasian pelabuhan peti kemas yang sudah didukung Pergub Jatim: jalur keluar masuk peti kemas di wilayah Jatim harus melalui pelabuhan Tanjung Wangi. Tentu akan semakin banyak investor maupun wisatawan yang datang.

Bila itu semua berhasil ‘’diberdayakan’’, saya yakin Banyuwangi pasti bisa lebih maju dan go international. Harapan kita semua, ‘’mimpi indah’’ itu bisa diwujudkan oleh bupati baru yang rencananya akan dilantik pada bulan depan. Tentu dengan dukungan yang optimal dari segenap elemen masyarakat. Semoga. (cho@jawapos.co.id)

*) Radar Banyuwangi, 23 September 2010

Tidak ada komentar: